Kamis, 19 Januari 2017

Review buku Bukan Pasar Malam by Pramoedya Ananta Toer

     Yap, Anda tidak salah membaca judul dari post ini. Saya akan menulis review sebuah buku. Sesuatu yang baru memang, namun menarik untuk dicoba. This is my first book review, so go easy on me. Cheers! :D

    Saya akan mulai dari awal mula mengapa saya membaca buku ini. Kita semua tahu bahwa sekarang ini sudah memasuki minggu ketiga tahun 2017. Dan seperti manusia pada umumnya, saya membuat sebuah resolusi. Ya, hanya sebuah, tidak muluk. Resolusi saya tahun ini adalah mulai membaca. Membaca buku lebih tepatnya. Sederhana, namun sukar. Pertanyaannya kemudian, mengapa resolusinya membaca buku? 

     Beberapa minggu sebelum tahun 2017 mulai, saya mulai tersadarkan bahwa saya terlalu terhisap pada sebuah alat, yaitu smartphone. Sebenarnya hal ini bukanlah hal buruk, apabila memang digunakan untuk hal yang bermanfaat. Saya pun bukannya menggunakan untuk hal-hal yang buruk, tetapi konsekuensi dari hal ini yang menurut saya buruk. Penglihatan saya mulai berkurang daya. Saya mulai kembali sulit melihat benda-benda yang berjarak. Ini diperparah dengan kebiasaan saya bermain console dari jarak dekat. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali membaca buku. Mungkin tidak relevan dengan keluhan dari mata saya, tapi setidaknya mata saya tidak rusak dengan sia-sia.

     Pertanyaan yang berikutnya muncul adalah, "buku apa yang harus saya baca untuk memulai?" Tak menunggu esok, saya langsung bertanya ke Dion, seorang teman yang rajin membaca (dan menulis! Sila dicek di sini), tentang buku apa yang seharusnya saya baca sebagai permulaan. Dia menyarankan Bukan Pasar Malam karangan Pramoedya Ananta Toer. 

     Nama Pramoedya Ananta Toer bukan nama asing di telinga saya. Dan bahkan bukan nama asing di dunia. Saya tahu nama besar beliau.  Tahu, belum mengerti. Ya, walaupun saya tahu bahwa beliau adalah seorang yang memiliki nama besar, saya belum paham betul apa yang membuat nama beliau dihormati di dunia. Ini adalah karya pertama beliau yang saya baca. Sebuah karya yang mulai membuka mata saya akan betapa besarnya nama beliau.

*** Contain Spoilers***

     Bukan Pasar Malam merupakan novel fiksi lama yang sudah diterbitkan sejak tahun 1951. Fiksi ini menceritakan tentang sosok "Aku" dari sudut pandang orang pertama, yang hidup pada medio sebelum hingga sesudah Indonesia berdaulat. Fiksi ini mengisahkan tentang Aku yang hidup susah di Jakarta, kota yang penuh dengan mobil dan para bajingan*, yang kemudian harus kembali ke tanah kelahirannya untuk menghadapi suatu realita yang tidak terhindarkan, melihat keadaan ayah, sosok yang merupakan panutan bagi Aku. Fokus dari novel ini menurut saya terletak pada bagaimana hubungan antara seorang ayah dan anak, dimana sang ayah memiliki pandangan tersendiri terhadap profesi yang ia cinta dan enggan ia tinggalkan. Sebuah kecintaan yang melahirkan rasa hormat. Lebih dari itu, pembaca juga disuguhkan dengan Aku yang kental dengan emosi mengingat apa yang telah ia lakukan pada si ayah. Tidak luput pula cerita tentang pertentangan batin antara masa lampau dengan kini sepanjang perjalanan menuju tanah kelahiran. 

     Karya ini merupakan tulisan yang menurut saya cukup ringan untuk dibaca. Saya hanya membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk melahap habis fiksi ini. Salah satu kesulitan kecil yang saya hadapi mungkin hanya persoalan tutur kata dalam fiksi ini, karena seperti yang sudah saya katakan, Aku hidup pada media sebelum hingga sesudah Indonesia berdaulat. Kesulitan tersebut mengingatkan saya bahwa linguistik pada era ini sudah banyak berubah jika dibandingkan dengan masa dahulu. Sebuah novel yang membuat pembaca dapat melihat sisi lain dari suatu kehidupan. Karya ini sangat pantas untuk Anda baca dan mengisi rak buku di rumah! Tidak berlebihan rasanya jika saya memberi nilai 8/10 untuk salah satu karya dari Pramoedya Ananta Toer ini, mengingat banyaknya penghargaan yang diterima oleh karya ini.






*pada karya tertulis demikian

Solitude Is Bliss

Sesuatu bangkit hanya untuk jatuh
Makhluk hidup hanya untuk mati
Seseorang bertemu hanya untuk berpisah
Sebuah siklus yang tidak terbantah

     Sejak awal aku sudah sangat sadar
     Berpisah denganmu adalah kepastian
     Entah mungkin karena kematian
     Atau karna ego yang timbul perlahan

Jerih payah ku membuka halaman baru 
Seolah menemui lawan sepadan
Sosok mu yang telah hilang dari pandangan
Namun masih terjebak dalam pikiran

     Sudah berapa malam yang aku lewatkan
     Berkelahi dengan rasa dan angan
     Untuk setengah mati memejamkan mata
     Berharap pagi sekejap tiba