Rabu, 22 Februari 2017

Review buku Saksi Mata by Seno Gumira Ajidarma

       Buku yang kali ini aku baca berjudul Saksi Mata yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma. Untuk kesekian kalinya, aku membaca buku yang aku tak mengerti sebelum aku membacanya. Terlebih lagi, bahkan aku tidak tau siapa itu Seno Gumira Ajidarma. Mungkin karena aku memang sangat kurang membaca buku. Mengapa aku memilih membaca buku ini? Jujur aku tidak paham jua. Hanya saja, temanku meyakinkan ku bahwa aku akan terkejut saat membacanya. Siapa yang tidak tertarik dengan pancingan seperti itu? Bukan aku tentunya.

     Halaman pertama hingga halaman kelima memang benar-benar membuatku terkejut. Bukan karena saking bagusnya, melainkan karena kengiluan yang aku rasakan saat itu. Beberapa kali aku terhenti sekejap saat membaca buku ini karena tidak dapat kutahan rasa ngilu itu. Apa sebab? Pada lima halaman pertama, ada bagian seseorang kehilangan kedua matanya. Tidak, ia tidak kehilangan penglihatannya. Ia kehilangan kedua bola matanya! Tidak cukup sampai disitu, dalam lima halaman pertama ini juga dijelaskan tentang kondisi orang tersebut, dan bagaimana sampai orang tersebut kehilangan kedua matanya. Ah sudahlah, mungkin kamu harus membacanya sendiri untuk mengerti apa yang kubicarakan.

     Itu baru satu dari sekitar 12 cerita yang ada di buku ini. Oh iya aku belum bilang ya kalau buku ini terdiri dari beberapa cerita? Ya, dan masing-masing cerita sebenarnya adalah cerita yang berdiri sendiri, namun ketika kamu membacanya, kamu akan memiliki tafsiran berlawanan dengan apa yang ku katakan barusan. Percayalah, aku paham apa yang aku katakan. Seakan terdapat benang merah tipis yang menghubungkan cerita pertama sampai cerita terakhir, yang akan membuat mu bertanya-tanya apakah diagnosamu itu benar.

     Saat mulai membaca buku ini, aku sebenarnya merasa iba dengannya. Buku ini terlalu terbebani dengan harapan ku. Kamu tentu tahu bahwa sebelum membaca buku ini, aku membaca buku TAN, yang langsung menjadi salah satu buku favorit ku, jika bukan yang paling favorit. Apakah buku ini bisa memenuhi ekspektasi ku? Sayang sekali, tapi harus aku katakan bahwa buku ini tidak sesuai dengan ekspektasiku. Jangan salah sangka, buku ini amatlah bagus dan membuka mata kita untuk beberapa sudut. Hanya saja, aku menyukai buku yang berlatar. Maksud ku, aku sangat suka buku yang menjelaskan latar cerita dengan amat detil, entah itu latar tempat ataupun latar waktu. Di buku ini, aku tidak menemukan itu. Selain itu dari sisi bahasa, aku tidak menemukan keindahan bahasa dalam buku ini seperti ketika aku menemukan keindahan bahasa dalam buku TAN. Hal ini mungkin bisa dimaklumi, karena memang TAN berlatar medio akhir 1890 sampai sekitar awal 1900, sedangkan Saksi Mata berlatar medio 1980 sampai 1990 akhir.

     Kecuali itu, buku ini benar-benar mengejutkan ku. Buku ini tidak membuatku berpikir "oh jadi seperti itu ya?", melainkan membuat ku bertanya "ini sungguh terjadi?!". Ketidakmampuanku untuk mencerna apa yang terjadi dari sudut pandang mereka membuatku bergidik ngeri. Aku percaya, setiap buku memiliki nilai wawasan tersendiri, tapi ini berbeda. Ini akan membuka matamu dari sudut pandang si "saksi mata". Menurutku, jika kamu tidak kuat membayangkan orang yang tidak punya mata, sebaiknya jangan membaca buku ini. Kecuali itu, menurutku ini buku yang sangat membuka mata dan akan mengejutkanmu!

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar