Rabu, 28 Oktober 2020

Day 28 Writing Challenge: Write About Loving Someone

             Mencintai seseorang itu menurut gue harus dimulai dengan mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Ini penting. Banyak orang yang masuk ke suatu hubungan percintaan tanpa mencintai dirinya sendiri. Itu bahaya, karena nanti ada kemungkinan lu akan menyakiti diri lu sendiri demi membuat si pasangan bahagia. Sebelum masuk ke suatu hubungan, lu udah harus tau dulu apa sih yang ngebuat lu nyaman, dan apa sih yang ngebuat lu ga nyaman? Lu juga harus tau dulu apa yang lu mau dan apa tujuan lu mencintai seseorang ini. Ketika lu udah tau semuanya dan sudah bulat untuk masuk ke suatu hubungan, baru deh lu harus bisa mengomunikasiin apa yang tadi udahlu ketahui.

            Itu sebelum lu masuk ke suatu hubungan. Nah kalo udah mencintai seseorang dan masuk ke suatu hubungan, langkah berikutnya ya lu harus tau cara untuk mencintai si pasangan. Maksudnya gimana? Ada yang namanya love language. Mau bagaimanapun metodenya, yang namanya love language ini nyata keberadaannya. Ketika mencintai seseorang, selain mencintai dia dengan cara kita, kita juga harus mencintai dia dengan caranya dia. Kalau kita mencintai dia hanya dengan cara kita, itu namanya egois.

              Terakhir mungkin lu juga harus tau bahwa yang namanya mencintai seseorang itu penuh dengan pengorbanan. Love is not about taking, it is about giving. Kalau ini berlaku dua arah, niscaya sih kalian gaakan kehilangan apapun. Mencintai seseorang itu juga berarti lu harus kompromi sama idealisme lu. Kompromi ini juga penting, karena balik lagi, kalo ga kompromi ya itu namanya egois. Oiya, dan juga komitmen sih.

Day 27 Writing Challenge: Someone Who Inspire Me

             Bicara soal tokoh inspiratif pasti banyak banget ya. Ada yang berada di lingkungan terdekat lu, atau mungkin ada yang berada jauuuuh dari sekitar lu yang mana mungkin lu cuma kenal lewat buku. Bicara soal siapa tokoh yang menginspirasi gue, gue harus angkat topi dan bilang bahwa salah satu orang yang sangat inspiratif buat gue adalah Pak Edgar Ekaputra. Gue yakin yang membaca tulisan ini pasti bertanya-tanya, siapakah gerangan. Dan sebenarnya wajar kalau kalian bertanya-tanya, karena beliau bukanlah seseorang yang lazim untuk diketahui oleh orang awam. Walopun demikian, di dunia beliau, beliau merupakan orang yang sangat terkenal. 

              Beliau merupakan dosen gue saat gue ngambil program S2. Saat ngajar waktu itu, posisi beliau menjabat sebagai Executive Director dari Ernst & Young Indonesia. Dan kalau kalian liat pengalaman kerja beliau, gue jamin kalian pasti berdecak kagum karena pengalaman kerja beliau ga main-main. Seinget gue di awal karir beliau, beliau udah kerja di JP Chase Morgan. Dengan pengalaman kerja yang cukup mengerikan tersebut, beliau orangnya sangat ramah dan down to earth. Dandanannya ketika ngajar juga tidak necis. Beliau sempat bilang bahkan kaca mata beliau hanya seharga lima belas ribu, membuat gue tersipu malu dengan kaca mata gue yang terbilang mahal ini. Sejak pertama kali denger beliau bicara di depan kelas, gue langsung tau bahwa gue pasti bakal seneng dan bisa terbuka untuk ngobrol sama beliau. Beliau pun juga ga ragu-ragu untuk ngasih ilmunya secara cuma-cuma. Ilmu yang diberikan pun tidak hanya hard skill, tapi juga soft skill. Dengan segala kehidupan yang gue yakin sangat sibuk tersebut, beliau bahkan tidak pernah telah untuk hadir di kelas di hari Sabtu. Salut!

Day 26 Writing Challenge: Your School

             Bicara soal sekolah, udah pasti banget harus ngomongin masa-masa SMA. Masa-masa SMA tu masa-masa keemasan banget ga sih? Belajar di kelas juga isinya bercanda doang. Kemana-mana pake putih abu-abu ngerasa udah paling jagoan lah kemana-mana. Buat gue masa-masa SMA gue sebenarnya cukup membosankan. Sejak kecil gue bukan tipe siswa yang rebel. Gue ga pernah bikin masalah sama guru atau siswa lain, sesuatu yang sebenernya gue sesali sih sekarang. Soal pergaulan juga gue bukan tipe yang bandel. Waktu SMA ketika yang lain lagi nyoba-nyoba sana sini, gue engga tuh. Gue ga ngerokok, ga dugem, dan ga minum alkohol (karena minum alkoholnya pas SMP) hahaha. Soal pelajaran pun gue bukan tipe yang pinter banget gitu lah, walopun tetep sepuluh besar seinget gue. Ini yang kemudian gue sesalin, karena sebenernya gue tu bukan yang terpelajar banget, dan gue ga yang nongkrong banget. Jadi gue ada di tengah-tengah lah.

        Bicara masa SMA juga berarti bicara soal keluarga kedua gue. Dan gue bilang ini bukan sembarangan, karena emang bisa dibilang saat itu tuh di Labschool kalo udah ngegeng, yaaaa jadi deket banget berasa kayak keluarga sendiri. Tagline sekolah gue aja udah "Labschool Rumah Keduaku", yaaa artinya kita di situ sekeluarga. Ga juga sih hahaha gue ga kenal sama senior/junior. Intinya di Labschool gue menemukan semacam keluarga kedua. Gue nemu orang-orang yang kepada mereka gue bisa cerita apapun, mau itu soal percintaan lah, soal karir lah, soal kesehatan mental, dan lain sebagainya. Sesuatu yang ga bisa gue ceritain bahkan ke keluarga gue sendiri.

Senin, 26 Oktober 2020

Day 25 Writing Challenge: Something Inspired of the 11th Image on Your Phone

             Kebetulan foto kesebelas yang ada di album foto smartphone gue adalah foto Sabtu lalu ketika bertemu dengan salah satu teman yang sekarang sedang menjabat sebagai Wasekjen PPI Belanda. Sebetulnya waktu ngajak bertemu pun ga ada ekspektasi apapun, dan memang hanya ingin vibing and chill, mengenang masa-masa waktu les bahasa Jerman. Tapi ternyata waktu ngobrol pun gue cukup takjub dengan pemikiran-pemikiran yang dia lontarkan. Cukup takjub juga bahwa dia ternyata melek dengan isu-isu strategis yang saat ini sedang beredar, padahal di Belanda dia ngambil jurusan ekonomi dan bisnis. Bagi kalian mungkin gaada yang inspiratif dari cerita tersebut, namun sebenarnya obrolan kami sangat inspiratif.

Day 24 Writing Challenge: Write About A Lesson You've Learned

            I've learned that happiness isn't something that you can buy. I've learned that happiness is when you feel enough. You can have a salary around 30 mio per month but still feel depressed. You can have an established company yet you still feel like you're at your all time low. You can have the most beautiful/handsome person as your significant other and still feel lonely. It's all possible. 

            I've learned that people should look after themselves, to be happy by themselves, to be comfortable by themselves. That people shuld be aware of what makes them happy.

            I've learned that communication is key, and ego will leads you nowhere. When you feel uncomfortable, just speak. If you feel ill, just speak. If you love someone, communicate. If you're seeking for help, ask. Don't ever feel small when you seek for help, because you are human after all.

            I've learned that forgiving someone is easier than forgiving myself. But we are human thus we make mistake. Making mistake is what makes us human, so don't be afraid to make mistake.

Sabtu, 24 Oktober 2020

Day 23 Writing Challenge: A Letter to Someone, Anyone

             I really just want to make a banter and writing a cover letter here for any talent recruiter lol but nope.

               Dear my future partner,

            What were you thinking choosing me as your partner? Lol. On a serious note, I just want you to know that I am such a mess. I've got a big scar that I myself don't know how to recover from in. Or when to be honest. I have to bear the consequences of my wrong doing, maybe forever. But you don't have to and yet you're still here. Therefore I'll be here too whenever you needed me.

               Thank you. 

Day 22 Writing Challenge: Write About Today

             Karena gue nulisnya telat lol gue akan tetap nulis apa yang terjadi di tanggal 22 Oktober 2020. 22 Oktober itu jatuh di hari Kamis. Hari itu sebenernya harusnya menjadi hari yang biasa saja. Berangkat ke kantor, kemudian nonton Netflix di kantor, lalu pulang. Tapi ada sesuatu yang mungkin engga terlupakan buat gue. Pagi itu ketika di perjalanan ke kantor, sahabat gue berkabar di grup WA bahwa dia baru saja kena begal. Pagi itu memang dia ada kegiatan bersepada sendirian. Panik, gue langsung coba menghubungi dia. Ga diangkat. Gue coba telfon terus, selalu direject. Masih shock katanya, suatu hal yang sangat maklum. Cukup panjang untuk diceritakan detilnya seperti apa, namun sahabat gue ini dibegal bukan di tempat yang sepi dan bukan di tempat yang gelap, sesuatu yang merupakan anomali dalam melakukan kejahatan. Singkat cerita, upaya pembegalan tersebut tidak berhasil karena barang rampasannya itu jatoh ke jalanan dan ditemukan oleh orang yang bertanggung jawab. Satu hal yang gue syukuri adalah sahabat gue ini ga sampai ditodong senjata tajam. Sampai saat ini dia baik-baik saja.


            Buat kalian yang sekarang ini sedang hobi bersepeda, sebisa mungkin hindari deh bersepeda sendirian, apalagi buat perempuan.

Rabu, 21 Oktober 2020

Day 21 Writing Challenge: Write About LOVE

Cinta itu bukan sebuah frasa

Cinta merupakan apa yang kamu rasa

Dan bagaimana kamu mewujudkannya

 

Cinta itu bagaikan jarum-jarum kecil yang masuk ke kepala mu

Untuk diam-diam mengurangi fungsi otakmu

Tapi cinta juga merupakan jarum-jarum kecil

Yang akan merajut kembali luka-luka itu

 

Cinta akan membuatmu ingin hidup 1000 tahun lagi

Namun cinta pula yang akan membuat mu ingin mati sore nanti

 

Cinta tanpa daya adalah omong kosong semata

Cinta tanpa rasa adalah sebuah tipu daya

 

Aku tidak pernah mengerti cinta

Ah, mungkin itu salahnya

Aku terlalu terpaku untuk mencari tahu

Apa itu cinta

Hingga aku lupa

Bahwa sebenarnya aku tidak perlu mengerti cinta

Aku hanya perlu memahami dia

Dan ada untuknya hingga waktu ku tiba


Day 20 Writing Challenge: Your Celebrity Crush

 ce·leb·ri·ty                

/səˈlebrədē/
noun
  1. a famous person.
    "a celebrity chef"

crush
/krəSH/

noun

        INFORMAL
 a brief but intense infatuation for someone, especially someone unattainable or inappropriate.
"she did have a crush on Dr. Russell"

        Oke karna gue bingung makna dari selebriti itu apa, kita pake konteks definisi dari google translate ya. Bicara tentang seorang yang terkenal ini sangat luas ya jangkauannya, bisa siapapun asalkan orang tersebut dikenal oleh banyak orang. Kemudian karena konteksnya itu "crush", I'm assuming it has to be a woman because I'm a heterosexual. Kalo bicara celebrity crush yang sekarang banget, tentu saja gue akan milih Jacinda Ardern. Mungkin dari kalian yang baca akan sedikit bertanya, siapakah beliau? Namun gue yakin juga pasti udah mulai banyak yang tau. Jacinda Ardern merupakan Perdana Menteri terpilih dari New Zealand. Gue ga tau apakah beliau terpilih lagi, tapi sepengetahuan gue ketika gue menulis ini, beliau masih menjabat. Kenapa gue mengidolakan beliau, ialah karena beliau merupakan satu-satunya pemimpin pemerintahan yang berhasil membasmi Covid-19 dari negaranya. Memang perlu diingat bahwa New Zealand merupakan negara kecil yang penduduknya jumlahnya tidak seberapa, tetapi harus diingat bahwa banyak juga kok negara kecil yang tidak bisa menyelesaikan masalah Covid-19 ini.

        Selain keberhasilan beliau dalam membasmi Covid-19, beliau juga ternyata banyak menorehkan prestasi saat menjabat sebagai Perdana Menteri. Gue ga bisa sebutkan satu-satu, tapi kalo kalian liat akun Instagramnya beliau, beliau sempat menyebutkan prestasi-prestasi apa saja yang ditorehkan oleh beliau selama menjabat. And because I'm attracted to human intelligence, seeing her just make me wanna fall in love again. To her of course hahaha.

Senin, 19 Oktober 2020

Day 19 Writing Challenge: My First Love

            I feel like I've wrote about this too many times lol so I'll just tell you things that I haven't tell you yet.

            It all started in around last quarter of 2015 I think. I was participating as a committee in an event which held by my faculty, called JAMS. It was held in Gandaria City Parking Lot. Honestly I was taking no part of that event, but my friend called in and he said he needed my help, so I delivered. Anyway I've got no friends in that event, other that the one that said needed my help of course. And I'm not a chatty one, so yeah I just wanted to come and be helpful to the event.

            Fast forward, the sun was setting, the crowd was starting to fill the spaces, and we were slowly but surely getting to the end of the show. People are drowning in euphoria. I was just there, standing alone in the crowd, making sure that the show was complying to the schedule. When I was standing there, I see a girl, at that time I didn't know who that is. But I'm sure she is one of my junior in college. I was staring at her and got me thinking; "She's cute". The only problem was that I didn't have any courage to come and talk to her. So I just looking at her id and saw her name. Oh her name is Cindy.

            It wasn't hard to find her Line account, because we were in the same group. I added her, and do nothing. Why? Because I didn't have the guts to say hi. So my plan was just staring at her and admire her appearance. I like her appearance, somehow. She is pretty and cute.

            Fast forward again, I was so shocked to see that she greeted me first, asking about random thing, at late night. From there, we chatted a lot. At our first "date" it was so awkward because she knew that I was his senior in college. It took me like a-good-4-month for me to finally ask her to be my +1, and it took her a-good-2-week to reply.

            The rest is easy, I wrote it everywhere. I cannot say that our time was the best, but we had our moment. We got through a lot, because I was too emotional. Well sorry, I was still very young and I don't know how to do things, and I was her first boyf as well. I cannot speak for her but I enjoyed our time when we get together, apart from our fights. I really like her because she laugh at my jokes, she is caring, and she really paying attention to details. But I was too blind and to young to see that.

            She is my first love because it was my first time I really care about someone, the first time I told myself that I want to make her my priority. But it's a shame that I cannot show her my intention clearly. 

Minggu, 18 Oktober 2020

Day 18 Writing Challenge: Thirty Facts About Myself

         It's hard, but I'll try my best.

1. The M in M. Hanggono is actually doesn't have any meaning and it is not an abbreviation of anything. It's just M.

2. An extrovert but not an easy going person.

3. Have short attention span

4. My two choices of fashion sense: all dark/black or bright and contrast colors

5. Support Greece in national level and Liverpool in club level because I started watching football in 2004/2005

6. Once regretted taking financial management for my master program, but now I embrace it

7. Have a trauma from my previous relationship

8. Can argue about anything, literally anything

9. I have learned 5 foreign languages: English, French, Arabic, German, Dutch but I have master none of them

10. Haven't wash my jeans for like a year or two I think

11. Don't have driving license

12. I judge people, I just don't say it out loud

13. Once participated in Shalat Competition, eleminated in final round I think

14. I don't care what people say, but my behavior is heavily influenced by my best friend

15. I don't wear any short when I go to sleep

16. A straight edge

17. I started drinking alcohol when I was in JHS and stopped since then

18. Never actually try cigarette

19. Very stingy when it comes to clothes, games, phone or any goods, but royal when it comes to foods

20. Value honesty

21. Enjoy outdoor activities

22. NOT. BE. ABLE. TO. SWIM. IS. NOT. A. SIN.

23. Very stubborn; I believe that I am right until I was logically or scientifically proven wrong

24. Actually stubborn runs in my family, so

25. Always get emotionals when talking about my dad, granddad

26. The idea of getting married is not actually scared me, what scared me is the drama which comes along with it

27. Hate this current government

28. Allergic to chocolate; It gives me vertigo

29. Don't like wearing watch

30. Love karaoke

Day 17 Writing Challenge: Ways to Win My Heart

         Hahaha ini sebenernya cukup sederhana sih, namun yaaa rumit. Ini bicara untuk konteks perempuan ya. Gue paling tertarik tuh paling utama sama perempuan yang ngerti dengan selera humor gue. Karena sebenarnya selera humor gue itu niche parah, jadi hanya segelintir yang ngerti. Kalo selera humor udah sejalan, gue liat seberapa besar daya tangkap lu terhadap sesuatu. Ga harus paling pinter atau harus tau semuanya, tapi at least cerdas lah. Setidaknya wawasan luas laaah jadi kalo diajak ngobrol soal yang serius itu juga nyambung. Karena sebenarnya gue ini orang yang random, kadang melucu akan sesuatu yang ga lucu, tapi kadang juga bahas sesuatu yang amat serius, misal terkait keberlangsungan Negara hahaha. Kemudian yang ngebikin gue kepatil itu kalo dia bener-bener merhatiin sama sesuatu yang gue omongin, yang bahkan gue aja kadang lupa kalo gue ngomong itu. Kayaknya ketiga itu sih yang paling utama. Sederhana kan? Hahaha. Oh iya, yang terakhir harus banget tuh udah dewasa.

Day 16 Writing Challenge: Someone I miss

             Tentu saja ketika bicara dalam konteks pandemi, kita pasti akan merindukan beberapa dari kerabat, atau mungkin keluarga. Aku pun demikian. Namun aku cukup beruntung bahwa orang-orang yang aku butuhkan tidak terlalu takut terhadap penyakit itu. Aku masi bisa bertemu dengan mereka mungkin hampir tiap minggu. Setidaknya bagi ku, orang-orang yang aku butuhkan itu masih bisa aku temui secara rutin.

             Namun apabila kita bicara dalam konteks keadaan normal, tentu saja aku merindukan banyak orang. Di antaranya mungkin adalah pasangan emas dari zaman kuliah, yakni Thomas dan Khosyi. Dua orang itu bisa banget membuatku tertawa lepas bahkan seketika setelah aku membuka mata di pagi hari, dengan lelucon pukul tiga pagi mereka. Kadang aku tidak mengerti apa yang mereka lakukan hingga dini hari, dan bagaimana mereka terpikir untuk bercanda seperti itu ketika yang lain sedang sibuk dengan mimpi-mimpi mereka.




and I still miss u, C. I'm still waiting for that museum date tho.

Kamis, 15 Oktober 2020

Day 15 Writing Challenge: If You Could Run Away, Where Would You Go?

             Easy. Switzerland. Or New Zealand. Or Canada. Because of the peacefulness they're offering. I'm just tired of this country. Get me out of here pls.

Day 14 Writing Challenge: Describe Your Style

             Well this is gonna be a quick one. I am a t-shirt guy. Most of them are black or dark color. I only have one active jeans, the rest sit tightly in my wardrobe. I rarely wash it tho because everytime I wash it it always bleeds blue. I often choose to wear my Birkenstocks rather than shoes because it is just so simple. Bright kimono is my choice to go as an outer. I don't wear watch, I don't use pouch, I don't use any hair treatment, and that's it I'm ready to go. Oh and during this pandemic I carefully choose my mask because I still want to look good with my mask on. These are literally me in my zone.

Day 13 Writing Challenge: Favorite Book

             I'm really excited in writing this, because the book that I'm about to tell you is very sick and very inspiring. Sebenernya kalo ditanya buku favorit yaaa ada banyak. Tapi satu buku spesifik ini gue suka banget karena pembahasannya kadang lebih mendalam. Buku yang gue maksud adalah Iacocca: An Autobiography. Kenapa gue bisa sampe suka buku otobiografi itu kalo gasalah udah pernah gue jelasin di beberapa postingan yang lalu, tapi kalaupun ternyata belum hahaha gue jelasin sekarang deh. Gue awalnya ga tertarik buku otobiografi. Seinget gue sebelum tahun lalu, gue ga pernah baca otobiografi seseorang sama sekali. Sampai di suatu titik gue pernah mendengar/membaca bahwa kalo kita mau belajar dari seseorang yang kita kagumi itu ya kita baca otobiografinya, karena disitu kita bisa belajar bagaimana seseorang memulai kisah suksesnya, bagaimana orang tersebut menyelesaikan masalah yang bertubi-tubi mengahadangnya, dan bagaimana orang tersebut bangkit dari keterpurukan. Kita pun bisa belajar dari kesalahan-kesalahan mereka agar kita tidak melakukannya di kemudian hari.

            Sampai tahun lalu gue engga tahu siapa itu Lee Iacocca. Bahkan kemungkinan besar yang ngebaca ini pun gatau siapa kah gerangan Lee Iacocca. Gue baru tau ada sosok yang namanya Iacocca pun baru setelah nonton Ford vs Ferrari. Di film tersebut ada sosok Lee Iacocca yang diperankan oleh John Bernthal. Kenapa kemudian gue tertarik sama sosok ini pun gue masih gatau, karena kalo kalian nonton filmnya, Lee Iacocca ini ga memiliki peran yang menonjol. Kasarnya mungkin hanya supporting actor aja lah. Tapi di situ gue yakin ni orang bukan orang sembarangan.

            Setelah gue baca bukunya, gue pun baru tau bahwa Iacocca itu emang memulai karirnya dari Ford. Ford ibarat rumah untuk Iacocca. Di Ford Iacocca benar-benar mulai dari bawah sampai akhirnya menjadi orang nomor 2 di Ford, setelah Henry Ford II tentunya. Di Buku ini dijelaskan bagaimana Iacocca memanjat tangga korporasi dengan memulai menjadi seorang salesman. Dijelaskan bagaimana cara menjual mobil yang baik pada masa itu. Di buku ini juga dijelaskan bagaimana sampai akhirnya Iacocca keluar dari Ford dan beralih ke perusahaan otomotif yang sedang berada di titik nadir, yakni Chrysler. Nah cerita bagaimana Iacocca membangkitkan Chrysler ini lah yang kemudian seru banget dan membuat gue memilih buku ini sebagai buku favorit gue so far. Di bagian ini hampir dijelaskan secara detil bagaimana strategi Iacocca dalam membangkitkan Chrysler dan bagaimana Chrysler kemudian menjelma menjadi salah satu kompetitor terbesar Ford saat dipegang oleh Iacocca.

Senin, 12 Oktober 2020

Day 12 Writing Challenge: Favorite TV Series

             TV series favorite gue sebenernya selalu berganti sih. Dulu banget gue suka tuh Big Bang Theory. Kemudian somehow gue mulai sadar bahwa itu series tu sebenernya ga lucu, dan gue ketawa karna laugh tracknya semacam memberi sinyal bahwa adegan itu dimaksudkan untuk lucu. Setelah sadar itu, gue ga lanjut nonton sampe tamat. Kemudian ada tuh favorit gue namnya The Mentalist. Buat yang gatau apa itu The Mentalist, basically The Mentalist itu TV series yang sejenis dengan Sherlock, dimana si tokoh protagonisnya ini jago banget bikin analisa dan deduksi bahkan dengan informasi yang sangat terbatas. Nah gue nonton ini sampe tamat nih, tapi season terakhirnya semacam dipaksakan untuk berakhir di season tersebut karna kalo gasalah they got cancelled. Kelar The Mentalist, gue beralih nyoba nonton Friends dari awal. NAH INI MANTEP BANGET NIH! Jokes nya nyampe banget di gue karna memang gue orangnya sarkas banget kan. Alur ceritanya juga nyampe dan cukup membuat gue ikut hanyut di dalamnya. Pokoknya nonton series ini isinya kebanyakan sih ketawa doang lol walopun ada sedih dan ada harunya. Selesai nonton Friends, fast forward ke tahun ini gue sempet ke hook sama Money Heist gegara emang hype banget nih series. Money Heist ini sebenernya keren banget, cuman sayang aja jagoan gue (Berlin) dimatiin duluan lol spoiler hahaha bodo. Nonton Money Heist ini cuman bikin gue marah sama Tokyo dan Rio sih, like literally kalo gaada mereka itu bakal lancar-lancar aja semuanya. Karna Money Heist belom keluar season barunya, gue kemudian kebeli sama temen gue yang ngejual Designated Survivors. Awal pertama kali nonton langsung kehook banget sih karena yaaa memang ngebahas sesuatu yang membuat gue tertarik, yakni soal politik Amerika. Gue berhasil ngikutin series ini sampe tamat walopun capek banget nontonnya. Selain karena episodenya panjang-panjang, intrik dan propaganda yang ditampilin di series ini bikin lu deg-degan dan ga bisa ngira-ngira mana kawan mana lawan, dan itu yang ngebuat gue capek sendiri lol. Baru deh setelah Designated Survivors, gue kehook sama Brooklyn 99 yang pada awalnya gue ga tertarik sama series ini karna ga tau juga ini tentang apa. Begitu tau bahwa ini series tolol dan semacam Friends, gue kehook banget hahaha karena jokesnya gue banget dan nontonnya pun ga perlu terlalu mikir. Dan lagi mereka nyeritain kisah asmaranya Jake dan Amy itu nyampe banget like anjir gue mau punya hubungan yang kayak gitu hahaha.

Day 11 Writing Challenge: Talk About Your Siblings

             Gue punya dua kakak perempuan, 31 tahun dan 28 tahun. Keduanya perempuan, which somewhat explain why I am not that manly. There's not that many that I can tell you about them, yang jelas karena gue tumbuh bersama dua kakak perempuan, itu ngebuat gue yaaa gak segahar laki-laki lain lah. Bisa dibilang gue itu ga deket sama mereka. Gue ga pernah cerita masalah gue ke mereka, dan mereka ga pernah cerita masalah mereka ke gue juga, which is fine. Hubungan kami bertiga sebatas formalitas aja bahwa kami bersaudara, kami kakak-adik, maka kami berkelakuan selayaknya adik dan kakak. Walaupun demikian, ketika gue butuh mereka yaaa mereka ada buat gue. Ketika gue butuh pendapat mereka soal perempuan yaaa mereka bisa diandalkan. Mereka bukan tipe kakak perempuan yang bisa sok cute as siblings. Suatu ketika gue pernah photoshoot wisuda di salah satu studio. Si photographer mengarahkan gaya untuk kedua kakak gue pura-pura nyium pipi gue dan keduanya pun langsung menolak dengan kejijikan hahaha which is sangat wajar dan memang akan awkward. Mereka pun udah sangat siap untuk membully pasangan gue nanti kalo misalnya gue membawa seorang perempuan ke acara keluarga. Namun di balik bully itu, itu lah cara kakak gue menunjukkan bahwa mereka sayang sama gue.

Sabtu, 10 Oktober 2020

Day 10 Writing Challenge: Your Best Friend

             Kalau orang lain bertanya siapa sahabat gue sekarang ini, menurut gue sih Arie bakal kecewa kalo gue jawab dia bukan sahabat gue hahaha walaupun mungkin dia tidak menganggap gue sebagai sahabatnya. Gue menganggap bahwa dia sahabat gue (sejak 2011 bahkan) karena gue rasa gue punya otak yang sama dengan dia. Pikiran kami kompak banget gue sampe ga ngerti lagi sih. Jokes kami pun sama, sama-sama jorok. Kalau berdiskusi mengenai hal yang serius juga bahkan seringkali apa yang kami utarakan itu sebenarnya sama. Seringkali kami tau bahwa pemikiran kami sama hanya dengan satu tatapan mata, lalu lantas kami tertawa bersama.

            Persahabatan kami tentunya bukan sekedar hahaha hihihi. Tentu kami masing-masing punya waktunya untuk jatuh, dan masing-masing akan selalu ada untuk menertawakan kejatuhan tersebut, lalu saling membangkitkan. Sesibuk apapun kami, jika salah satu dari kami butuh keberadaan yang lain yaaa disempatkan, mungkin tidak saat itu juga, tapi disempatkan. Gue merasa gue dan Arie adalah equilibrium dari logika dan perasaan. Ketika gue penuh akan perasaan, Arie akan menjadi logika gue untuk mengingatkan mana yang baik, begitupun sebaliknya.

Day 9 Writing Challenge: Write About Happiness

            Kebahagiaan merupakan suatu hal yang rumit, namun juga sederhana. Rumit karena sebagian besar kalian mungkin belum bisa menemukan apa-apa yang dapat membuat kalian merasa bahagia, sederhana karena begitu kalian menemukan apa-apa yang bisa membuat kalian bahagia, kalian akan sadar bahwa itu berada di dalam satu gapaian lengan. Aku selalu dicontohkan oleh bapak bahwa yang terpenting di dunia ini adalah bahagia. Uang memang dapat membuat seseorang berbahagia, namun dapat pula membawa petaka. Soal harta, bahagia hanyalah sebatas apakah kamu merasa cukup atau tidak. Ketika seorang merasa cukup, kemungkinan besar ia akan merasa bahagia. Sebaliknya apabila seorang merasa selalu kekurangan, maka ia seumur hidupnya akan mengejar dunia.

            Bahagia bagiku merupakan suatu kondisi jiwa, di mana aku dapat memejamkan mata ku pada malam hari tanpa terbangun di tengah malam. Bahagia bagi ku adalah fokus pada apa yang aku punya, dan tidak merasa tertekan akan apa yang ada di depan.

                Bahagia itu bukan mereka yang menentukan, tapi kita. Bahagiaku, adalah ketika aku tahu bahwa ada seseorang yang selalu ada di saat aku butuh.

Kamis, 08 Oktober 2020

Day 8 Writing Challenge: The Power of Music

             Well this is going to be a short writing lol because at least for me, music didn't play much role in my journey. Bagi ku, musik hanya sekedar penghibur. Hanya sesuatu yang aku dengerkan ketika senggang. Hanya sesuatu yang aku gunakan untuk mengisi kekosongan. Apabila kamu bertanya padaku apakah aku meyukai musik, tentu saja iya. Tapi musik tidak memiliki andil yang cukup besar di hidup ku. Bagi sebagian orang mungkin menggunakan musik untuk melampiaskan. Bagi ku musik adalah musik. Tidak lebih dan tidak kurang. Walaupun demikian aku tidak bisa memungkiri bahwa di luar sana, musik merupakan media yang memiliki berbagai fungsi. Selain melampiaskan emosi, musik juga digunakan sebagai pesan, sebagai kritik, dan sebagai propaganda.

Rabu, 07 Oktober 2020

Day 7 Writing Challenge: Favorite Movie

           Wah ini susah sih, like, gue udah nonton film banyak banget sih. Dari sekian banyak film yang udah gue tonton, gue harus milih mana yang jadi favorite gue? Hmmmmm gue bakal bahas film terbaru yang gue tonton aja kali yaaa soalnya ingatannya paling fresh lol.

            Jadi gue akan ngebahas dua film, yakni satu film Indonesia dan satu film luar. Film luar yang akan gue bahas adalah Doctor Sleep. Ini merupakan sequel dari The Shining, yang mana antara film pertama dan sequelnya terpaut jarak sekitar 30 tahun lah hahaha jauh ya. Nah sebenernya gue ga berani nih nonton film ini awalnya, karna gue tau yang The Shining itu filmnya cukup ngeri lah karena thriller gitu kaaan. Tapi akhirnya gue milih nonton Doctor Sleep karena saat itu gue nonton di pesawat, dan pilihan yang lain itu kureng gitu lah. Nah Doctor Sleep ini menceritakan kisah seorang Danny Torrance, om-om yang memiliki kekuatan tertentu. Nah orang-orang yang memiliki kekuatan tertentu ini disebut The Shining (buat yang nonton film sebelumnya pasti udah paham). Nah di film ini, Danny dipertemukan dengan seorang Abra Stone, yang juga merupakan The Shining. Nah keduanya ini berjibaku untuk mengalahkan musuhnya, sebuah sekte yang senang untuk memakan semacam aura dari para The Shining tersebut. Ini termasuk ke dalam film favorite gue karna gue ga mengira bahwa alur ceritanya akan seperti itu, karena memang gue ga nonton film prequelnya. Film ini ngebuat gue penasaran untuk nonton film The Shining, sebuah film cult yang sudah sangat melegenda. Itu aja sih sebenernya yang ngebuat gue ngejadiin film Doctor Sleep jadi salah satu film favorite gue.

           Nah film lokal yang akan gue bahas adalah film Bebas. Ini film cukup baru, kayaknya tahun 2019 lirisnya. Film ini merupakan adaptasi dari film Korea yang berjudul Sunny. Film ini menceritakan tentang bagaimana suatu anggota geng remaja di masa SMA kembali dipertemukan ketika mereka sudah berumur dan disaat waktu mereka sudah mulai menipis. Alur cerita di film ini maju mundur, tapi tidak membingungkan. Film ini merupakan film ringan yang tidak membuat para penontonnya perlu untuk berpikir. Sebenarnya gue nonton film ini pun belom selesai hahaha karena kembali gue nonton film ini pas di pesawat. Ada beberapa konflik dalam film yang ketika gue tonton itu sudah selesai, tapi ada beberapa konflik yang belum terjawab, yang membuat gue penasaran untuk ngelanjutin nonton film itu. Buat kalian yang belom nonton film Bebas, gue saranin nonton sih, karena menurut gue udah lama gaada film Indonesia yang dikemas dengan seringan itu namun tetap menarik untuk disaksikan.

Selasa, 06 Oktober 2020

Day 6 Writing Challenge: Single and Happy

         Lajang dan bahagia merupakan sesuatu yang dapat berdiri sendiri tanpa saling memengaruhi. Bisa saja seseorang itu masih lajang namun bahagia, bisa saja seseorang itu lajang namun kesepian. Sebaliknya, bisa saja seseorang itu bahagia namun single, bisa saja seseorang itu bahagia karena memiliki pasangan. Semuanya sangat relatif. Menurutku tidak baik untuk menggantungkan kebahagiaan mu akan kehadiran seseorang di sisi mu. Dapat saja kamu berbahagia ketika kamu sendiri, asalkan kamu sudah mengenal dirimu. Apa yang sebenarnya kamu mau? Apa tujuan mu ada di sini? Apa tujuan dari keberadaan mu di dunia?

        Walaupun tidak baik untuk menggantungkan kebahagiaan mu di kehadiran orang lain di sisi mu, namun aku bisa mengerti bahwa bagi sebagian orang, kehadiran orang lain akan membuat mu bahagia. Itu sangat wajar. Banyak kasus depresi itu dikarenakan mereka tidak memiliki siapa-siapa yang ada di sisi mereka. Dan ini juga merupakan hal yang wajar. Aku di sini tidak bicara mana yang benar dan mana yang salah, melainkan hanya berbicara dari pengalaman ku saja. Aku sempat menjalin hubungan dengan seseorang di tahun 2018. Saat itu hubungan ku cukup menyenangkan lah, tanpa ada beban. Namun empat bulan sebelum hubungan itu berakhir, ada satu kejadian yang mengubah segala. Kejadian yang membuat empat bulan terakhir tersebut bagaikan neraka dunia. Aku yang di empat bulan pertama berbahagia dengan nya, berubah 180 derajat menjadi suatu ketakutan yang meninggalkan luka yang cukup dalam. Hubungan ku merupakan contoh bahwa kehadiran seseorang di sisi mu bisa menjadi kebahagiaan, namun bisa menjadi luka.

        Setelah putus pun aku hanya sendiri saja hingga kini. Sudah setahun lamanya. Kesendirian ku sempat membawa ku ke dalam jurang dalam bernama kesepian. Ini merupakan contoh bahwa kesendirian kadang menghadirkan duka nestapa. Lantas kemudian aku berhasil bangkit dengan caraku sendiri. Aku beruntung punya teman yang memang ada buat ku ketika aku butuh. Faktor ini merupakan faktor penting yang membuat ku berhasil menemukan sebuah kebahagiaan sederhana ditengah kesendirianku.

Day 5 Writing Challenge: Your Parents

         Orang tua gue merupakan salah satu orang tua yang cukup loose tapi di satu sisi cukup strict. Cukup loose dalam konteks orang tua gue ga pernah maksain gue untuk jadi seseorang. Ga pernah maksa gue untuk belajar, ga pernah maksa gue untuk berprestasi. Orang tua gue ga pernah peduli sama nilai ujian. Buat mereka, yang penting gue bahagia. Yang penting kebutuhan gue tercukupi. Dan yang penting gue jadi orang yang jujur dan benar. Itu saja bagi mereka sudah cukup. Walopun memang nyokap gue beberapa kali nyuruh gue belajar, nyuruh jadi dokter dan lain-lain, tapi itu tidak pernah dipaksakan. Hanya sebatas celotehan seorang ibu saja, yang mana harusnya nyokap gue sadar bahwa kemampuan otak gue gak nyampe untuk jadi dokter.

        Yang unik dari keduanya adalah keduanya datang dari keluarga yang sangat kontras. Nyokap datang dari keluarga yang cukup berada di zamannya. Well yaa mungkin bukan yang sangat berada, tapi tercukupi lah. Kakek dari nyokap dulu bekerja di PT Pos Indonesia kalo gasalah, sedangan nenek dari nyokap itu kerja di Kimia Farma. Itu nyokap, sedangkan bokap datang dari keluarga yang bisa dibilang hidup sulit dari segi ekonomi. Kakek dari bokap hanya seorang juru ketik di perusahaan listrik negara, sedangkan nenek dari bokap bukanlah seorang yang berpendidikan. Mata pencaharian dari nenek gue ini bisa dibilang ya masak pisang goreng untuk kemudian titip di jual di warung. Sangat kontras bukan? Kekontrasan ini juga yang ngebuat bokap dan nyokap sangat berbeda dalam membesarkan anak-anaknya. Bokap gue karena datang dari keluarga yang kekurangan, maka dia ga mau sampe kebutuhan anaknya ada yang tidak terpenuhi (re: hambur). Sedangkan nyokap karna datang dari keluarga mampu, dia ingin anak-anaknya lebih bisa ngatur pengeluarannya (re: pelit). Pada dasarnya kepribadian keduanya sangat bertolak belakang.

        Walaupun keduanya dari keluarga yang strata sosialnya berbeda, tapi mereka sama-sama strict kalau soal ibadah, dengan pendekatannya masing-masing. Nyokap lebih agresif untuk nyuruh anaknya sembahyang berjamaah, sedangan bokap sudah lebih sadar bahwa di umur gue yang sekarang ini ibadah gue udah jadi tanggung jawab gue.

Minggu, 04 Oktober 2020

Day 4 Writing Challenge: A Place You Want to Visit

           Sebenernya gue pengen banget bilang kalo gue pengen ke Mekkah, ke Ka'bah, dan sekitarnya. Tapi kok gue agak kurang suka ya berbicara mengenai kaedah kepercayaan di ruang publik. Jadi mungkin gue akan menjawab tempat lain yang tidak kalah spiritual dengan Ka'bah, yakni Anfield.

            As you can probably already tell, gue merupakan seorang pendukung Liverpool. Gue belom pernah ke Anfield, jadi yaaa gue juga gatau gimana atmosfer di sana. Tapi yang gue tau pasti, udah berapa kali gue menitikkan air mata nontonin momen-momen bersejarah yang terjadi di Anfield. Ga perlu jauh-jauh, gue pasti menitikkan air mata pas nonton momen dimana Liverpool berhasil menyingkirkan Barcelona dari UCL di Anfield dengan membalikkan ketertinggalan 3-0 menjadi 4-3. Yang jelas suatu hari nanti gue pengen banget ke sana. Dan gue yakin gue bakalan nangis sih. Gue bakalan muterin itu stadion 7 kali. Semacam perjalanan pilgrimage lah.

Jumat, 02 Oktober 2020

Day 3 Writing Challenge: A Memory

         Duh ini apa lagi lol suruh nulis tentang kenangan/ingatan. Ingatan macam apa? Terlalu luas topiknya. Tapi baiklah akan gue ceritakan salah satu memori terbaik gue selama hidup.

        Saat itu tahun 2016. The Pinnacle of  Human Civilization or so they said. Saat itu secara normatif mahasiswa yang masuk di tahun 2012 sedang berada di ujung masa kejayaannya. Terlalu muda dan naif serta tidak sabar untuk segera mencari uang sendiri. Tidak sabar untuk menanggung beban cicilan dan beban pekerjaan. Yang ada di kepala mereka hanya ingin segera punya uang sendiri, menjadi budak korporasi, serta mulai meniti karir yang mudah-mudahan akan membuat nama mereka membuat orang yang mendengarnya bergidik ngeri.

        Itu mereka, dan aku bukan bagian dari sebagian. Bagiku 2016 berjalan begitu cepat. Mungkin karena begitu menyenangkan? Bayangkan, saat itu aku bersyukur bahwa keuangan ku masi dapat ditanggung orang tua. Kalau kurang tinggal minta. Kuliah? Beres. A loving girlfriend. Walaupun aku bukan siapa-siapa, aku cukup menikmatinya. Saat itu kehidupan ku ya hanya bangun siang, kemudian kuliah siang, lalu tertawa layaknya orang gila mungkin hingga tengah malam di kampus tercinta. Bisa dibilang, kalau bercandaan kami sampai ketahuan netizen sekarang ini, mungkin kami sudah di balik jeruji. Tapi ya itu selera humor ku hahaha! Tidak ada yang membebani ku saat itu. Aku menikmati detik tiap detik yang aku lewatkan. Tidak ada tekanan akan ambisi pribadi. Aku hanya ingin menikmati waktu yang berlalu begitu cepat. Skripsi bagi sebagian orang mungkin sebuah momok, namun bagiku itu hanya sebuah permainan, dan masih tetap lulus dengan skripsi yang bahkan aku malu untuk orang lain sampai tahu! Hahaha.

        Bagi ku saat itu, duduk di kursi putih besi di depan ruangan SnT merupakan suatu memori yang tidak akan gue lupakan, karena mungkin itu masa terakhir dimana tawa ku bisa lepas tanpa memikirkan "Duh deadline kerjaan besok lagi, begadang deh".

Day 2 Writing Challenge: Things That Makes You Happy

 I am literally a simple person. There are a lot of things that make me happy. Food, driving around city aimlessly, watching KSI's reddit videos, cycling, etc. But one thing that really make me happiest is spending time together with the ones that I really care about. It doesn't have to be SO, but it also could be my friends. Gathering around, chatting about things that literally could get us in jail of about how this country could survive the pandemic. Regardless, being surrounded by the ones that I really care is the happiest moment of my life.


And oh, I also really like it when people need me.

Day 1 Writing Challenge: Describe My Personality

 

As you can see, I'm already one day behind schedule, so I'll try to keep it short and let's just straight into it.


My personality hmmmm this is going to be a tricky one, because the topic is so broad. What does it mean by personality? But one thing for sure, I don't believe in MBTI like I don't believe zodiacs. If you ever know me or see me, maybe you'd think that I am an introvert guy. I am not an easy going person, and I despise crowd places. But little did you know, I am reeaaallyy an extrovert guy. First of all people should know the difference between introvert and extrovert, because many of us and them are misinformed about what do they mean. But I'm not going to explain it here, you just need to know that I am an extrovert guy and I don't like in a crowded places. Yes, we exist.

I am also very stubborn about anything. I only believe what I believe until it proven wrong. I rarely listen to what others say unless it is coming from the ones that I trust. Oh and lastly I am very logical person. When it comes to deciding anything, I will always use my brain before my feelings.

Kamis, 10 September 2020

Jurnal, September 10th 2019: What Should Be Done By The Government During Pandemic: Indonesia Edition

      Seperti yang telah kita ketahuin, per tanggal 14 September 2020 nanti DKI Jakarta akan menerapkan kembali PSBB yang normal, bukan yang transisi. Ini merupakan sesuatu yang telah ditunggu-tunggu, mengingat tingginya tingkat pertambahan pasien Covid-19 dan tingginya positivity rate di Jakarta. Keadaan ini makin diperburuk dengan semakin sedikitnya ruang isolasi yang tersedia di instansi kesehatan di Jakarta. Namun kembalinya diterapkan PSBB ini menurut saya akanlah percuma apabila tidak dilakukan tindak lanjut dari PSBB tersebut.

           New Zealand merupakan salah satu negara yang berhasil mengusir Covid-19 100%. Kalau kalian kondisi di sana, semua sudah normal, bukanlah New Normal yang selama ini digaungkan oleh Pemerintah Indonesia. Sudah tidak ada physical distancing, sudah tidak ada masker, serta mungkin sudah tidak ada lagi hand sanitizer. Yang dilakukan oleh New Zealand ini secara teori sebenarnya mudah, namun memang tidak mudah untuk dilakukan, yakni national lockdown, kemudian swab test secara masif, serta isolasi mandiri di setiap rumah tangga. Sesederhana itu. Yang membedakan antara New Zealand dengan negara lain adalah keketatan lockdown tersebut dan kondisi ekonomi serta demografis mereka.

          Berdasarkan data yang yang gue peroleh, saat ini New Zealand mencatatkan jumlah GDP sebesar USD 206,93 Billion pada tahun 2019 dengan jumlah populasi 4.822.233 per tahun 2020. Sebagai perbandingan, saat ini populasi Indonesia adalah 273.523.615 (proyeksi 2020) dengan besar GDP USD 1119 Billion. Ini berarti GDP per Capita New Zealand adalah sebesar USD 42.084, sedangkan GDP per Capita Indonesia hanyalah sebesar USD 4450. Lebih dari itu, New Zealand juga punya rasio dokter per 1000 penduduk yang tinggi, yakni sekitar 3,6 sedangkan Indonesia hanya di sekitar 0,43. Jadi tidak perlu heran bahwa New Zealand berhasil mengusir Covid-19 dari negara mereka.

          Lantas bagaimana untuk Indonesia? Apa kita hanya bisa menunggu vaksin?

        Bisa aja kalo mau nunggu vaksin. Tapi menurut hemat saya ada strategi yang sesuai dengan kondisi perekonomian dan demografis kita. Jika dilihat dari kebijakan dari pemerintah kita, pemerintah ingin agar perekonomian kita tetap berjalan. Menurut saya cara yang tepat bagi Indonesia dalam menangani Covid-19 adalah dengan Partial Lockdown.

          Pada dasarnya partial lockdown ini sama dengan lockdown pada umumnya. Namun lockdown ini diberlakukan satu per satu per provinsi, mulai dari provinsi Nangroe Aceh Darussalam dengan provinsi lain menerapkan PSBB transisi sambil menunggu giliran lockdown. Masa inkubasi dari Covid-19 adalah sekitar 2 minggu, jadi lockdown akan diberlakukan sekitar 3 minggu. Selama lockdown, pemerintah pusat mengerahkan sebagian sumber daya untuk melakukan swab test masal di daerah yang sedang di lockdown. Selain swab test masal, dilakukan juga penyemprotan disinfectan di seluruh fasilitas umum. Setelah 2 minggu nanti akan terjaring seluruh warga yang positif Covid-19. Karna seluruh warga yang sudah terdata dan sudah diisolasi, maka provinsi tersebut dapat memberlakukan normal, tapi dengan tidak membuka akses ke provinsi sebelahnya. Kemudian setelah selesai, partial lockdown ini dilanjutkan ke provinsi sebelahnya dengan metode yang sama dengan provinsi sebelumnya. Nanti setelah provinsi kedua ini selesai, maka kedua provinsi yang telah terdata seluruh pasien yang positif ini bisa saling membuka akses, sehingga perekonomian dapat kembali berjalan. Begitu seterusnya sampai ke provinsi paling timur. Dengan asumsi ada 34 provinsi, 3 minggu per lockdown, satu tahun sama dengan 52 minggu, dan ini dilakukan pada bulan Maret 2019, maka Indonesia akan bebas Covid-19 pada Maret 2021 dengan perekonomian yang tetap berjalan. Kemudian dengan asumsi pada awal tahun vaksin telah ditemukan dan berhasil, maka Indonesia akan bebas Covid-19 sekitar pertengahan tahun 2021.

         Tentu saja ini hanyalah kondisi ideal secara teori. Banyak faktor yang tidak diperhitungkan karena memang data yang dapat saya akses sangat terbatas. Namun cara ini menurut saya dapat diimplementasikan kembali apabila terjadi pandemi lain, sesuatu yang kita sama-sama berharap untuk tidak pernah terjadi.

Rabu, 26 Agustus 2020

Jurnal, 26 Agustus 2020: Schrodinger Post: Antara Aku, Kamu, Dan Keterkaitan Semu

Akhir 2019 merupakan fase yang cukup berat buat ku. Fase tersebut adalah fase dimana gue telah kehilangan banyak. Kehilangan seseorang yang cukup dekat. Kehilangan kabar dari kerabat. Hingga kehilangan tujuan hidup. Tanpa bermaksud untuk berlebihan, saat itu keinginan untuk mengakhiri ini semua terbesit, namun aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan orang tua melihat anaknya mendahului mereka untuk bertemu sang pencipta. Setelah melalui pemikiran-pemikiran yang buruk, akhirnya aku memutuskan untuk mencari tujuan hidupku. Mencari alasan kuat untuk terus bertahan hidup.

Aku percaya bahwa setiap orang memiliki tujuan dari eksistensinya masing-masing. Seperti jargon yang sudah sering kita dengar, sebagian besar orang ada yang memiliki tujuan eksistensi berupa harta, tahta wanita. Ada juga yang pasti mengatakan bahwa tujuan eksistensinya adalah ridho Tuhan. Bebas aja, selama itu tidak menganggu orang lain. Berbeda dari kebanyakan orang, sebagai orang yang ekstrovert ternyata tujuan eksistensi ku adalah membagi momen-momen penting bersama orang yang berarti buat ku. Entah itu keluarga, teman, sahabat, atau pasangan.

Pasangan.

Ayat suci telah menjamin bahwa setiap manusia dilahirkan berpasangan. Tapi bukan berarti begitu saja akan dipertemukan. Adam dan Hawa yang memang sudah ditakdirkan berpasangan pun mengeluarkan segala daya dan upaya untuk bertemu kembali di dunia setelah ditendang dari surga. Lantas dengan siapa aku dipasangkan?

Hanya satu orang yang terlintas di pikiran ku. Seseorang yang pada kesempatan sebelumnya memang pernah mengisi pikiran ku. Ikan memang banyak di laut, tapi hanya dia yang menarik perhatian ku. Aku cerita niat kontroversial ku ini ke kerabat. Kedua kerabat ku pun menggerutu, seakan tidak ada pilihan yang lain saja. Bahkan salah satu sahabat pernah mengancam bahwa kalau aku sampai berakhir bersama dia, sahabat ku itu tidak akan menghadiri pernikahanku kelak. Sesuatu yang cukup membuat ku berpikir ulang.

Namun ya bagaimana. Bersama nya memang tidak lama, namun semakin berumur aku semakin bisa menghargai apa yang dia lakukan saat itu. Hanya dia yang bisa menertawakan lelucon ku yang sebenarnya tidak lucu. Entah memang menurut dia itu benar lucu atau dia hanya tertawa untuk menghargai lelucon ku? Keduanya aku menikmati. Aku menikmati waktu ku bersamanya.

Akhirnya keputusan ku bulat, aku mau kembali. Pertanyaannya kemudian apakah ia mau? Bukan wewenangku untuk memaksa, memangnya aku siapa? Aku pun berniat untuk berdamai dengan masa lalu ku dan terbuka kepadanya. Sesuatu yang tidak aku lakukan saat masih bersamanya. Tapi jika dengan menjadi terbuka lantas membuat ia semakin menjauh, bagaimana..? Aku telah mengutarakan apa yang aku mau. Cukup membuat ia terkejut sepertinya. Mungkin karena memang aku sudah tidak ada di kepala dan perasaannya. Hingga kini aku pun tidak tahu. Aku sudah mencoba yang aku bisa, namun sepertinya nihil. Padahal aku sudah bersiap untuk kehilangan sahabat ku untuk kembali bersama dia. Pengorbanan terbesar yang mungkin tidak akan terjadi.

Atau belum terjadi?

Minggu, 22 Maret 2020

Jurnal, March 22nd 2020: Mencoba Menelaah Kebijakan Fiskal Nasional Menghadapi COVID-19

Dari judulnya, mungkin kalian akan mengira bahwa ini adalah tulisan yang ditulis secara holistik, komprehensif, dan dilakukan dengan kehati-hatian. Nyatanya sih engga, ini gue tulis karna gue sedikit paham dan ga paham soal ini, tapi ya random jadi gue tulis aja, daripada lupa kan. Dengan berdasarkan ilmu gue yang cetek soal keuangan, mari kita mulai mengada-ngada.

Seperti yang kalian tau, kita sedang mengalami suatu krisis global, yakni Pandemik COVID-19. Dampak dari pandemik ini ga main-main, mulai dari menelan korban jiwa, sampai mengancam keberlangsungan dari suatu pemerintahan. Lebay? Gue rasa engga. Kita udah sama-sama tau bahwa Wuhan sempat di-lockdown, dan hingga saat ini Italia masih dalam kondisi National Lockdown (you might want to check on that again). Dampak lebih lanjutnya apa? Yaaa salah satunya adalah lesunya perekonomian di sana. Dan ini merupakan konsekuensi langsung dari situasi tersebut, karena itu berarti warga Italia akan lebih berhemat dalam mengelola uangnya

Lesunya perekonomian ini lah yang kemudian ditakuti oleh Pemerintah Indonesia. Kalau kalian perhatikan secara baik-baik, saat ini arah kebijakan ekonomi Indonesia adalah ingin meningkatkan investasi di Indonesia, baik itu investasi asing maupun domestik. Dengan adanya pandemi ini, otomatis investor akan lebih suka untuk mengalokasikan uangnya untuk keperluan yang lebih darurat, atau menyimpan uangnya di tabungan. Kalau calon investor lebih suka untuk menyimpan uangnya atau investor eksisting mengambil investasinya dari Indonesia, hal tersebut dapat mengakibatkan perekonomian Indonesia collapse.

Dalam upaya mitigasi hal yang tidak diinginkan tersebut, pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan bahwa potongan pajak penghasilan yang selama ini dibayarkan para pekerja akan ditanggung pemerintah, sehingga ibarat kata kita semua mengalami "kenaikan gaji" sementara selama enam bulan dimulai dari bulan April (again, you might want to check the fact here, because as I'm writing, I don't check that lol). Upaya ini dilakukan dengan harapan semakin banyak penghasilan yang didapat oleh masyarakat maka akan semakin besar daya beli masyarakat, dan masyarakat akan membelanjakan uangnya. Bagaimana cara memastikan bahwa masyarakat akan membelanjakan uangnya? Yaaa kayaknya sih salah satu caranya adalah dengan menurunkan suku bunga BI (entah itu repo-rate atau apa gue kurang paham). Intinya, penurunan suku bunga ini dilakukan agar masyarakat memiliki kecenderungan untuk membelanjakan uangnya dibanding naro uang lebih itu di bank.

Mungkin menanggapi hal tersebut masyarakat akan suka ria dan bahagia. Iyalah, siapa juga yang gasuka naik gaji?? Yaaa walaupun cuma sementara sih. Namun di balik itu semua, gue pribadi punya pertanyaan yang gue sampe sekarang belom nemu jawaban pastinya. Gini, pajak penghasilan itu merupakan salah satu komponen yang membentuk APBN. APBN itu sendiri memiliki beberapa komponen pembentuk, yakni pajak, penerimaan negara bukan pajak (selanjutnya disebut PNBP), serta pinjaman (kalo gasalah). Sekarang, salah satu dari komponen pembentuk APBN yakni PPh dihilangkan dalam kurun waktu enam bulan. Sadar ga berapa triliun lubang yang ditinggalkan oleh PPh ini? Belum lagi berapa dana yang keluar dari APBN untuk menanggulangi pandemi ini. Menurut gue, APBN tahun ini udah cukup berdarah lah, dan APBN tahun depan pun terancam. Ada beberapa outcome yang mungkin akan terjadi terhadap APBN tahun depan, yakni: APBN tahun depan akan sangat kecil dibandingkan dengan tahun ini; atau pemerintah akan berusaha mendapatkan dana tambahan dari komponen lain. Nah dari mana nih dana tambahan ini? Kalau kalian lihat perincian dari APBN, PNBP itu hanya menyumbang tidak lebih dari 10% dari total APBN. Jadi, kayaknya kemungkinan kecil banget kalo pemerintah mau nambel kehilangan itu dengan bergantung pada PNBP semata. Trus dari mana dong? Yap, you guess it right. Pinjaman atau kalian lebih kenal dengan istilah utang. Ya, ini berarti akan ada kemungkinan pemerintah akan menambah utang mereka, dan kalau kalian baca berita, IMF udah mempersiapkan dana yang dapat dipinjam oleh negara-negara yang mengalami pandemi COVID-19. Namun demikian, masyarakat perlu paham bahwa yang namanya utang itu bukan merupakan suatu masalah. Yang menjadi masalah adalah apabila utang tersebut tidak dialokasikan bagi hal-hal yang produktif bagi Negara.

Jadi intinya, nanti kalo misalnya Indonesia berutang lagi, kaga perlu heboh lah, ga perlu sampe turun ke jalan.

Kamis, 19 Maret 2020

Review Singkat Buku Elon Musk: Tesla, SpaceX, and The Quest for a Fantastic Future by Ashlee Vance

     Seperti yang sudah gue ceritain sebelumnya, ada satu alasan yang ngebuat gue memilih buku ini dalam memulai tahapan baru dalam hidup gue. Pada proses pemilihannya, sebenernya gue agak ragu, karena buku ini terhitung tebal, dan gue kadang punya penyakit cepat bosan terhadap suatu buku, apalagi buku kuliah. Namun gue akhirnya tetep beli buku ini karena emang gue pengen tau nih, apa bener dia adalah penyelamat umat manusia dari kemusnahan?

     Elon Musk: Tesla, SpaceX, and The Quest for a Fantastic Future menceritakan perjalanan hidup seorang Elon Reeve Musk, imigran asal Afrika Selatan yang kemudian berhasil menjadi orang yang sangat berpengaruh bagi umat. Buku ini menceritakan lumayan detil tentang masa kecil yang cukup berat bagi seorang Elon Musk, karena memang Elon terlahir jenius dan temen sepantaran dia gaada yang bisa keep up sama dia dan cenderung menganggap dia aneh. Karena temen-temennya nganggep dia aneh, dia malah jadi gapunya temen, and he's perfectly fine with that karena Elon dari kecil udah punya dunia nya sendiri, dan dari kecil dia udah obsessed sama yang namanya roket. Lebih lanjut, di dalam buku ini juga dijelaskan fakta dibalik dibangunnya PayPal, bahwa ternyata PayPal itu bukan 100% dibangun oleh Elon. Selain jadi tau gimana caranya seorang Elon Musk menjalankan perusahaan dari 0 dan gimana jatuh bangunnya dia, dengan membaca buku ini juga lu jadi tau bahwa yang dijual oleh seorang Elon Musk bukanlah sekedar produk, melainkan gaya hidup. Terakhir, di buku ini juga lu bakal paham bahwa Elon Musk itu udah ngorbanin apa yang dia punya demi dunia yang lebih ramah lingkungan.

     Banyak banget pelajaran yang bisa gue ambil dari buku ini. Yang paling utama, gue jadi paham bahwa untuk bisa jadi pengusaha sukses sekaliber Elon Musk, bakat itu emang pengaruh banget sama keberhasilan lu di masa depan, dan ini terbukti di beberapa buku yang gue baca setelah buku ini. Tentunya buku ini adalah buku yang recommended, karena udah jelas banget di sampul buku nya ditulis New York Times Bestseller. Lebih dari itu, dari buku ini lu bisa belajar what it takes to be a successful entepreneur, what kind of trait do you need to be successful like Elon Musk.

8/10

Senin, 16 Maret 2020

Jurnal, March 16th 2020: Pernyataan Sikap Terhadap Pembatasan Transportasi Publik

Pertama kali gue ngedenger keputusan itu, jujur gue langsung geli sendiri. Ini orang ga mikir panjang apa gimana sih?

Kali ini gue bakalan nulis sesuatu yang sangat berbeda dari biasanya. Kalo yang biasanya gue mellow atau bahas buku, sekarang gue mau numpahin kekesalan gue sama keputusan terbaru dari si gubernur se-iman, Anies Baswedan. Seperti yang kita semua tau, saat ini Corona lagi merebak di Jakarta. Masyarakat dianjurkan untuk tidak berada di keramaian, perbanyak cuci tangan, dan sangat kurangi menyentuh mata, hidung, dan mulut untuk mencegah penyebaran yang lebih luas. Menanggapi hal ini, apa keputusan gubernur? Pak Anies kemudian menganjurkan bekerja di rumah. Lebih radikal lagi, Pak Anies kemudian membatasi pelayanan transportasi publik di Jakarta (MRT, KRL, LRT, TJ). Ini gue denger peraturan ini pertama kali dicetuskan aja udah ga paham.

Mungkin biar adil kita coba pahami maksud Pak Anies ya. Mungkin maksud beliau, dengan sudah dianjurkannya WFH (Work from home), jumlah pengguna transportasi publik akan berkurang, dan dengan armada pun sudah seharusnya dikurangi. Pembatasan transportasi publik mungkin juga dimaksudkan agar masyarakat jadi malas untuk keluar rumah, karena memang Pak Gubernur juga sudah menutup beberapa tempat atraksi publik. Kebijakan ini diimplementasikan dengan harapan jarak social distancing semakin tinggi. Tapi menurut gue justru disini blundernya Pak Anies.

Kita telaah dari awal ya. Pak Anies sebagai Gubernur memang menganjurkan kepada mereka yang bekerja untuk WFH. Dari ini bisa dipahami bahwa Pak Anies selaku Gubernur paham bahwa beliau tidak bisa memaksakan perusahaan-perusahaan untuk menghentikan kegiatan mereka, karena beliau tidak punya wewenang untuk itu. Selain itu, penghentian kegiatan perusahaan pun akan berdampak pada melemahnya perputaran roda perekonomian, sesuatu yang dihindari oleh pemerintah. Akhirnya apa? Masih banyak perusahaan yang belum mau/tidak bisa menerapkan kebijakan WFH, sehingga jumlah pekerja yang berangkat kerja tidak berkurang secara signifikan. Ibarat kata, jumlah pengguna transportasi publik tidak berkurang secara signifikan, namun ketersediaan transportasi publik langsung dikurangi secara radikal. Sepengetahuan gue, jumlah armada TJ, MRT, dan LRT dikurangi. Durasi tunggu antar armada pun diperpanjang (MRT yang awalnya waktu tunggu hanya lima menit menjadi 20 menit). Sudah begitu, jumlah pelanggan yang boleh berada di peron pun dibatasi, dengan tujuan agar terciptanya social distancing yang tinggi. Justru ini sangat blunder. Dengan pembatasan yang sedemikian rupa, bisa kita lihat hari ini antrean pelanggan dari transportasi publik malah mengular, yang menyebabkan terciptanya social distancing yang rendah. Sudah begitu, karena armada yang sedikit, penumpang pun berdesak-desakkan di dalam armada. Durasi penumpang berdesak-desakkan pun semakin lama karena hari ini kebijakan ganjil-genap ditiadakan, mengakibatkan banyaknya warga yang bepergian menggunakan kendaraan pribadi. Social distancing memang tercipta di peron, tapi di luar peron dan di dalam armada? Kacau!

Menurut gue kebijakan yang diimplementasikan oleh Pak Anies ini kurang tepat, karena seharusnya kebijakan pembatasan pelayanan transportasi publik ini didahului dengan penerapan situasi lockdown, situasi yang secara arah kebijakan dari pemerintah yang mengutamakan berputarnya roda ekonomi menjadi tidak dapat dilakukan. Menurut gue, apabila opsi lockdown tidak dapat ditempuh, justru seharusnya armada dari transportasi publik ini dimaksimalkan penggunaannya: kerahkan semua sumber daya yang dimiliki. Dengan mengerahkan semua sumber daya yang dimiliki, menurut gue justru social distancing akan tercipta baik itu di luar peron, di peron, dan di dalam armada itu sendiri. Gampang nya begini, semakin banyak armada, maka waktu tunggu di peron akan semakin sedikit, dan penumpang yang diangkut di tiap armada akan semakin sedikit pula. Memang ini akan cukup memakan banyak tenaga dan uang, tapi gue ragu itu adalah prioritas untuk sekarang. Kemudian kita juga harus sadar bahwa SDM yang bekerja bagi transportasi publik ini memiliki risiko yang lebih besar untuk terpapar Corona. Untuk itu berikan pengamanan yang ketat kepada mereka dengan memeriksa kondisi mereka secara rutin dan memberikan perlindungan yang bersifat preventive kepada mereka. Lebih lanjut, berikan insentif kepada mereka yang mau secara sukarela untuk bekerja di kondisi seperti ini. Gue rasa itu akan lebih efektif untuk mencegah penyebaran Corona dibandingkan dengan kebijakan yang sekarang diterapkan. Ini akan memakan banyak biaya, tapi kesehatan masyarakat harusnya selalu diutamakan.

Skenario ini tentunya akan berbeda kalau Gubernur dapat memaksakan mayoritas penyedia kerja untuk menerapkan WFH bagi para pekerjanya.

Gue sadar kalo Pak Anies ini banyak yang bisikin ketika membuat kebijakan. Semoga ada pembisik Pak Anies yang ngebaca ini dan mempertimbangkan pendapat gue lah.

Kalau ada argumen yang berlawanan dengan argumen gue, yuk berargumen secara sehat di kolom komen! :)

Selasa, 18 Februari 2020

Jurnal, February 18th 2020: Udah Saatnya

Beberapa minggu lalu, di postingan blog ini, gue pernah bilang bahwa gue menggunakan buku untuk membuat pikiran gue gak kosong-kosong amat. Kenapa demikian?

Gue adalah orang yang mudah overthinking. Apalagi kalo pikiran kosong. Itu bisa banget gue mikirin rencana untuk kabur dari rumah trus ngegembel di jalan (saat itu).

Sebelum gue mutusin untuk mulai baca buku, gue mikir banget tuh, "baca buku banget nih??". Karena sebenernya gue ga doyan-doyan amat lah baca buku. Gue bukan tipe orang yang bisa duduk manis nyediain waktu luang khusus buat baca buku. Itu membosankan buat gue. Gue selalu ga paham gimana caranya orang bisa melakukan hal tersebut.

Gue pun udah mikirin beberapa alternatif selain baca buku, seperti misalnya ikut komunitas, olah raga, fotografi, dan lain sebagainya. Tapi satu hal yang membuat gue mengurungkan ketiganya: gue perlu orang lain untuk memulai hal tersebut. Hal ini dikarenakan gue emang orangnya emang butuh seseorang untuk bisa beranjak dari zona nyaman dan mencoba hal baru. Ya tapi itu kan masalahnya: gaada temen gue yang bisa diajak untuk itu karena mereka punya agenda masing-masing. Alhasil daripada gue terjebak di lingkaran setan ini, gue memutuskan untuk melakukan sesuatu yang bisa gue lakukan sendiri, yakni: baca buku. Iyadong, emang lu pernah liat orang baca buku rame-rame sambil ngobrol?

Tantangan berikutnya pun muncul: "Gue mulai baca buku apa nih?" Buku di dunia ini udah ga keitung jumlahnya, dan sebagai orang yang indecisive, ini bukan perkara mudah. Apa gue baca buku hukum? Buku ekonomi? Buku masak? Buku soal sepak bola? Soal fashion? Atau apa? Gue pernah baca beberapa buku sastra, yang secara spesifik ditulis oleh Seno Gumira, dan Pramoedya Ananta Toer. Gue suka dua buku yang gue baca saat itu, tapi sepertinya buku seperti itu kurang pas untuk gue baca di saat seperti ini.

Kemudian gue teringat ada perkataan: "Kalau mau banyak belajar tentang bisnis atau tentang kehidupan secara keseluruhan, baca buku autobiography seseorang. Disitu kita bisa belajar dari keselahan mereka dan belajar cara untuk bangkit." Kalimat tersebut sedikit banyak memengaruhi keputusan gue terkait buku mana yang akan gue baca pertama. Namun masalah berikutnya muncul: "Oke, baca buku tentang siapa nih??"

Banyak banget orang berpengaruh di dunia yang pengen gue baca kisahnya, tapi kalo disuruh pilih satu ya susah.... Sampe akhirnya gue teringat percakapan dengan kolega gue yang kebetulan juga temen sekolah dulu. Gue dan dia sepakat bahwa Sang Penyelamat (The Messiah) udah turun ke bumi dalam wujud Elon Musk.


to be continued.... 

Jurnal, February 18th 2020: Logic - 1-800-273-8255

All this other shit I'm talkin' 'bout they think they know it
I've been praying for somebody to save me, no one's heroic
And my life don't even matter
I know it, I know it, I know I'm hurting deep down but can't show it
I never had a place to call my own
I never had a home
Ain't nobody callin' my phone
Where you been? Where you at? What's on your mind?
They say every life precious but nobody care about mine


Minggu, 16 Februari 2020

Jurnal, February 16th 2020: Belajar Lagi

Panggil kembali para ahli
Panggil kembali para guru
Jelaskan kembali kepada ku
Gunakan palu kuasa mu
Agar aku tidak meragu

Kalian bilang manusia makhluk sosial
Bahwa kita kaum komunal
Kalian benamkan paham itu
Sampai ke rongga jantung ku

Nyatanya mana
Aku sintas sendiri
Mungkin lain kali
Kalian perlu ingatkan mereka
Bahwa kita bersama
Untuk mati sendiri



Minggu, 12 Januari 2020

Jurnal, December 12th 2020: Behind The Scene

Loneliness is not about numbers
It is not about how many people surround you
It is about how you feeling about the existence of others

I cut ties with many people
Friends, relatives
Does that make me feel lonely?
Strangely, no

I stop expecting anything from people
I start to realize that I make my own happiness
Not them
I learn to accept that I am alone

I stop listening to what people say
Why would you do that anyway
Listening to their opinion
They don't care about you
And to tell the truth, they don't matter to you

They don't feed you
They don't pay your bills
They don't provide you shelter
Yet lot of you still listen to what others' think

I stop scrolling through the timelines
I stop craving to know what people up to
I stop knowing anything that I don't need to know
I stop seeking for attention
I start paying attention
To everything and everyone that matters