Kamis, 13 Agustus 2015

Mengkaji Ulang Konsep Pacaran

    Pacar. Adalah kata yang sudah lama sekali gue miliki. Pacaran. Adalah kata kerja yang sudah lama sekali tidak gue lakukan.

    Delapan tahun sudah gue melajang. Bukan waktu yang singkat untuk menghabiskan jatah hidup sendirian. Jadi bahan olok-olokan orang? Sudah pasti dan sudah biasa. Sedih? Engga juga. Biasa aja malah. Banyak yang bertanya apakah gue emang gak laku (dengan nada bercanda) atau emang gue lagi gak nyari. Mungkin jawabannya adalah keduanya, atau mungkin juga jawabannya adalah bukan keduanya.

    On a serious note, mungkin gue lagi dalam tahap memahami apa itu "pacar". Gue bukannya tidak terima pemahaman yang sudah ada di masyarakat mengenai pacar/pacaran, tapi coba jawab pertanyaan gue; Apa sih yang dimaksud dengan pacar?

   Secara pribadi, gue gak nemu tuh apa arti pacar. Gue tidak mempunyai definisi tersendiri mengenai apa arti dari pacar. Untungnya kita punya KBBI. Kalo kita lihat di KBBI, pacar1/pa·car / n adalah teman lawan jenis yg tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih; kekasih; (Ini KBBI ya, bukan gue.Those who support LGBT, please don't sue me). Nah sekarang kita udah punya definisi dari pacar, sekarang gue coba kaji konsepnya lebih jauh.

   Dilihat dari statusnya, gue masih gak ngerti seberapa pentingkah status "pacar" tersebut. Hal ini berkaca dari banyaknya orang yang diaccused sebagai PHP atau pemberi harapan palsu (terlepas dari pemahaman PHP itu sendiri). Ini jahat loh, meng-accuse orang seenaknya. This is Bold. Tidak hanya elo nyakitin si tertuduh, tapi tuduhan tersebut juga bisa membentuk opini publik terhadap si tertuduh, dan ini bahaya. Silahkan bayangkan sendiri dengan pikiran jernih ya, udah dewasa kan?

    Balik lagi ke masalah status. Yang gue maksud dari sini adalah, kalo emang ada dua orang saling suka, saling sayang, dan mereka bisa menunjukan rasa sayangnya kepada masing-masing, lantas apalah arti status "pacar"? Emang kemudian kalo gaada status pacar, gabisa dijalanin? Selemah itukah perasaan lu ke dia?

    Gue disini sebenernya menyayangkan penggunaan kata "cinta", "sayang", dan "love". Menurut gue, penggunaan ketiga kata tersebut tidak sesuai dengan pemahamannya. Apakah seseorang yang cinta ke seorang lawan jenis kemudian harus pacaran? Gue rasa engga.

*Paragraf barusan abstrak banget sih, gue tidak menyalahkan kalian yang gak ngerti/jika paragraf tersebut menimbulkan perpecahan

    Beranjak dari masalah status, kita kemudian bahas masalah "kepemilikan" (ugh i hate this). Why? Pernah gak kalian ngeliat orang yang berpacaran, trus pake kaos couple yang bertuliskan "He's mine" "I'm hers" dan sebagainya lah. Atau misalnya ada cowo yang bilang ke pacarnya "Tapi kan kamu pacar aku. Milik aku" atau yang marah-marah karena pacarnya digodain orang lain "Woy! Cewe gue nih!". Fuck that. Kalian masih pacaran. Status hukum juga belom ada. Terus elo merasa memiliki orang lain? Nanti dulu. Menurut dosen hukum perdata gue, hak milik (eigendom) hanyalah berlaku untuk benda. Kalian mau, kalo nanti pacaran disamain sama benda? Selain itu juga, dengan dihapuskannya perbudakan dari dunia, setiap orang terlahir merdeka. So, no one belongs to anyone except their family, imo.

   Kemudian masalah anniversary. Ini sepele sih. Bukan, bukan masalah bagaimana kalian merayakan anniversary kalian. Masalah perayaan mah itu terserah kalian. Mau bunuh diri bareng juga gue gak peduli. Yang mengganggu gue disini adalah pemahaman dari anniversary itu sendiri. Anniversary menurut google adalah 

an·ni·ver·sa·ry ˌanəˈvərs(ə)rē/
noun
noun: anniversary; plural noun: anniversaries
  1. the date on which an event took place in a previous year.

dan berasal dari kata 


    Disitu sudah sangat jelas bahwa anniversary adalah sebuah peringatan tahunan. Lalu lantas kenapa masih ada aja sih yang bilang "Happy 5th months Anniversary"? Ini ganggu banget sih kalo buat gue.

    Sebenernya masih banyak permasalahan lain yang gue temukan di dalam memahami konsep pacaran itu sendiri tapi kebanyakan subjektif sih, yang menjelaskan kenapa gue lama gak pacaran.

    But then again, as a disclaimer, ini merupakan opini gue pribadi. Jika ada perbedaan pendapat, hal itu sangatlah wajar, karena kita diciptakan berbeda. Jika kalian yang berpacaran saat ini berbahagia dengan konsep yang kalian pahami, gue ikut senang. Semoga masa depan sesuai dengan apa yang kalian inginkan. Yang baca ini terus bilang "Ah ini mah elo sirik aja karna gak punya pacar", iya gapapa, itu kan pendapat kalian. Tulisan ini dibuat bukan untuk membentuk pikiran kalian mengenai pacar/pacaran itu sendiri. Semoga kalian berbahagia! Cheers! :D















kalo ada yang mau diskusi tentang ini, yuk! ;D

Selasa, 05 Mei 2015

When The Birds Stop to Sing (Inspired by Holy City Rollers)

It's finally here
Those days that i have been afraid of
You and me
We are no longer one entity

Something is missing
Something i have thought that would always be here

The birds have stopped to sing
Really?
Or perhaps they were not singing at all from the beginning
My mind still trying to digest
Digest all of this

This just not make any sense
We were alright
Everything just fine
We were halfway there to our dreams
We were excited for what universe have in store for us
But then we lost appetite

Are we just not meant to be "us"?
Are we forcing to be "us"?

This reminds me of that fairy tale
Cinderella....
Remember what the fairy told Cinderella?
That her time is up at 12?
We are at that twelve.

Rabu, 22 April 2015

Cerita Tentang Seorang Teman (II)

     Seperti janji gue di post sebelumnya, biar gak keliatan gay-gay amat, sekarang gue bakal nyeritain tentang seorang temen cewe yang menurut gue cukup mengisi hidup gue yang baru 21 tahun ini.

     Namanya Amelia Vindy. Cukup segitu aja formil dari dia yang perlu kalian ketahui. Kalo misalnya beberapa dari kalian yang ngebaca ini kenal sama dia, gue gaakan heran. Dia cukup gaul udah sejak lama. Sejak jaman gigs metal lah seinget gue. Gue juga tau (tau ya, bukan kenal) dia sebenernya udah sejak jaman gigs itu, kalo gak salah sih gara-gara dia ini pacar dari salah satu temen gue (yang gak mau lagi disebut namanya). Kalo soal kapan kenal, gue sempet lupa, karena emang gue cukup pikun untuk mengingat itu semua. Tapi setelah gue tanya ke dia kapan kita beneran "kenal" gue baru inget ternyata kita baru bener proper kenal itu sejak kita sekelas di BTA. Itu pun engga berjalan mulus. Gue saat itu gaada temen di kelas tersebut, yang dimana membuat gue sebagai sosok yang pendiam. Sedangkan dia di kelas itu temennya banyak, sehingga membuat dia sebagai sosok yang cukup bawel, at least menurut gue. Di kelas itu juga gue sempet dibilang gay, which made me forever grateful, karena kalo gak gitu gue gak bakal ngeblend sama kelas.

     Butuh waktu lama bagi gue untuk menjelaskan kepribadian dari temen gue ini. Bicaranya ceplas ceplos dengan logat betawi yang cukup kental bagi seorang cewe. Mungkin dia salah satu dari sedikit cewe yang gak mudah baper dan cukup realistis. Gak baper dalam arti kalo misalnya gue ejek dia dengan salah satu NSFW words yang tersebar di masyarakat, dia gak ada marah-marahnya. Malah ketawa dan ngebales dengan NSFW words yang lain. Soal cukup realistis, gue sama sekali gak bisa ngebreakdown apa yang dimaksud dengan "realistis". The words explain itself. Tapi yang perlu gue jelaskan disini adalah, Vindy ini baru berpikir realistis setelah berpacaran sama pacar terbarunya sih seinget gue.

    Dulu waktu pertama kali ngeliat dia, waktu masih normal, buat gue dia lumayan wah lah. Ya gimana sih, rambut panjang lurus mulus muka cantik kulit putih standar cewe-cewe Ibukota lah. But if you asked me now, gue akan selalu nganga kalo ketemu dia. Engga, bukan karena terpesona, tapi gara-gara kaget. Tampilan dia dalam tiga pertemuan terakhir sangat berbeda dari perempuan biasanya yang gue lihat. Dulu waktu masih sama mantannya, kalo jalan sama gue hampir selalu pake atasan kembang-kembang ala 80'an plus her braids hair. Beda? Banget. Gue bener-bener nganga waktu itu. Belum berhenti sampe situ, gue kembali dikejutkan dengan dia yang memotong rambut panjangnya jadi pendek mampus dengan model pixie (Baru sadar, ini model rambut apa model sepeda?)  Saat itu gue yakin, orang-orang yang ngeliat gue jalan sama dia pasti berpikir gue gay. RAMBUT DIA COWO ABIS. Bahkan hampir mirip sama gue. Disitu gue mulai jaga jarak. Engga deng.

     Tapi dibalik semua itu, yang gue suka dari dia adalah, sejauh ingatan gue, gue sangat jarang dikecewakan sama dia. Paling cuma sekali dua kali lah itu juga masalah sepele. Disamping itu, karena dia gak gampang baper, gue bisa bercanda apapun sama dia yang bisa bikin gue ketawa, at least ngerasa happy lah kalo ada dia.

     Thanks vin, for being what you are!

Selasa, 07 April 2015

Cerita Tentang Seorang Teman (I)

     Should i make this as a series?

     As promised, gue bakal mulai cerita tentang satu per satu temen gue. Gue sebenarnya sangat berat untuk nulis tentang hal ini. Bukan, bukan karena ada yang menekan gue untuk menulis, tapi yang bikin gue berat adalah harus mulai dari mana kah gue? I mean, gue bukan tipe orang yang gaul yang dimana-mana punya temen dan selalu diharapkan kehadirannya. Gue jauh dari itu. But still, i have a lot of friends dan gue punya banyak temen yang sebenernya pengen gue ceritain. Should we start from my elementary friends? or high school mates? or college mate? I really can't decide, but, i have someone in mind. Ah fuck it, let's just start with my college mate, Adhimas Putrastyo Hutomo.

   No, i'm not gay. Gue tau beberapa orang yang bakalan baca ini berpikir gue gay karena nyeritain tentang temen cowo. Di blog. Like i fahkin care, your approval is not needed. Kalo ada yang berpikir gue gay gara-gara gue nulis tentang cowo di blog, shame on you mate. Gue prihatin dengan betapa sempitnya cara berpikir lu.

   Jadi temen yang pertama (dari banyak) yang bakal gue ceritain ini adalah temen main gue di kampus. Kenapa gue cerita tentang dia duluan? Well he's one of my closest friend (out of The Big Four) right now. Gue lupa banget kapan dan gimana kenalnya gue sama dia, but somehow we get along well. Kalo kalian berpikir bahwa gue nyeritain orang ini karena dia berkharisma, atau karena dia brilian, atau karena dia ganteng banget, atau karena dia cewenya banyak, kalian salah besar. Dan kalo ekspektasi kalian sudah demikian dan ternyata salah trus kesel, itu di pojok kanan ada tombol "X" warna putih dikelilingi kotak merah, coba klik deh. Ya, Adhimas bisa dikatakan jauh dari itu. Well, ganteng relatif sih, tapi... yah coba kalian googling aja deh.

    Yang membuat gue nyeritain tentang dia paling awal adalah karena tadi, dia adalah salah satu temen terdekat gue saat ini. Kedua, otak kita udah sama. We're a joker. We have common mindset. We have common NSFW jokes. We have almost everything in common. Isn't that great? Because these days, sangat sulit untuk nemuin yang bener-bener bisa mirip sama lu dalam hal perilaku dan pemikiran. Orang ini adalah orang tolol yang bisa ngebuat gue berubah dari murung jadi ketawa-ketawa tolol gapunya otak layaknya monyet lepas, baik di kampus maupun di stasiun atau di kereta.

   Rumah gue sama dia deketan. Gak deket-deket amat sih, gue di Jaktim dia di Bekasi. Iya Bekasi, yang disitu, gak jauh-jauh amat kok dari rumah gue. Gak perlu naik roket. Norak kalian. Gue sering pulang bareng, jadi gue sering barengan juga di kereta. Kalo kita udah naik kereta bareng, cuma ada 3 hal yang mungkin kita omongin. Pertama, ngomongin cewe siapapun itu, mau kenal mau engga bodo amat, kedua NSFW jokes, ketiga mencoba mengerti cewe. Hahaha pecundang abis sih kedengerannya. But seriously, gue sama dia sering bahas isu yang ada di masyarakat yang berkaitan dengan perempuan, such as, kita ngebahas mungkin gak sih cewe yang melakukan first move?

    Buat kalian yang merasa pernah ditanya hal yang mirip, akhirnya kalian tau kan alasan gue mewawancara kalian? :D

   Pengalaman yang mungkin gak bakal gue lupain bareng dia mungkin waktu kejebak di lift kampus. Yap. Kejebak. Di. Lift. Kampus. Berdua. Saat itu mungkin bisa menjadi mimpi buruk bagi gue maupun dia, tapi entah kenapa saat gue tau gue terjebak di lift bareng dia, gue santai. Gue bisa enjoy aja tuh ngadepin masalah kejebak di lift. Percaya sama gue, waktu itu gue malah ketawa-ketawa goblok ama doi. Sesuatu hal yang biasanya gak dilakukan orang normal waktu kejebak di lift. This guy is a joker if you know him well!

   Udahan ah, awkward nyet! Intinya, dia bro gue dah! Kenalan gih kalian!











p.s. Setelah ini gue bakal nyeritain tentang temen cewe deh, biar gak terlihat gay

Senin, 30 Maret 2015

Anarchy at Cakung Station (Poetry)

I see you running from me fast
Is that necessary?
This heart beats fast every time you came across this mind
Like any train wouldn't catch up

I'm still here, thinking what's wrong
Clock ticking, but it doesn't matter
I got something to catch
My class, and you
You, the one who running fast
Leaving me here
Should i catch you?

My train arrives late
And it makes me think,
Am i too late for you?

I just don't get it
God is merciful. God is philanthropist
Giving me chance to step in the train every day
Unlike you
You make it as if i have a chance
Never have i been so wrong in my whole life
Keep up with your pace is just a pie in the sky

Waiting for a train, standing at the edge of the platform
Easy. I can do it all day
Waiting for you? You are a different case
One of my leg is already crumbling down withing first minutes

Am i the one to blame?
Could be. I haven't been in this situation for so long

By the time i'm going to blame myself, i have arrive, at my college
Seeing my close friends, share some laughs, attend the class, repeat
They make me feel comfortable
This is my place
With them, i could forget you all day, all night

Maybe they are just the ones i wanted
The one i needed
But hey, if you're coming,
This heart is an open door

For you




Rabu, 18 Maret 2015

Should i do it? What do you guys think?

     Againts all the odds, sepertinya gue dalam beberapa waktu ke depan akan aktif menulis lagi disini. Semua ini dikarenakan waktu kuliah gue hari selasa-kamis itu gabut setengah mampus. Daripada menghabiskan sesuatu yang mengurangi protein dalam tubuh, gue berpikir akan sangat baik untuk menghabiskan waktu gue disini, bercerita tentang apa saja yang gue pengen dan gue suka.
      Permasalahannya, gue engga tau harus mulai nulis apa. I mean, gue orangnya bacot. Gue bisa ngomong panjang lebar tentang apapun, asal gue mengerti dan yang paling penting pembicaraan tersebut memiliki topik yang jelas. Nah gue kehilangan poin kedua tersebut. Sebelumnya gue udah sempet nanya ke beberapa temen, akan hal apa sih yang mau kalian liat gue tulis. Dari beberapa masukan, mengerucut ke topik "bikin puisi" atau "ceritain tentang temen-temen yang punya kesan baik ke gue".
       What do you guys think? Should i make poetry of story about my friends one by one? Or should i do both? Leave the comments below to give your suggestion if you have time to do so!
       Anyway i can't guarantee that i will do it daily because exam week is just around the corner and i don't want to do it in rush just for quantity, but i'll do my best!

Senin, 16 Maret 2015

Life Lesson from Dad!

         Gue yakin, bahwa didalam setiap raga setiap pribadi kodrati memiliki semacam kode etik yang berlaku bagi diri sendiri. Kenapa gue bisa bilang begitu? Because i have that kind of thing in me. I'm not trying to be cocky, but i think everyone should. Here, gue mungkin bakal ngomongin beberapa kode etik atau prinsip hidup yang gue punya untuk ngejalanin kehidupan yang makin lama makin brutal ini. Buat gue, prinsip semacam ini penting, karena kalo lu gak punya sesuatu yang lu pegang teguh dalam hidup, lu gampang disetir sama orang, which is dangerous. Dangerous for yourself, and maybe dangerous for someone else.

        Prinsip hidup yang paling mendasar buat gue sebenernya adalah etika. Kalo etika lu bagus, sopan santun, gue rasa lu akan aman-aman aja di dunia, selain rajin ibadah tentunya. I'm not going to rant about ethics anymore, karna gue udah pernah nulis tentang etika di post sebelum ini. yang akan gue ceritakan kali ini (dan mungkin beberapa post kedepan) adalah prinsip hidup yang gue punya, yang gue pegang teguh hasil dari tindakan dan ucapan bokap gue.

        Hampir semua bapak/ayah/papi di dunia ini adalah heroes bagi anak-anaknya, dan gue yakin beberapa dari kalian mengamini statement tersebut. Hal ini juga berlaku buat gue. Gue melihat bokap gue merupakan orang yang berpendirian teguh, dan memiliki etika yang cukup strict. Hal ini wajar, karena bokap sering cerita bahwa beliau datang dari keluarga yang bisa dikatakan kelas ekonomi bawah pada jamannya. Orang tua beliau (which is kakek nenek gue) bukanlah orang yang "berpendidikan". Nenek gue hanya lulusan SMA, sedangkan kakek gue hanya punya ijazah menjahit. Harta pun tidak ada yang bisa diberikan kepada anak-anaknya sebagai bekal. Untuk itu, kakek gue selalu mendidik anak-anaknya (including my dad) untuk memiliki semacam kode etik dalam menjalani hidup, dan gue rasa itu berhasil.

       Inti ceritanya, tempo hari, hari sabtu gue lupa tanggal berapa, gue lagi di perjalanan bersama bokap dan kakak pertama gue. Di tengah jalan, bokap mendapat telepon dari temennya. Singkat cerita, temen bokap ini minta ketemuan mendadak satu jam dari saat itu. Gue yang saat itu bertindak sebagai supir, lantas ngebut dong. Ini masalah kerjaan gitu, dan gue yakin penting karena bokap gue langsung minta didahulukan dari kakak gue. Pas ngebut, bokap nyeletuk, "gausah ngebut nang nyetirnya, santai aja". Heran, gue tanya, "lah bukannya bapak ada janji sama orang sejam lagi? Nanti kalo gak kekejar gimana? Bokap cuma bisa semacam giggle dan bilang "Yah kalo emang gak kekejar mungkin emang bukan rejeki nya nang. Lagian, coba kamu pikir. Diluar sana orang banyak yang terburu-buru ngejar waktu takut terlambat untuk ketemu sama boss atau klien. Tapi pernah gak kamu liat, orang terburu-buru ngejar waktu takut terlambar shalat? Nah itu bapak gamau yang kayak gitu"

      Deg. Itu sekaligus menampar gue sih. Gue saat itu cuma bisa ngomong dalam hati "bener juga anjir". Sayangnya, mencoba tidak naif, saat ini itu baru menjadi bahan renungan buat gue. Tapi itu juga sekaligus mengubah cara pandang gue terhadap "mengejar waktu" sih, which is menjadi sesuatu yang gue pegang sebagai pedoman.

Sabtu, 14 Februari 2015

Etika Sosialita

          Sesuai dengan judul tulisan ini, gue kali ini bakalan ngomongin tentang etika. Kenapa? Gini, yang gue liat sih akhir-akhir ini, banyak banget orang yang udah gak peduli sama yang namanya etika. Jujur, gue sering banget jadi korban dari orang yang gak memegang teguh yang namanya etika. I mean, etika itu kan harusnya mendarah daging ya, gausah diajarin lagi di sekolah. Emang kalian gak diajarin etika waktu kecil?

         Sebelum ngelantur sana-sini, kita breakdown dulu, apasih etika itu? Gue berpandangan bahwa berupaya mendifinisikan etika itu sama aja kayak berusaha mendifinisikan apa arti hukum. Gaada yang bener, gaada yang salah. Semua punya pendapat masing-masing. Gue pribadi berpandangan bahwa etika merupakan suatu prinsip dasar dalam diri yang dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan. Bahasa kerennya sih kalo jaman sekarang nyebutnya “Code”. But i don’t think every person have their own code.

            Soal etika, gue emang bukan ahlinya. Gue bukanlah ahli etika yang udah bikin buku tentang etika, bukan juga seseorang yang bisa ngajarin kalian soal etika. But at least, gue rasa gue punya etika yang jauh lebih baik dari kebanyakan orang diluar sana. This thanks to my dad, he though me a lot about ethics. Berkat beliau, gue punya banyak “code” didalam diri gue. Contoh sederhananya aja, gue pernah ngeluh ke bokap karena gue pernah nganterin cewe yang rumahnya di bekasi nan jauh disana. Apa yang gue keluhkan? Gampangnya, rumah gue itu belok kiri, trus lurus 100 meter nyampe. Nah rumah cewe ini, belok kanan, lurus 5 Kilometer, baru nyampe. Ngeluh? Wajar. Pas gue bilang gini ke bokap, bokap cuma ketawa sebentar trus bilang, “tapi kamu kalo pergi sama cewe pulangnya harus kamu anterin sampe rumah lho nang.” Sampe sekarang etika ini gue pegang teguh. Sepele? Jangan salah. Kewajiban? Wajar? Eits nanti dulu. Ada lho cowo yang kalo nganterin cewe pulang bilang gini “eh gue anterin sampe blablabla aja ya. Rumah lu jauh. Males muternya”. So gals, if you somehow go out with me, trust me, you’re in good hands J

            Tapi bukan soal itu yang gue ributkan sampe gue menulis tulisan ini. Yang gue ributkan adalah etika seseorang dalam “keeping their words”. Bisa gue bilang ini langka. Kalo boleh gue meminjam tagline suatu produk, jarang orang yang jaman sekarang tuh memberi bukti, bukan sekedar janji. Kasarnya nih, kebanyakan pada “janji aja dulu. Ntar kalo gajadi tinggal alasan apakek yang darurat gitu”. Bukan itu masalahnya. Kalo emang darurat, pasti pihak yang dirugikan ngerti kok. Permasalahannya disini adalah seberapa besar sih effort kalian in keeping your words? Gue sih ngeliatnya banyak tuh orang yang gaada effort sama sekali dalam hal ini. Udah, lemesin aja. Tinggal minta maaf, beres.

 Pengingkaran janji jaman sekarang bisa juga dimulai dengan kalimat “Insya Allah”[1]. Ya, banyak orang jaman sekarang yang ketika berjanji, selalu menggunakan embel-embel “Insya Allah ya” dan kemudian mengingkari janji tersebut seakan-akan it’s nothing. Bro, lu gatau seberapa besar arti kalimat “Insya Allah” ya? Pengingkaran janji yang tipe ini really piss me off. Kalo emang gak niat untuk nepatin janji nih, jangan sekali-sekali lah pake kalimat “Insya Allah”. Malu sama agama. Apalagi emang pemeluk agama tersebut.

Etika yang akan gue bahas terakhir dan gue tekankan keras ini adalah etika dalam menerima tamu. “Emang ada etika khususnya nang? Jangan sok tau!” Sabar dulu bos. Ini berdasarkan pengalaman gue. Gue pernah suatu ketika parkir di depan rumah temen gue, katakanlah X, untuk janjian sama Y. Pas parkir, gue liat dengan mata kepala gue sendiri si X ini ada dirumah, lagi bukain pintu buat temennya yang mau masuk. Karna nungguin Y yang lama, gue memutuskan untuk masuk ke rumah X. Singkat kata, adeknya yg nerima gue diluar bilang gini “maaf kak, lupa, ternyata X nya gaada”. Jaing. Gaada respect sama sekali.

Seriously guys, where did your ethics go?

Gue akan menutup tulisan ini dengan suatu quotes dari film Scarface, yang berbunyi:
“ All I have is my words and my balls, and i dont break them for anyone”



[1]Dengan segala hormat, penulis tidak bermaksud melecehkan atau merendahkan suatu agama tertentu. Ini berdasarkan realita yang penulis alami. Apabila ada pihak yang tidak berkenan, penulis minta maaf sebesar-besarnya