Seperti yang sudah tertera pada header blog ini, tulisan yang akan saya tulis/kalian baca ini merupakan hal yang sepele, cenderung tidak penting bagi kalian. Namun aku menulis ini karena batinku tengah gaduh. Terdapat pertentangan nalar. Bercerita kepada teman pun aku sudah tahu apa yang akan mereka katakan. Berbicara langsung kepada objek dari cerita yang akan kalian baca? Jangan berpikir ke arah sana, sudah tiada guna. Dia sudah berbahagia.
Saatnya ku bercerita dari sudut mata ku. Akan banyak puing-puing cerita yang tidak aku letakkan disini, maklumi saja. Terlalu panjang nanti. Kalau kamu, iya kamu, membaca tulisan ini, renungkan. Itu saja. Setelahnya kamu buang jauh-jauh pun tak apa. Kamu sudah bahagia, tidak pantas larut dalam ini.
Seperti yang khalayak ramai telah ketahui, sudah lewat dari satu tahun aku memutuskan hubunganku dengan mantan kekasihku. Dan seperti biasa, pada setiap perpisahan, selalu ada tiga sisi cerita, yakni cerita versi ku, versi dia, dan kebenaran. Kalian akan membaca cerita versi ku. Perpisahan tahun lalu itu sejujurnya lumayan berat bagi ku, karena dia merupakan satu-satunya perempuan yang memang aku berniat serius dari awal, dan aku memang tidak ingin berpisah.
Namun demikian, ia meyakinkan ku bahwa ia telah berpikir masak-masak, dan aku sadar aku tidak mampu membahagiakan dia selama empat bulan kami bersama. Karena aku merasa telah gagal untuk membahagiakan dia, ku pun menyetujuinya, tentunya diiringi ucapan terima kasih. Aku terlalu sayang kepadanya sehingga aku biarkan dia lepas dariku, karena aku tau dia akan bahagia setelahnya.
Sebenarnya sederhana, dia terlalu membebani ku dengan status "pacar" ini. Yang aku berikan selalu dirasa kurang oleh dia. Padahal kalau menurutku, yang aku upayakan sudah merupakan usaha terbaik ku. Harus kuakui, aku memang masih belajar dalam hal ini, jadi kalian mungkin akan menganggap bahwa upaya ku tidak ada apa-apanya. Yang membuat sakit adalah, upaya terbaik ku dia anggap tak ada apa-apanya, bahwa aku tidak pernah sayang pada nya.
Enough for me, but not much for you. Won't you forgive me that's all I can do.
Sedih? Tentu saja. Aku memang tidak menampakkan kesedihan itu, tapi retakan di hati tetap ada. Aku pikir, apa guna aku menampakkan kesedihan ku? Toh hanya segelintir yang benar-benar peduli. Yang lain hanya pernasaran. Aku juga tidak ingin membagi energi negatif yang saat itu sedang menghinggapi ku. Aku ingin tetap membagi energi positif kepada manusia di sekitar ku. Sehingga saat itu mungkin dia dan kalian melihatku akan berpikir bahwa aku baik-baik saja.
Siapa bilang?
Seperti yang sudah aku bilang, rasa ku di dalam tetaplah remuk redam. Hancur karena berpisah dengan orang terkasih. Setelah berpisah pun aku masih mengikuti dia melalu media sosial. Aku pun tau bagaimana ia menempatkan diri sebagai korban, dan aku ditempatkan sebagai bajingan. Mungkin aku memang bajingan, tapi apa orang asing juga pantas untuk tahu bahwa aku seorang bajingan? Melakukan pembelaan di media sosial adalah percuma. Pengikut ku bukan lah pasar dia, dan semakin aku jelaskan, aku akan semakin salah. Aku pun diam.
Adalah salah satu kejadian yang menarik, saat dia sedang kebingungan untuk memilih sepatu. Dia menyebut bahwa lebih galau memilih sepatu daripada galau putus. Ya, aku memang tidak lebih berharga dibandingkan dengan sepatu itu.
Sampai suatu ketika ada suatu rasa ingin kembali. Ingin mengulang masa indah itu. Walaupun aku tahu bahwa mengulang masa indah juga berarti mengulang semua keluh kesah. Tapi tak apa, mungkin karena kepalang cinta. Sempat berpikir bahwa ini hanyalah rasa sepi yang akan sirna, namun melalui media sosial pun aku tahu dia merasa hal yang sama.
Rasa ingin kembali itu selalu tertahan dengan berbagai alasan. Sampai pada awal tahun 2017, saat aku sudah memantapkan tujuanku untuk kembali, aku kembali terhenti. Kali ini karena cuitan nya yang sekiranya berbunyi:
"Kalau laki-laki mau ditemenin dari 0 tapi dia udah punya tujuan hidup dan udah tau arah hidupnya mau kemana, mau deh nemenin. Tapi kalo ditemenin dari 0 dan belom punya tujuan hidup dan arah, ya males juga."
Jleb. Seakan ada parang yang menembus relung ku. Perlu kalian ketahui, saat itu kondisi ku memang sedang pengangguran (sampai sekarang pun), dan tidak ada arah tujuan. Aku tidak tau apakah dia memang menujukan ini kepada ku atau tidak, tapi ini terasa hingga ke rongga dada. Ini pun membuatku tidak bernyali untuk bertegur sapa dengan dia, apalagi menatap kembali matanya. Sehingga rasa untuk kembali pun kembali aku tunda.
Karena mungkin aku sangat ingin kembali, aku sangat giat mencari kerja. Sampai terbesit di pikiranku untuk mengambil jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Apapun akan ku lakukan untuk bisa kembali. Karena setidaknya, kalau aku berhasil diterima di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, aku akan memiliki tujuan hidup untuk 1-2 tahun kemudian.
Sampai lah aku akhirnya mendaftar jenjang pendidikan lanjutan di salah satu universitas negeri. Aku sudah membayangkan apa yang akan terjadi: aku ikut tes masuk, kemudian aku diterima (aku sangat yakin dan menggebu-gebu saat itu), dan besoknya aku akan langsung menghubungi dia. Rencana yang apik. Setidaknya itu yang aku kira.
Ternyata yang didamba sudah bersama seorang pria. Tentu kecewa. Berat. Hilang sudah niat ku untuk mengikuti tes masuk. Untuk apa? Tujuan ku sudah tidak ada. Aku pun dengan gontai mengikuti tes tersebut.
"Konyol", pikir ku.
Ternyata selama ini aku jatuh bangun untuk seseorang yang sudah bersama orang lain. Namun aku tetap menyimpan rasa ingin kembali itu, walaupun aku tanam dalam-dalam.
Sampai suatu hari, aku membaca media sosial miliknya, dan saat itu dia sedang menertawakan ide untuk kembali. Ada seorang influencer di salah satu media sosial yang menyatire akan ide untuk suatu pasangan kembali, dan dia tertawa keras mengenai itu. Aku tidak mengerti. Kalau cerita aku dan dia sebegitu jenakanya untuk dia tertawakan, mengapa tidak sejak awal saja dia tolak aku? Aku rasa itu lebih adil untuk ku. Sudahlah, aku rasa, aku sudah tidak ingin kembali.
Mungkin bukan aku yang tidak pernah menyayangi dia. Mungkin aku yang tidak pernah ada di hati dan pikiran dia.