Sabtu, 25 Februari 2017

Jurnal, February 26th 2017: Gelas kaca

Bapak pernah mengingatkanku
Bagaimana membaca manusia
Beliau ibaratkan seperti gelas kaca
Yang membutuhkan batas antar sesama

     Aku pikir menarik
     Manusia itu gelas kaca
     Jangan sampai terlalu dekat
     Sedikit getaran akan timbul retakan
   
O.......
Apa mungkin
Apa yang terjadi antara aku dan kamu
Hanya karena kita terlalu dekat
Kemudian lupa menghargai sepi?

Rabu, 22 Februari 2017

Review buku Saksi Mata by Seno Gumira Ajidarma

       Buku yang kali ini aku baca berjudul Saksi Mata yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma. Untuk kesekian kalinya, aku membaca buku yang aku tak mengerti sebelum aku membacanya. Terlebih lagi, bahkan aku tidak tau siapa itu Seno Gumira Ajidarma. Mungkin karena aku memang sangat kurang membaca buku. Mengapa aku memilih membaca buku ini? Jujur aku tidak paham jua. Hanya saja, temanku meyakinkan ku bahwa aku akan terkejut saat membacanya. Siapa yang tidak tertarik dengan pancingan seperti itu? Bukan aku tentunya.

     Halaman pertama hingga halaman kelima memang benar-benar membuatku terkejut. Bukan karena saking bagusnya, melainkan karena kengiluan yang aku rasakan saat itu. Beberapa kali aku terhenti sekejap saat membaca buku ini karena tidak dapat kutahan rasa ngilu itu. Apa sebab? Pada lima halaman pertama, ada bagian seseorang kehilangan kedua matanya. Tidak, ia tidak kehilangan penglihatannya. Ia kehilangan kedua bola matanya! Tidak cukup sampai disitu, dalam lima halaman pertama ini juga dijelaskan tentang kondisi orang tersebut, dan bagaimana sampai orang tersebut kehilangan kedua matanya. Ah sudahlah, mungkin kamu harus membacanya sendiri untuk mengerti apa yang kubicarakan.

     Itu baru satu dari sekitar 12 cerita yang ada di buku ini. Oh iya aku belum bilang ya kalau buku ini terdiri dari beberapa cerita? Ya, dan masing-masing cerita sebenarnya adalah cerita yang berdiri sendiri, namun ketika kamu membacanya, kamu akan memiliki tafsiran berlawanan dengan apa yang ku katakan barusan. Percayalah, aku paham apa yang aku katakan. Seakan terdapat benang merah tipis yang menghubungkan cerita pertama sampai cerita terakhir, yang akan membuat mu bertanya-tanya apakah diagnosamu itu benar.

     Saat mulai membaca buku ini, aku sebenarnya merasa iba dengannya. Buku ini terlalu terbebani dengan harapan ku. Kamu tentu tahu bahwa sebelum membaca buku ini, aku membaca buku TAN, yang langsung menjadi salah satu buku favorit ku, jika bukan yang paling favorit. Apakah buku ini bisa memenuhi ekspektasi ku? Sayang sekali, tapi harus aku katakan bahwa buku ini tidak sesuai dengan ekspektasiku. Jangan salah sangka, buku ini amatlah bagus dan membuka mata kita untuk beberapa sudut. Hanya saja, aku menyukai buku yang berlatar. Maksud ku, aku sangat suka buku yang menjelaskan latar cerita dengan amat detil, entah itu latar tempat ataupun latar waktu. Di buku ini, aku tidak menemukan itu. Selain itu dari sisi bahasa, aku tidak menemukan keindahan bahasa dalam buku ini seperti ketika aku menemukan keindahan bahasa dalam buku TAN. Hal ini mungkin bisa dimaklumi, karena memang TAN berlatar medio akhir 1890 sampai sekitar awal 1900, sedangkan Saksi Mata berlatar medio 1980 sampai 1990 akhir.

     Kecuali itu, buku ini benar-benar mengejutkan ku. Buku ini tidak membuatku berpikir "oh jadi seperti itu ya?", melainkan membuat ku bertanya "ini sungguh terjadi?!". Ketidakmampuanku untuk mencerna apa yang terjadi dari sudut pandang mereka membuatku bergidik ngeri. Aku percaya, setiap buku memiliki nilai wawasan tersendiri, tapi ini berbeda. Ini akan membuka matamu dari sudut pandang si "saksi mata". Menurutku, jika kamu tidak kuat membayangkan orang yang tidak punya mata, sebaiknya jangan membaca buku ini. Kecuali itu, menurutku ini buku yang sangat membuka mata dan akan mengejutkanmu!

   

Senin, 20 Februari 2017

Jurnal, February 21st 2017: Lagu lama

Rangkaian kalimat ini bukanlah sebuah perpisahan
Bukan pula merupakan perdamaian
Ini merupakan bentuk keluh kesah
Keluh kesah dia dan aku

      Tulisan ini tidak akan berisi amarah
      Amarah ku sudah ku telan mentah
      Telah sirna
      Seperti apa yang dia minta ketika kami bersama

Dia selalu percaya bahwa aku adalah takdirnya
Dia percaya ia banting tulang remuk redam untukku
Dia yang selalu bertanya dimana salahnya
Dia yang belum memahami kerasnya dunia

      Tulisan ini aku buat pada hari selasa
      Dua hari setelah kami berbicara empat mata
      Dua hari setelah kami berkata apa yang sebelumnya tak terkata
      Dua hari setelah kejenuhan kami
      Dua hari setelah menghidupkan jiwa yang mati

Rabu, 15 Februari 2017

Jurnal, February 16th 2017: Hilang makna

     Ada satu hal yang aku lihat sebagai hal yang lucu. Tidak cukup untuk membuatku tertawa, namun bagiku itu membuat tersenyum. Senyum kecut. Suatu hari aku pernah memilih satu kata dalam kamus bahasa pergaulan sehari-hari. Aku bayangkan kata itu. Aku resapi dalam-dalam maknanya. Terus hingga kata tersebut tidak lagi memiliki makna. Ada nilai yang hilang kejap itu. Lucu bukan? Kata yang terus aku pahami, aku teriakkan dalam hati, lambat laun hilang arti.

     Saat kehilanganmu, sulit rasanya untuk tidak memikirkanmu. Hari pertama, kedua, ketiga memang terasa seperti narapidana yang baru menghirup udara kebebasan. Hari berjalan begitu cepat karna aku menikmatinya. Sampai pada dua bulan terakhir, hampir tiada hari tanpa kamu di benakku. Apakah ini pertanda? Ataukah hanya panggilan kehampaan? Aku mulai kehilangan kewarasanku. Aku layaknya pengguna obat terlarang yang candu akan bayangmu. Namun ingatanku bahwa aku tidak pantas bagi mu selalu berhasil membumikan akalku.

     Sampai suatu hari kuputuskan untuk membuat tulisan tentangmu. Bodoh memang, tapi ini bukanlah dosa. Ini hanyalah pikiran yang tak terkata, yang tiada seorangpun pantas menanggungnya. Kadang aku berpikir bahwa ini hanya akan menuntunku ke jurang paling dalam bernama masa lalu. Namun siapa sangka, semakin aku membayangkan mu, semakin aku menulis tentangmu, aku semakin berhasil menyibak kabut kenangan itu. Menulis mewaraskanku.

     Sebisa mungkin aku akan terus menulis. Sekali lagi, bukan untuk menghilangkan bayangmu dari ingatanku. Tetapi untuk menjaga keutuhan akal sehatku.

Selasa, 14 Februari 2017

Jurnal, February 15th 2017: What makes a heart breaks

     Mungkin kamu lupa, mungkin juga tidak. Mungkin kamu tidak mengerti, mungkin juga mengerti. Mungkin kamu sadar, mungkin kamu tidak. Itu hanya masalah sepele, hanya sebuah foto. Ya, sebuah data elektronik di selular pintarku. Kumpulan pixel-pixel kecil yang membentuk gambar aku dan kamu. Sesuatu yang kamu minta dengan penuh harap agar aku menghapusnya demi alasan yang tidak bisa aku cerna. Bagiku, menghapus foto itu bukanlah sesuatu yang berat. Hanya dibutuhkan tiga kali gerakan ibu jari kanan ku untuk membuat foto itu hilang ditelan perkembangan dunia. Yang berat adalah kenyataan bahwa kamu meminta aku, yang saat itu adalah laki-laki yang mencintaimu, untuk menghapus foto itu, sedangkan kamu mempublikasikan foto mu dengan sahabat laki-laki mu.

     Tapi belenggu kegelisahanku saat itu belum dapat mematikan bara cinta ku padamu. Kau tahu apa yang mematikannya? Bukan air. Bukan karbon dioksida. Bukan pula bumi. Melainkan tutur mu. Sekejap padam saat kau bisikkan kepada dunia bahwa selama ini aku tidak pernah mencintaimu. Bahwa yang kulakukan tidaklah cukup. Menyedihkan bukan? Bagaimana seseorang melakukan usaha terbaiknya, kemudian kamu bilang kepada dunia bahwa aku tidak pernah benar-benar berusaha.

     Kamu tidak perlu merasakannya. Aku juga tidak perlu kau untuk mengerti itu. Kau hanya perlu tahu bahwa itu cukup sakit.

Sabtu, 11 Februari 2017

Jurnal, February 12th 2017: Lieben. Illusion.

Ich sehe dich
Ich sehe uns
Ich sehe deine Augen
Ich sehe uns
Aber wann siehst du mich
Du siehst nicht

Review Buku TAN by Hendri Teja

     Mungkin kau tak dapat melihatku sekarang. Tapi yakinlah, saat jemari ku mengetik tulisan ini melalui laptop butut ku, kau bagai melihat anak kecil di toko mainan. Mata ku berbinar menantikan saat ini. Hormon Dopamin dalam raga ini seakan sudah berada diurat leher, memberontak untuk segera dilampiaskan dalam bentuk kata-kata.

     Aneh bukan? Aku yang tiga bulan lalu tidak suka membaca, saat ini menggebu untuk membuat ulasan mengenai sebuah buku.

      Buku yang kali ini aku baca adalah TAN, karangan Hendri Teja. Ini adalah sebuah novel sejarah yang mengisahkan tentang kehidupan seorang pahlawan revolusi nasional bernama Tuan Ibrahim, atau lebih dikenal dengan Tan Malaka. Kalau kupingmu langsung memberikan reaksi saat mendengar nama itu, selamat, yakinlah Anda lebih terpelajar dariku. Karena jujur saja, seperti nama Pramoedya Ananta Toer, aku sekedar tahu nama Tan Malaka. Tidak lebih. Karena mungkin aku pula tidak peduli. Siapa dia, apa perjuangan dia, bagaiman dia meninggal, bukan urusanku. Saat itu. Sampai ketika aku baca novel ini, aku sadar betapa kecilnya aku. Aku lupa betapa menyenangkannya membaca. Aku lupa bahwa membaca adalah salah satu perintah Tuhan yang paling pertama.

     Novel ini adalah novel yang sebenarnya sudah lumayan lama terbit, menceritakan tentang kehidupan seorang Hindia kelahiran Pantai Barat Sumatera bernama Tuan Ibrahim, atau Tan Malaka, dari masa ia remaja hingga ia diasingkan. Novel ini bukan sekedar menguak sejarah bagaimana seseorang berjuang untuk kemerdekaan Hindia. Kecuali itu, di dalam novel ini juga disisipkan tentang lugunya Tan muda dalam menghadapai perempuan yang kemudian menjadi perempuan pertama yang mengisi relung hatinya.

     Tidak selesai sampai disitu, novel ini juga membuka mataku, bahwa sebenarnya di dalam perjuangan yang selalu dipegang teguh oleh Tan, terdapat jasa seorang pria Nederland. Keteguhan perjuangan Tan demi kemerdekaan Hindia ini terbukti dengan pengorbanan beliau meninggalkan tanah adatnya, yang berakibat beliau dicampakkan oleh masyarakat adatnya sendiri. Mataku bahkan makin terbuka ketika novel ini mengajarkan ku relasi antara paham Komunisme, Sosialisme, dan Theisme.

     Novel ini adalah jenis novel yang membuat darahmu berdesir setiap kali membalik halaman. Adat, Agama, Perjuangan, Romansa, Pengkhianatan, dan Pertentangan ada dalam novel ini. Menurutku, kau melewatkan sesuatu yang besar jika memilih untuk tidak membaca novel ini.

Kamis, 09 Februari 2017

Jurnal, February 10th 2017: Antara buku dan kenangan

       Sulit untuk mengusirmu dari pikiranku. Berbagai cara sudah ku kerahkan, namun nihil. Sampai suatu ketika ikrar ku menarik tangan ku. Buku! Iya Buku! Buku ini adalah solusiku! Dengan membaca, aku yakin aku pasti bisa melupakanmu!

       Apa benar?

       Bukan maksud ku untuk menghilangkan jejakmu. Tapi bayangmu harus lekas kusimpan rapat-rapat pada kotak paling dalam. Aku yakin kau tidak mengerti tapi aku yakin kau mengerti. Ini untuk kebaikan kita.

       Satu pekan, dua pekan, membaca mulai mengembalikan kewarasanku. Membaca seakan membantuku mengumpulkan kenangan-kenangan akanmu, dan menyimpannya dengan rapi dalam kotak kenangan di ujung ruangan. Tetapi semesta berkehendak lain. Halaman demi halaman membangkitkan imaji. Tak pelak gambar-gambar halusinasi akan hidup yang tak bisa kuraih mulai membayangi.

       Tolonglah semesta. Bahkan aku tidak pantas memiliki ini walau sebatas ilusi.

Rabu, 08 Februari 2017

Jurnal, February 9th 2017: Tempat sampah berjalan

               Membedakan mana teman dan mana musuh merupakan perkara mudah. Ketika kamu bertemu dengan musuh, kamu akan bertemu dengan tinju. Mudah bukan? Orang umum dengan nol pengalaman bisa memahami itu. Yang sulit adalah membedakan yang menganggapmu sebagai teman, dan mana yang menganggapmu sebagai tempat sampah? Kau tau maksud ku? Biar kujelaskan. Menurutku, ada orang yang menggap orang lain sebagai tempat sampah mereka. Orang itu akan datang padamu, menyirami mu dengan segala keluh kesah, membuat mu merasa sebagai orang yang dibutuhkan, lalu kemudian meninggalkanmu ketika ia sudah menemukan kesenangan baru. Hebat bukan?

                Sayangnya aku pernah menjadi tempat sampah itu. DUA KALI. Pertama berlaku sudah agak lama, mungkin sekitar tiga tahun lalu, saat aku sedang mengalami krisis sosial. Dia datang dengan segudang masalah. Segala tetek bengek permasalahan ia ceritakan. Aku yang memang saat itu sedang tidak punya teman, jujur senang saja karena itu berarti aku punya teman ngobrol. Itu berarti ada orang yang menginginkanku. Namun singkat cerita, aku sadar bahwa aku hanya merupakan tempat sampah bagi dia. Dia hanya datang ketika ingin berkeluh kesah. Sungguh aku marah. Ini tidak boleh berjalan lama. Akhirnya dengan sedikit marah aku katakan itu. Dia mengerti. Dia minta maaf. Selesai sudah.

                Yang kedua ini belum lama terjadi. Ada seorang temanku yang memiliki masalah langka: Terlalu banyak didekati lawan jenis! Aku kenal beberapa temanku yang akan membayar mahal untuk mendapat masalah itu. Paling tidak seminggu sekali ia menghubungi ku, untuk menceritakan masalahnya. Saking banyaknya yang mendekati dia, aku sampai harus berkali-berkali bertanya: “Ini siapa lagi ya?”

                Untuk menyingkat cerita, akhirnya temanku menjatuhkan hatinya pada satu orang. Mereka bertahan lama, tahunan lamanya. Sampai suatu hari hubungan mereka tidak bisa diselamatkan. Temanku stress. Demi Tuhan, aku belum pernah melihat orang begitu frustasi. Diajak berbicara sedikit, air matanya tercurah. Harus hati-hati. Karena kasihan, aku mulai temani dia. Aku ajak bicara tentang kehidupanku beserta kesialan yang menimpaku, dengan harapan itu akan menghibur dia. Usahaku berbuah nihil. Dalam beberapa kesempatan, dia meratap di depanku. Meratap dan meratap. Hanya itu yang ia lakukan jika bersamaku. Aku bosan. Aku mulai muak. Aku bukan. Tidak kuasa aku menerima energi negatif untuk waktu berkepanjangan. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidak menghubungi dia lagi. Mungkin aku trauma bertemu dengannya. Ada ketakutan akan dijadikan tempat sampahnya lagi.


                Orang bijak mungkin berkata “janganlah kamu memilih-milih teman”. Maaf, aku belum cukup bijak untuk memahami arti himpunan kata itu. Dan aku bukan Tuhan, yang bisa kau datangi untuk berkeluh kesah, lalu kau tinggalkan ketika menemukan kesenangan baru. Itu kurang ajar.

Selasa, 07 Februari 2017

Jurnal, February 8th 2017: We are alright

Pernahkah kamu tertawa
Ketika Tuhan dengan segera
Menunjukkan eksistensinya
Dengan mendengar kalimatmu 
Kemudian mewujudkannya dengan mudahnya

                Aku benar-benar malu
                Rasanya hanya dua hari lalu
                Ketika aku memintamu
                Agar tanpa sungkan datang ke mimpiku

Siang ini kamu kembali
Kali ini tiada kata terbuang percuma
Tiada tatapan yang dingin menggetarkan jantung
Hanya saling bertukar rasa
Bahwa kita sama-sama ada

                Aku harap suatu hari nanti
                Setelah kita punya nyali
                Aku dan kamu akan bertukar tatap
                Disertai dengan lekukan bibir manis mu
                Yang bertafsir bahwa kita baik-baik saja

                Bahwa kita sudah menerima

Senin, 06 Februari 2017

Jurnal, February 7th 2017: Mimpi dan Harapan

     Pada umurku yang sudah menginjak kepala 2 ini, aku tidak pernah merayakan hari ulang tahun. Bahkan mungkin seingatku, aku sudah tidak merayakan ulang tahun ku sejak lima tahun lalu. Untuk apa sih merayakan ulang tahun? Aku tidak tahu bagaimana dengan kalian, tapi untukku, itu seperti membuang waktu dan rupiah. Menyenangkan mungkin ketika kamu menjadi pusat perhatian untuk satu hari dalam setahun, tapi cukup sampai disana saja kemeriahan itu. Esok hari orang-orang mungkin sudah lupa dengan mu. Sudah tak akan kamu dapatkan jabat tangan ucapan selamat yang disertai senyum palsu itu. Mereka akan kembali ke kesibukan masing-masing. Kembali melupakan mu. Karena alasan inilah aku cenderung menyembunyikan tanggal ulang tahunku. Tak perlu lah mereka  repot berpura mengingat hari ulang tahunku, berpura memberi selamat serta memberi doa. Aku tak butuh itu. Konsekuensinya, setiap tahun aku hanya mendapat ucapan selamat paling banyak dari lima orang teman yang memang mengingatnya. Tapi aku tidak ambil pusing. Aku terus menjaga tradisi ini, termasuk merahasiakan ini ke kamu.

       Hari itu aku ingat betul, tepat ketika hari ulang tahunku berlaku, aku ada keperluan kuliah yang cukup mendesak yang mengharuskan ku untuk berangkat pagi sekali. Saat itu aku sedang memiliki hubungan spesial dengan kamu. Selesai urusanku, aku bersikeras untuk menemuimu, karena menghabiskan hari spesial bersama seorang yang spesial adalah impian bukan? Situasi saat itu kamu tidak sadar bahwa hari itu adalah hari ulang tahunku. “Normalnya” aku pasti berharap sesuatu dari kamu. Berharap kamu punya kejutan untuk aku. Tapi tentu aku tidak berharap. Kecuali karena aku memang menghapus semua tanggal kelahiranku dari Internet, aku memang hanya ingin menghabiskan hari dengan kamu. Tidak sedikitpun terbesit amarah atau kekesalan, karena aku tahu kamu tidak tahu, dan aku maklum. Tahun itu, hanya empat orang yang mengingat hari lahirku.

      Aku memang tidak peduli dengan tanggal ulang tahunku. Tapi untuk orang yang spesial, tentu aku punya rencana. Rencana yang sangat sederhana memang. Namun untuk seorang yang tidak pernah merayakan ulang tahun selama lima tahun terakhir, dan untuk seorang yang sedang dikejar batas waktu, ini sudah merupakan kemewahan. Satu hari sebelum, aku senyum sendiri membayangkan wajahmu yang berseri karna aku ternyata tahu tanggal ulang tahunmu. Cukup mudah memang apabila ada buku digital bernama Internet. Ketika hari yang ditunggu telah jatuh, ternyata mimpi babu ku berbeda jauh dengan kenyataan. Kamu kecewa karena ketidakhadiran ragaku di hadapanmu. Mata panah kekesalanmu kemudian kamu arahkan ke sahabat-sahabat ku. SAHABAT-SAHABATKU! Dakwaan aku lebih suka menghabiskan waktu bersama mereka mulai dituang. Darahku mulai mendidih hingga ke urat leher membacanya. Pikiranku terpecah. Ku tengok ke belakangku, tidak ada seorang yang menusuk ku dengan belati. Tapi sakit ini terasa hingga ke pusat jantung. Argumen-argumen tidak berfaedah pun terlontar. Tinggal sesal yang tertinggal.


      Kesalahanmu adalah berharap tinggi pada ku yang merupakan manusia jelata. Kesalahanku adalah manusia jelata sepertiku tidak sadar bahwa aku tidak akan pernah cukup memenuhi mimpi seribu satu malam mu.

Jurnal, February 6th 2017: Aku Manusia

Penyesalan memang selalu datang terakhir
Apakah aku menyesali ini? Kurasa Tidak
Aku belajar banyak hal dari kamu
Aku belajar, bahwa aku hanya butuh waktu

     Jika aku punya kesempatan kedua, haruskah ku ambil?
     Kurasa tidak
     Kejap menyadarkanku
     Kamu pantas mendapat lebih
     Lebih dari seorang yang hidup tanpa rencana

Aku benci ide untuk melupakanmu
Untuk apa?
Aku tidak akan menyangkalnya
Suatu hari kita akan bertemu lagi
Saat itu aku akan berani menatapmu
Dan kamu akan berani menatap dalam mataku

     Tapi aku juga bukanlah dewa romansa
     Yang akan berkata aku akan selalu mencintaimu
     Akan tiba suatu masa
     Kita berhenti saling mencintai
     Mungkin esok, mungkin sekarang
     Atau mungkin beberapa masa kedepan

Jika aku bisa bertemu untuk terahir kali
Walau hanya dalam mimpi sekalipun
Aku minta jangan palingkan wajah itu
Aku juga manusia