Rabu, 28 Oktober 2020

Day 28 Writing Challenge: Write About Loving Someone

             Mencintai seseorang itu menurut gue harus dimulai dengan mencintai diri sendiri terlebih dahulu. Ini penting. Banyak orang yang masuk ke suatu hubungan percintaan tanpa mencintai dirinya sendiri. Itu bahaya, karena nanti ada kemungkinan lu akan menyakiti diri lu sendiri demi membuat si pasangan bahagia. Sebelum masuk ke suatu hubungan, lu udah harus tau dulu apa sih yang ngebuat lu nyaman, dan apa sih yang ngebuat lu ga nyaman? Lu juga harus tau dulu apa yang lu mau dan apa tujuan lu mencintai seseorang ini. Ketika lu udah tau semuanya dan sudah bulat untuk masuk ke suatu hubungan, baru deh lu harus bisa mengomunikasiin apa yang tadi udahlu ketahui.

            Itu sebelum lu masuk ke suatu hubungan. Nah kalo udah mencintai seseorang dan masuk ke suatu hubungan, langkah berikutnya ya lu harus tau cara untuk mencintai si pasangan. Maksudnya gimana? Ada yang namanya love language. Mau bagaimanapun metodenya, yang namanya love language ini nyata keberadaannya. Ketika mencintai seseorang, selain mencintai dia dengan cara kita, kita juga harus mencintai dia dengan caranya dia. Kalau kita mencintai dia hanya dengan cara kita, itu namanya egois.

              Terakhir mungkin lu juga harus tau bahwa yang namanya mencintai seseorang itu penuh dengan pengorbanan. Love is not about taking, it is about giving. Kalau ini berlaku dua arah, niscaya sih kalian gaakan kehilangan apapun. Mencintai seseorang itu juga berarti lu harus kompromi sama idealisme lu. Kompromi ini juga penting, karena balik lagi, kalo ga kompromi ya itu namanya egois. Oiya, dan juga komitmen sih.

Day 27 Writing Challenge: Someone Who Inspire Me

             Bicara soal tokoh inspiratif pasti banyak banget ya. Ada yang berada di lingkungan terdekat lu, atau mungkin ada yang berada jauuuuh dari sekitar lu yang mana mungkin lu cuma kenal lewat buku. Bicara soal siapa tokoh yang menginspirasi gue, gue harus angkat topi dan bilang bahwa salah satu orang yang sangat inspiratif buat gue adalah Pak Edgar Ekaputra. Gue yakin yang membaca tulisan ini pasti bertanya-tanya, siapakah gerangan. Dan sebenarnya wajar kalau kalian bertanya-tanya, karena beliau bukanlah seseorang yang lazim untuk diketahui oleh orang awam. Walopun demikian, di dunia beliau, beliau merupakan orang yang sangat terkenal. 

              Beliau merupakan dosen gue saat gue ngambil program S2. Saat ngajar waktu itu, posisi beliau menjabat sebagai Executive Director dari Ernst & Young Indonesia. Dan kalau kalian liat pengalaman kerja beliau, gue jamin kalian pasti berdecak kagum karena pengalaman kerja beliau ga main-main. Seinget gue di awal karir beliau, beliau udah kerja di JP Chase Morgan. Dengan pengalaman kerja yang cukup mengerikan tersebut, beliau orangnya sangat ramah dan down to earth. Dandanannya ketika ngajar juga tidak necis. Beliau sempat bilang bahkan kaca mata beliau hanya seharga lima belas ribu, membuat gue tersipu malu dengan kaca mata gue yang terbilang mahal ini. Sejak pertama kali denger beliau bicara di depan kelas, gue langsung tau bahwa gue pasti bakal seneng dan bisa terbuka untuk ngobrol sama beliau. Beliau pun juga ga ragu-ragu untuk ngasih ilmunya secara cuma-cuma. Ilmu yang diberikan pun tidak hanya hard skill, tapi juga soft skill. Dengan segala kehidupan yang gue yakin sangat sibuk tersebut, beliau bahkan tidak pernah telah untuk hadir di kelas di hari Sabtu. Salut!

Day 26 Writing Challenge: Your School

             Bicara soal sekolah, udah pasti banget harus ngomongin masa-masa SMA. Masa-masa SMA tu masa-masa keemasan banget ga sih? Belajar di kelas juga isinya bercanda doang. Kemana-mana pake putih abu-abu ngerasa udah paling jagoan lah kemana-mana. Buat gue masa-masa SMA gue sebenarnya cukup membosankan. Sejak kecil gue bukan tipe siswa yang rebel. Gue ga pernah bikin masalah sama guru atau siswa lain, sesuatu yang sebenernya gue sesali sih sekarang. Soal pergaulan juga gue bukan tipe yang bandel. Waktu SMA ketika yang lain lagi nyoba-nyoba sana sini, gue engga tuh. Gue ga ngerokok, ga dugem, dan ga minum alkohol (karena minum alkoholnya pas SMP) hahaha. Soal pelajaran pun gue bukan tipe yang pinter banget gitu lah, walopun tetep sepuluh besar seinget gue. Ini yang kemudian gue sesalin, karena sebenernya gue tu bukan yang terpelajar banget, dan gue ga yang nongkrong banget. Jadi gue ada di tengah-tengah lah.

        Bicara masa SMA juga berarti bicara soal keluarga kedua gue. Dan gue bilang ini bukan sembarangan, karena emang bisa dibilang saat itu tuh di Labschool kalo udah ngegeng, yaaaa jadi deket banget berasa kayak keluarga sendiri. Tagline sekolah gue aja udah "Labschool Rumah Keduaku", yaaa artinya kita di situ sekeluarga. Ga juga sih hahaha gue ga kenal sama senior/junior. Intinya di Labschool gue menemukan semacam keluarga kedua. Gue nemu orang-orang yang kepada mereka gue bisa cerita apapun, mau itu soal percintaan lah, soal karir lah, soal kesehatan mental, dan lain sebagainya. Sesuatu yang ga bisa gue ceritain bahkan ke keluarga gue sendiri.

Senin, 26 Oktober 2020

Day 25 Writing Challenge: Something Inspired of the 11th Image on Your Phone

             Kebetulan foto kesebelas yang ada di album foto smartphone gue adalah foto Sabtu lalu ketika bertemu dengan salah satu teman yang sekarang sedang menjabat sebagai Wasekjen PPI Belanda. Sebetulnya waktu ngajak bertemu pun ga ada ekspektasi apapun, dan memang hanya ingin vibing and chill, mengenang masa-masa waktu les bahasa Jerman. Tapi ternyata waktu ngobrol pun gue cukup takjub dengan pemikiran-pemikiran yang dia lontarkan. Cukup takjub juga bahwa dia ternyata melek dengan isu-isu strategis yang saat ini sedang beredar, padahal di Belanda dia ngambil jurusan ekonomi dan bisnis. Bagi kalian mungkin gaada yang inspiratif dari cerita tersebut, namun sebenarnya obrolan kami sangat inspiratif.

Day 24 Writing Challenge: Write About A Lesson You've Learned

            I've learned that happiness isn't something that you can buy. I've learned that happiness is when you feel enough. You can have a salary around 30 mio per month but still feel depressed. You can have an established company yet you still feel like you're at your all time low. You can have the most beautiful/handsome person as your significant other and still feel lonely. It's all possible. 

            I've learned that people should look after themselves, to be happy by themselves, to be comfortable by themselves. That people shuld be aware of what makes them happy.

            I've learned that communication is key, and ego will leads you nowhere. When you feel uncomfortable, just speak. If you feel ill, just speak. If you love someone, communicate. If you're seeking for help, ask. Don't ever feel small when you seek for help, because you are human after all.

            I've learned that forgiving someone is easier than forgiving myself. But we are human thus we make mistake. Making mistake is what makes us human, so don't be afraid to make mistake.

Sabtu, 24 Oktober 2020

Day 23 Writing Challenge: A Letter to Someone, Anyone

             I really just want to make a banter and writing a cover letter here for any talent recruiter lol but nope.

               Dear my future partner,

            What were you thinking choosing me as your partner? Lol. On a serious note, I just want you to know that I am such a mess. I've got a big scar that I myself don't know how to recover from in. Or when to be honest. I have to bear the consequences of my wrong doing, maybe forever. But you don't have to and yet you're still here. Therefore I'll be here too whenever you needed me.

               Thank you. 

Day 22 Writing Challenge: Write About Today

             Karena gue nulisnya telat lol gue akan tetap nulis apa yang terjadi di tanggal 22 Oktober 2020. 22 Oktober itu jatuh di hari Kamis. Hari itu sebenernya harusnya menjadi hari yang biasa saja. Berangkat ke kantor, kemudian nonton Netflix di kantor, lalu pulang. Tapi ada sesuatu yang mungkin engga terlupakan buat gue. Pagi itu ketika di perjalanan ke kantor, sahabat gue berkabar di grup WA bahwa dia baru saja kena begal. Pagi itu memang dia ada kegiatan bersepada sendirian. Panik, gue langsung coba menghubungi dia. Ga diangkat. Gue coba telfon terus, selalu direject. Masih shock katanya, suatu hal yang sangat maklum. Cukup panjang untuk diceritakan detilnya seperti apa, namun sahabat gue ini dibegal bukan di tempat yang sepi dan bukan di tempat yang gelap, sesuatu yang merupakan anomali dalam melakukan kejahatan. Singkat cerita, upaya pembegalan tersebut tidak berhasil karena barang rampasannya itu jatoh ke jalanan dan ditemukan oleh orang yang bertanggung jawab. Satu hal yang gue syukuri adalah sahabat gue ini ga sampai ditodong senjata tajam. Sampai saat ini dia baik-baik saja.


            Buat kalian yang sekarang ini sedang hobi bersepeda, sebisa mungkin hindari deh bersepeda sendirian, apalagi buat perempuan.