Jumat, 01 September 2017

Jurnal, September 2nd 2017: Closing Statement

   Seperti yang sudah tertera pada header blog ini, tulisan yang akan saya tulis/kalian baca ini merupakan hal yang sepele, cenderung tidak penting bagi kalian. Namun aku menulis ini karena batinku tengah gaduh. Terdapat pertentangan nalar. Bercerita kepada teman pun aku sudah tahu apa yang akan mereka katakan. Berbicara langsung kepada objek dari cerita yang akan kalian baca? Jangan berpikir ke arah sana, sudah tiada guna. Dia sudah berbahagia.

     Saatnya ku bercerita dari sudut mata ku. Akan banyak puing-puing cerita yang tidak aku letakkan disini, maklumi saja. Terlalu panjang nanti. Kalau kamu, iya kamu, membaca tulisan ini, renungkan. Itu saja. Setelahnya kamu buang jauh-jauh pun tak apa. Kamu sudah bahagia, tidak pantas larut dalam ini.

  Seperti yang khalayak ramai telah ketahui, sudah lewat dari satu tahun aku memutuskan hubunganku dengan mantan kekasihku. Dan seperti biasa, pada setiap perpisahan, selalu ada tiga sisi cerita, yakni cerita versi ku, versi dia, dan kebenaran. Kalian akan membaca cerita versi ku. Perpisahan tahun lalu itu sejujurnya lumayan berat bagi ku, karena dia merupakan satu-satunya perempuan yang memang aku berniat serius dari awal, dan aku memang tidak ingin berpisah. 

    Namun demikian, ia meyakinkan ku bahwa ia telah berpikir masak-masak, dan aku sadar aku tidak mampu membahagiakan dia selama empat bulan kami bersama. Karena aku merasa telah gagal untuk membahagiakan dia, ku pun menyetujuinya, tentunya diiringi ucapan terima kasih. Aku terlalu sayang kepadanya sehingga aku biarkan dia lepas dariku, karena aku tau dia akan bahagia setelahnya.

   Sebenarnya sederhana, dia terlalu membebani ku dengan status "pacar" ini. Yang aku berikan selalu dirasa kurang oleh dia. Padahal kalau menurutku, yang aku upayakan sudah merupakan usaha terbaik ku. Harus kuakui, aku memang masih belajar dalam hal ini, jadi kalian mungkin akan menganggap bahwa upaya ku tidak ada apa-apanya. Yang membuat sakit adalah, upaya terbaik ku dia anggap tak ada apa-apanya, bahwa aku tidak pernah sayang pada nya.

    Enough for me, but not much for you. Won't you forgive me that's all I can do.

   Sedih? Tentu saja. Aku memang tidak menampakkan kesedihan itu, tapi retakan di hati tetap ada. Aku pikir, apa guna aku menampakkan kesedihan ku? Toh hanya segelintir yang benar-benar peduli. Yang lain hanya pernasaran. Aku juga tidak ingin membagi energi negatif yang saat itu sedang menghinggapi ku. Aku ingin tetap membagi energi positif kepada manusia di sekitar ku. Sehingga saat itu mungkin dia dan kalian melihatku akan berpikir bahwa aku baik-baik saja.

    Siapa bilang?

   Seperti yang sudah aku bilang, rasa ku di dalam tetaplah remuk redam. Hancur karena berpisah dengan orang terkasih. Setelah berpisah pun aku masih mengikuti dia melalu media sosial. Aku pun tau bagaimana ia menempatkan diri sebagai korban, dan aku ditempatkan sebagai bajingan. Mungkin aku memang bajingan, tapi apa orang asing juga pantas untuk tahu bahwa aku seorang bajingan? Melakukan pembelaan di media sosial adalah percuma. Pengikut ku bukan lah pasar dia, dan semakin aku jelaskan, aku akan semakin salah. Aku pun diam.

    Adalah salah satu kejadian yang menarik, saat dia sedang kebingungan untuk memilih sepatu. Dia menyebut bahwa lebih galau memilih sepatu daripada galau putus. Ya, aku memang tidak lebih berharga dibandingkan dengan sepatu itu.

     Sampai suatu ketika ada suatu rasa ingin kembali. Ingin mengulang masa indah itu. Walaupun aku tahu bahwa mengulang masa indah juga berarti mengulang semua keluh kesah. Tapi tak apa, mungkin karena kepalang cinta. Sempat berpikir bahwa ini hanyalah rasa sepi yang akan sirna, namun melalui media sosial pun aku tahu dia merasa hal yang sama. 

     Rasa ingin kembali itu selalu tertahan dengan berbagai alasan. Sampai pada awal tahun 2017, saat aku sudah memantapkan tujuanku untuk kembali, aku kembali terhenti. Kali ini karena cuitan nya yang sekiranya berbunyi:

                  "Kalau laki-laki mau ditemenin dari 0 tapi dia udah punya tujuan hidup dan udah tau arah hidupnya mau kemana, mau deh nemenin. Tapi kalo ditemenin dari 0 dan belom punya tujuan hidup dan arah, ya males juga."

   Jleb. Seakan ada parang yang menembus relung ku. Perlu kalian ketahui, saat itu kondisi ku memang sedang pengangguran (sampai sekarang pun), dan tidak ada arah tujuan. Aku tidak tau apakah dia memang menujukan ini kepada ku atau tidak, tapi ini terasa hingga ke rongga dada. Ini pun membuatku tidak bernyali untuk bertegur sapa dengan dia, apalagi menatap kembali matanya. Sehingga rasa untuk kembali pun kembali aku tunda.

   Karena mungkin aku sangat ingin kembali, aku sangat giat mencari kerja. Sampai terbesit di pikiranku untuk mengambil jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Apapun akan ku lakukan untuk bisa kembali. Karena setidaknya, kalau aku berhasil diterima di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, aku akan memiliki tujuan hidup untuk 1-2 tahun kemudian.

   Sampai lah aku akhirnya mendaftar jenjang pendidikan lanjutan di salah satu universitas negeri. Aku sudah membayangkan apa yang akan terjadi: aku ikut tes masuk, kemudian aku diterima (aku sangat yakin dan menggebu-gebu saat itu), dan besoknya aku akan langsung menghubungi dia. Rencana yang apik. Setidaknya itu yang aku kira.

     Ternyata yang didamba sudah bersama seorang pria. Tentu kecewa. Berat. Hilang sudah niat ku untuk mengikuti tes masuk. Untuk apa? Tujuan ku sudah tidak ada. Aku pun dengan gontai mengikuti tes tersebut. 

"Konyol", pikir ku. 

     Ternyata selama ini aku jatuh bangun untuk seseorang yang sudah bersama orang lain. Namun aku tetap menyimpan rasa ingin kembali itu, walaupun aku tanam dalam-dalam.

     Sampai suatu hari, aku membaca media sosial miliknya, dan saat itu dia sedang menertawakan ide untuk kembali. Ada seorang influencer di salah satu media sosial yang menyatire akan ide untuk suatu pasangan kembali, dan dia tertawa keras mengenai itu. Aku tidak mengerti. Kalau cerita aku dan dia sebegitu jenakanya untuk dia tertawakan, mengapa tidak sejak awal saja dia tolak aku? Aku rasa itu lebih adil untuk ku. Sudahlah, aku rasa, aku sudah tidak ingin kembali.

     Mungkin bukan aku yang tidak pernah menyayangi dia. Mungkin aku yang tidak pernah ada di hati dan pikiran dia.

Jumat, 04 Agustus 2017

Jurnal, August 4th 2017: Aku Seniman

Cinta itu tabu
Berbeda untuk setiap individu
Bagiku, cinta bukanlah sesuatu
Yang bisa kau cari ilmunya
Dengan berguru

Cinta bukanlah sesuatu
Yang bisa kau bawa ke atas meja kopi
Bukanlah sesuatu
Yang bisa kalian rumuskan menjadi satu arti

Cinta merupakan karya
Tak perlu kalian gantung supaya terlihat
Cukup kalian simpan
Dan kalian banggakan

Dengan hati yang remuk redam
Aku seperti seniman
Menyusun sisa perasaan
Demi beberapa senyuman

Jumat, 07 Juli 2017

Jurnal, July 7th 2017: Spider-man: Homecoming Movie Review *CONTAINS HUGE SPOILERS*

      Franchise terbaru dari Spider-man kembali muncul di bioskop Indonesia. Ekspektasi pun tinggi mengingat ini adalah kemunculan pertama Spider-man setelah Sony sepakat untuk melepas sebagian haknya atas franchise Spider-man kepada Marvel Studios. Kemunculan Spider-man ini sudah diantisipasi sejak film Captain America: Civil War dirilis tahun 2016 lalu. Pertanyaan kemudian muncul, Apakah film ini dapat memenuhi ekspektasi dari para penikmat Marvel?

      Sebagai seorang Marvel fanboys, gue cukup puas dengan film ini. Tom Holland membuat sosok Peter Parker menjadi lebih segar jika dibandingkan dengan Tobey McGuire di film Spider-man arahan Sam Raimi. Gue cukup geregetan lah saat nonton ini, karena memang disini Peter Parker digambarkan sebagai sosok pemuda yang sangat polos. Bagi kalian yang berharap bahwa di film ini akan diceritakan kembali tentang bagaimana Peter mendapatkan kekuatannya, sebaiknya buang jauh-jauh harapan itu. Film ini berlatar waktu beberapa tahun setelah Peter Parker mendapatkan kekuatannya. Yang membuat gue semakin excited adalah, ini merupakan film pertama Spider-man dimana muncul beberapa tokoh Marvel lainnya, seperti Iron Man, Captain America.

      Supervillain pada film ini juga membuat gue excited. Vulture merupakan salah satu dari enam supervillain di Spider-man universe yang cukup melegenda, yang biasa disebut Sinister Six. Sinister Six merupakan sekumpulan super villain di Spider-man Universe yang terdiri dari Doc Oct sebagai leader, Sandman, Vulture, Electro, Mysterio, dan Kraven the Hunter. Hanya Mysterio dan Kraven the Hunter yang belum muncul ke layar lebar. Vulture di film ini diperankan oleh Michael Keaton, aktor yang memang sudah berpengalaman bermain dalam film super hero. Ia pernah bermain sebagai Batman, dan uniknya, dia berperan sebagai Vulture dalam film Birdman arahan sutradara Alejandro Inarritu. Pemilihan kostum dari Vulture di film ini pun cukup memuaskan, terdapat sentuhan bulu di bagian leher agar semirip mungkin dengan Vulture dalam komik. Seperti halnya burung Vulture, supervillain di film ini juga hidup dari bangkai-bangkai.

      Selain Vulture, dalam film ini juga terdapat supervillain lain, yakni Shocker, The Tinkerer, dan Scorpion. Bagi mereka yang memang marvel fanboys sejati atau sudah bermain game Spider-man sejak Playstation pertama kali muncul, pasti tau siapa mereka. Hanya saja, disini peran mereka cukup minor, hanya sebagai side supervillain.

      Bukan Marvel namanya jika tidak menyisipkan easter eggs di dalam filmnya. Easter eggs yang paling awal muncul adalah ketika Peter Parker menelpon Happy Hogan, kemudian berkata “Hi, this is Peter. Parker.” Kemungkinan besar ini merupakan referensi kepada MCU, bahwa terdapat seorang lain yang bernama Peter, yakni Peter Quill dari Guardians of the Galaxy. Easter egg lain yang muncul adalah adanya adegan Spider-man Kiss. Bedanya, di film ini engga beneran terjadi, hanya hampir. Easter egg lain mungkin adalah ketika Happy Hogan menyebutkan beberapa atribut lain untuk anggota Avengers lainnya saat melakukan pindahan, namun gue belum paham sampe sana. Oh ya, easter egg lainnya mungkin ketika Spider-man melawan para pencuri ATM yang menggunakan topeng anggota Avengers. Saat itu, Spider-man menyapa Thor dan Hulk sambil bertanya dari mana saja mereka. Ini merupakan referensi terhadap film Captain America: Civil War, karena di film itu tidak ada Thor dan Hulk.

      Sepertinya hanya itu yang bisa gue bagikan untuk kalian, but I’ll give you some food for thoughts untuk membuat kalian lebih penasaran:

Food for thoughts:

1.         Pada Mid Credit Scene, Vulture bertemu dengan Scorpion di Penjara. Scorpion berkata bahwa ia kenalbeberapa orang yang ingin balas dendam ke Spider-man. Namun Vulture menolak untuk memberitahukan identitas dari Spider-man.

a.   Kemungkinan ini merefers pada anggota Sinister Six lain sebagai supervillain di sequel Spider-man selanjutnya

b.   Dengan Vulture menolak untuk memberikan identitas Spider-man, apakah ini merupakan balas budi dari Vulture karena Peter telah menyelamatkan anaknya?

2.          Pada scene terakhir, Peter Parker mendapat kostum terbaru dari Tony Stark. Tony Stark kemudian mengajaknya bergabung untuk menjadi anggota Avengers dan kemudian mengadakan konferensi pers, yang kemudian ditolak oleh Peter Parker dan mengatakan bahwa ia seharusnya tetap “stay on the ground”.

a.    Saat ini di MCU, Avengers sudah terpecah, yakni Avengers yang dipimpin oleh Captain America dan Avengers yang dipimpin oleh Iron Man.

b.  Dalam komik, Avengers yang dipimpin oleh Iron Man memang diwajibkan untuk mengungkapkan identitasnya kepada publik. Hal ini sudah dilakukan oleh Iron Man, War Machine, Vision, Black Widow, dan Black Panther (walaupun pada akhirnya Black Panther membantu Captain America dan Winter Soldier)


c.   Dengan Peter Parker menolak untuk mengungkapkan identitasnya, posisi Spider-man disini menjadi abu-abu. Apakah Spider-man memilih Avengers yang dipimpin oleh Captain America atau yang dipimpin oleh Iron Man

Senin, 26 Juni 2017

Jurnal, June 26th 2017: Bagaimana Jika

Bagaimana jika kukatakan padamu 
Bahwa aku tahu yang kau lakukan?
Bagaimana jika kukatakan padamu 
Bahwa aku tahu bahwa kamu sudah jijik terhadap ku?
Bagaimana jika kukatakan padamu 
bahwa aku tahu aku hanya mengganggu?

     Bagaimana jika kukatakan padamu
     Bahwa kamu hanya perlu bicara
     Bahwa kamu sudah bahagia
     Dan aku bukan telaga bahagia mu?

Dengan begitu aku akan mencoba
Menyusun kembali puing-puing hidup ku
Dan mencari orang lain yang bisa
Aku rusak hidupnya

     Ah tapi bagaimana cara ku mengatakan padamu
     Bahwa aku menunggu?

Rabu, 17 Mei 2017

Jurnal, May 17th 2017: Benang Merah

Tell me what i don't know
Show me what you feel
Give me no excuses
Talk about everything

     I don't wanna try to give
     all the blame on you
     Just wanna know if there
     nothing left for me to do

Swimming down again our love apart
Seeking for the buzz
What's on your mind
Something that so clear

     I know there's something wrong
     But we're still young can't blame nobody
     I guess all we need is time
     But it is time that we don't have

I never told you i was fine
Can't talk too much, you got no time
Everything was going to fast
It's not my fault that we were there

Selasa, 09 Mei 2017

Jurnal, May 9th 2017: For You, For The Sake of Us

People may call me a quitter
But at least I know when to quit
I could keep you at that times
In fact, probably I should
But instead I let you loose

     It's not that I don't love you
     I said it many times
     More than I counted sheep before my sleep
     That I do

I may play tough
But I'll let you know that it was rough
Many nights I stay awake
Wondering if you're alright

     It is future that I don't find
     It is me that you don't need

Rabu, 03 Mei 2017

Jurnal, May 3rd 2017: For The Sake of Us

I only knew her for a blitz
But it's so hard to forget
Although it's far and hard to reach
I'm gonna keep her in my thoughts

     It's on the way that she moves
     It's in the way that she talks
     It's in the way that she laughs
     I don't deserve those golds

Far beyond the sea
I will look for you
And every time I see the past
I can see the future in her eyes
It quite reminds me the same love

Senin, 01 Mei 2017

Jurnal, May 1st 2017: For Her

Knocked me down to the floor
When you said you gotta wait
It's a real love that I find
When I saw her in my mind
Wanting you so much when I see you smile
Arrow through the heart when you say goodbye

Kamis, 30 Maret 2017

Jurnal, March 31st 2017: Porno

      Jika kamu bertanya padaku sebelum bulan maret tahun ini, aku akan dengan lantang bahwa aku tidak salah. Fakta-fakta yang tersaji pada waktu itu sangat mendukung akal sehat ku, dan mungkin akal sehat setiap manusia. Oh ya, kenalkan, aku sangat menyanjung logika. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat membuatku mual. Saat itu aku tidak mengerti, siapa yang salah. Aku? atau kamu? Ah sudah jelas kamu yang salah, logikaku selalu benar!
-
Apa iya demikian?
-
      Ada yang luput dari pandanganku saat itu. Ada yang tidak bisa kulihat karna terhalang oleh dinding besar bernama logika. Sejujurnya sampai bulan lalu pun dinding itu masih ada disini. Hingga pada awal bulan ini, kakak ipar ku menghancurkan dinding itu hingga tak tersisa. Ternyata saat itu aku tidak melihat dengan rasa. Aku tidak memikirkan bagaimana perasaanmu saat itu, dan aku memang tidak mengerti. Kini aku mengerti apa yang salah. Aku salah karena menggunakan logika untuk sesuatu yang harusnya kita rasa. Kalau saja saat itu kamu bagi rasa mu ke aku. Tapi toh hari ini sudah malam kan.
-
Ya, ternyata aku yang salah. Untuk itu aku minta maaf.

Rabu, 22 Maret 2017

Jurnal, March 23rd 2017: Kekhilafan yang terulang

Mereka tidak bilang padaku
Bahwa aku adalah bagian dari pasukan
Yang mudah dilupakan
Yang berperang mengusir para setan
Demi terang benderang raut wajah mereka
Tanpa dihinggapi kekecewaan

      Manusia itu kuat, namun lemah
      Kuat untuk menjaga orang lain untuk tidak kecewa
      Demikian juga lemah
      Tidak bisa melawan manusia lain yang melupakannya

Kamis, 02 Maret 2017

Jurnal, March 3rd 2017: Bermain kenyataan

Aku sulit percaya kepada manusia
Terlebih, ketika mereka muncul di layar kaca
Mengatakan apa yang harus manusia lakukan
Seakan mereka mengerti semua
Mengerti dunia
Mengerti kita

     Mereka bilang mimpi bisa jadi nyata
     Suara lantang penuh keyakinan mereka dengungkan
     Dari sekian banyak yang hadir disitu
     Tak ada satupun nada perlawanan
     
Mimpi dan kenyataan
Aku mulai sulit membedakan
Mimpi ku bertemu denganmu seperti sungguhan
Saat itu di tanah lapang
Angin mengembuskan aroma tubuh mu
Aku ingat betul bahwa itu kamu
Ya
Tanpa melihat pun, aku tahu kamu disitu
     

Rabu, 01 Maret 2017

Jurnal, March 2nd 2017: Dalam lelap

Kalau memang saat ku memandang wajah mu
Hanya ketika malam sunyi
Ketika penjaga keamanan pun terlelap
Maka aku akan terjaga 
Menunggu
Setiap malam-malam berikutnya
Seperti seorang narapidana merindukan angin segar kebebasan

Sabtu, 25 Februari 2017

Jurnal, February 26th 2017: Gelas kaca

Bapak pernah mengingatkanku
Bagaimana membaca manusia
Beliau ibaratkan seperti gelas kaca
Yang membutuhkan batas antar sesama

     Aku pikir menarik
     Manusia itu gelas kaca
     Jangan sampai terlalu dekat
     Sedikit getaran akan timbul retakan
   
O.......
Apa mungkin
Apa yang terjadi antara aku dan kamu
Hanya karena kita terlalu dekat
Kemudian lupa menghargai sepi?

Rabu, 22 Februari 2017

Review buku Saksi Mata by Seno Gumira Ajidarma

       Buku yang kali ini aku baca berjudul Saksi Mata yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma. Untuk kesekian kalinya, aku membaca buku yang aku tak mengerti sebelum aku membacanya. Terlebih lagi, bahkan aku tidak tau siapa itu Seno Gumira Ajidarma. Mungkin karena aku memang sangat kurang membaca buku. Mengapa aku memilih membaca buku ini? Jujur aku tidak paham jua. Hanya saja, temanku meyakinkan ku bahwa aku akan terkejut saat membacanya. Siapa yang tidak tertarik dengan pancingan seperti itu? Bukan aku tentunya.

     Halaman pertama hingga halaman kelima memang benar-benar membuatku terkejut. Bukan karena saking bagusnya, melainkan karena kengiluan yang aku rasakan saat itu. Beberapa kali aku terhenti sekejap saat membaca buku ini karena tidak dapat kutahan rasa ngilu itu. Apa sebab? Pada lima halaman pertama, ada bagian seseorang kehilangan kedua matanya. Tidak, ia tidak kehilangan penglihatannya. Ia kehilangan kedua bola matanya! Tidak cukup sampai disitu, dalam lima halaman pertama ini juga dijelaskan tentang kondisi orang tersebut, dan bagaimana sampai orang tersebut kehilangan kedua matanya. Ah sudahlah, mungkin kamu harus membacanya sendiri untuk mengerti apa yang kubicarakan.

     Itu baru satu dari sekitar 12 cerita yang ada di buku ini. Oh iya aku belum bilang ya kalau buku ini terdiri dari beberapa cerita? Ya, dan masing-masing cerita sebenarnya adalah cerita yang berdiri sendiri, namun ketika kamu membacanya, kamu akan memiliki tafsiran berlawanan dengan apa yang ku katakan barusan. Percayalah, aku paham apa yang aku katakan. Seakan terdapat benang merah tipis yang menghubungkan cerita pertama sampai cerita terakhir, yang akan membuat mu bertanya-tanya apakah diagnosamu itu benar.

     Saat mulai membaca buku ini, aku sebenarnya merasa iba dengannya. Buku ini terlalu terbebani dengan harapan ku. Kamu tentu tahu bahwa sebelum membaca buku ini, aku membaca buku TAN, yang langsung menjadi salah satu buku favorit ku, jika bukan yang paling favorit. Apakah buku ini bisa memenuhi ekspektasi ku? Sayang sekali, tapi harus aku katakan bahwa buku ini tidak sesuai dengan ekspektasiku. Jangan salah sangka, buku ini amatlah bagus dan membuka mata kita untuk beberapa sudut. Hanya saja, aku menyukai buku yang berlatar. Maksud ku, aku sangat suka buku yang menjelaskan latar cerita dengan amat detil, entah itu latar tempat ataupun latar waktu. Di buku ini, aku tidak menemukan itu. Selain itu dari sisi bahasa, aku tidak menemukan keindahan bahasa dalam buku ini seperti ketika aku menemukan keindahan bahasa dalam buku TAN. Hal ini mungkin bisa dimaklumi, karena memang TAN berlatar medio akhir 1890 sampai sekitar awal 1900, sedangkan Saksi Mata berlatar medio 1980 sampai 1990 akhir.

     Kecuali itu, buku ini benar-benar mengejutkan ku. Buku ini tidak membuatku berpikir "oh jadi seperti itu ya?", melainkan membuat ku bertanya "ini sungguh terjadi?!". Ketidakmampuanku untuk mencerna apa yang terjadi dari sudut pandang mereka membuatku bergidik ngeri. Aku percaya, setiap buku memiliki nilai wawasan tersendiri, tapi ini berbeda. Ini akan membuka matamu dari sudut pandang si "saksi mata". Menurutku, jika kamu tidak kuat membayangkan orang yang tidak punya mata, sebaiknya jangan membaca buku ini. Kecuali itu, menurutku ini buku yang sangat membuka mata dan akan mengejutkanmu!

   

Senin, 20 Februari 2017

Jurnal, February 21st 2017: Lagu lama

Rangkaian kalimat ini bukanlah sebuah perpisahan
Bukan pula merupakan perdamaian
Ini merupakan bentuk keluh kesah
Keluh kesah dia dan aku

      Tulisan ini tidak akan berisi amarah
      Amarah ku sudah ku telan mentah
      Telah sirna
      Seperti apa yang dia minta ketika kami bersama

Dia selalu percaya bahwa aku adalah takdirnya
Dia percaya ia banting tulang remuk redam untukku
Dia yang selalu bertanya dimana salahnya
Dia yang belum memahami kerasnya dunia

      Tulisan ini aku buat pada hari selasa
      Dua hari setelah kami berbicara empat mata
      Dua hari setelah kami berkata apa yang sebelumnya tak terkata
      Dua hari setelah kejenuhan kami
      Dua hari setelah menghidupkan jiwa yang mati

Rabu, 15 Februari 2017

Jurnal, February 16th 2017: Hilang makna

     Ada satu hal yang aku lihat sebagai hal yang lucu. Tidak cukup untuk membuatku tertawa, namun bagiku itu membuat tersenyum. Senyum kecut. Suatu hari aku pernah memilih satu kata dalam kamus bahasa pergaulan sehari-hari. Aku bayangkan kata itu. Aku resapi dalam-dalam maknanya. Terus hingga kata tersebut tidak lagi memiliki makna. Ada nilai yang hilang kejap itu. Lucu bukan? Kata yang terus aku pahami, aku teriakkan dalam hati, lambat laun hilang arti.

     Saat kehilanganmu, sulit rasanya untuk tidak memikirkanmu. Hari pertama, kedua, ketiga memang terasa seperti narapidana yang baru menghirup udara kebebasan. Hari berjalan begitu cepat karna aku menikmatinya. Sampai pada dua bulan terakhir, hampir tiada hari tanpa kamu di benakku. Apakah ini pertanda? Ataukah hanya panggilan kehampaan? Aku mulai kehilangan kewarasanku. Aku layaknya pengguna obat terlarang yang candu akan bayangmu. Namun ingatanku bahwa aku tidak pantas bagi mu selalu berhasil membumikan akalku.

     Sampai suatu hari kuputuskan untuk membuat tulisan tentangmu. Bodoh memang, tapi ini bukanlah dosa. Ini hanyalah pikiran yang tak terkata, yang tiada seorangpun pantas menanggungnya. Kadang aku berpikir bahwa ini hanya akan menuntunku ke jurang paling dalam bernama masa lalu. Namun siapa sangka, semakin aku membayangkan mu, semakin aku menulis tentangmu, aku semakin berhasil menyibak kabut kenangan itu. Menulis mewaraskanku.

     Sebisa mungkin aku akan terus menulis. Sekali lagi, bukan untuk menghilangkan bayangmu dari ingatanku. Tetapi untuk menjaga keutuhan akal sehatku.

Selasa, 14 Februari 2017

Jurnal, February 15th 2017: What makes a heart breaks

     Mungkin kamu lupa, mungkin juga tidak. Mungkin kamu tidak mengerti, mungkin juga mengerti. Mungkin kamu sadar, mungkin kamu tidak. Itu hanya masalah sepele, hanya sebuah foto. Ya, sebuah data elektronik di selular pintarku. Kumpulan pixel-pixel kecil yang membentuk gambar aku dan kamu. Sesuatu yang kamu minta dengan penuh harap agar aku menghapusnya demi alasan yang tidak bisa aku cerna. Bagiku, menghapus foto itu bukanlah sesuatu yang berat. Hanya dibutuhkan tiga kali gerakan ibu jari kanan ku untuk membuat foto itu hilang ditelan perkembangan dunia. Yang berat adalah kenyataan bahwa kamu meminta aku, yang saat itu adalah laki-laki yang mencintaimu, untuk menghapus foto itu, sedangkan kamu mempublikasikan foto mu dengan sahabat laki-laki mu.

     Tapi belenggu kegelisahanku saat itu belum dapat mematikan bara cinta ku padamu. Kau tahu apa yang mematikannya? Bukan air. Bukan karbon dioksida. Bukan pula bumi. Melainkan tutur mu. Sekejap padam saat kau bisikkan kepada dunia bahwa selama ini aku tidak pernah mencintaimu. Bahwa yang kulakukan tidaklah cukup. Menyedihkan bukan? Bagaimana seseorang melakukan usaha terbaiknya, kemudian kamu bilang kepada dunia bahwa aku tidak pernah benar-benar berusaha.

     Kamu tidak perlu merasakannya. Aku juga tidak perlu kau untuk mengerti itu. Kau hanya perlu tahu bahwa itu cukup sakit.

Sabtu, 11 Februari 2017

Jurnal, February 12th 2017: Lieben. Illusion.

Ich sehe dich
Ich sehe uns
Ich sehe deine Augen
Ich sehe uns
Aber wann siehst du mich
Du siehst nicht

Review Buku TAN by Hendri Teja

     Mungkin kau tak dapat melihatku sekarang. Tapi yakinlah, saat jemari ku mengetik tulisan ini melalui laptop butut ku, kau bagai melihat anak kecil di toko mainan. Mata ku berbinar menantikan saat ini. Hormon Dopamin dalam raga ini seakan sudah berada diurat leher, memberontak untuk segera dilampiaskan dalam bentuk kata-kata.

     Aneh bukan? Aku yang tiga bulan lalu tidak suka membaca, saat ini menggebu untuk membuat ulasan mengenai sebuah buku.

      Buku yang kali ini aku baca adalah TAN, karangan Hendri Teja. Ini adalah sebuah novel sejarah yang mengisahkan tentang kehidupan seorang pahlawan revolusi nasional bernama Tuan Ibrahim, atau lebih dikenal dengan Tan Malaka. Kalau kupingmu langsung memberikan reaksi saat mendengar nama itu, selamat, yakinlah Anda lebih terpelajar dariku. Karena jujur saja, seperti nama Pramoedya Ananta Toer, aku sekedar tahu nama Tan Malaka. Tidak lebih. Karena mungkin aku pula tidak peduli. Siapa dia, apa perjuangan dia, bagaiman dia meninggal, bukan urusanku. Saat itu. Sampai ketika aku baca novel ini, aku sadar betapa kecilnya aku. Aku lupa betapa menyenangkannya membaca. Aku lupa bahwa membaca adalah salah satu perintah Tuhan yang paling pertama.

     Novel ini adalah novel yang sebenarnya sudah lumayan lama terbit, menceritakan tentang kehidupan seorang Hindia kelahiran Pantai Barat Sumatera bernama Tuan Ibrahim, atau Tan Malaka, dari masa ia remaja hingga ia diasingkan. Novel ini bukan sekedar menguak sejarah bagaimana seseorang berjuang untuk kemerdekaan Hindia. Kecuali itu, di dalam novel ini juga disisipkan tentang lugunya Tan muda dalam menghadapai perempuan yang kemudian menjadi perempuan pertama yang mengisi relung hatinya.

     Tidak selesai sampai disitu, novel ini juga membuka mataku, bahwa sebenarnya di dalam perjuangan yang selalu dipegang teguh oleh Tan, terdapat jasa seorang pria Nederland. Keteguhan perjuangan Tan demi kemerdekaan Hindia ini terbukti dengan pengorbanan beliau meninggalkan tanah adatnya, yang berakibat beliau dicampakkan oleh masyarakat adatnya sendiri. Mataku bahkan makin terbuka ketika novel ini mengajarkan ku relasi antara paham Komunisme, Sosialisme, dan Theisme.

     Novel ini adalah jenis novel yang membuat darahmu berdesir setiap kali membalik halaman. Adat, Agama, Perjuangan, Romansa, Pengkhianatan, dan Pertentangan ada dalam novel ini. Menurutku, kau melewatkan sesuatu yang besar jika memilih untuk tidak membaca novel ini.

Kamis, 09 Februari 2017

Jurnal, February 10th 2017: Antara buku dan kenangan

       Sulit untuk mengusirmu dari pikiranku. Berbagai cara sudah ku kerahkan, namun nihil. Sampai suatu ketika ikrar ku menarik tangan ku. Buku! Iya Buku! Buku ini adalah solusiku! Dengan membaca, aku yakin aku pasti bisa melupakanmu!

       Apa benar?

       Bukan maksud ku untuk menghilangkan jejakmu. Tapi bayangmu harus lekas kusimpan rapat-rapat pada kotak paling dalam. Aku yakin kau tidak mengerti tapi aku yakin kau mengerti. Ini untuk kebaikan kita.

       Satu pekan, dua pekan, membaca mulai mengembalikan kewarasanku. Membaca seakan membantuku mengumpulkan kenangan-kenangan akanmu, dan menyimpannya dengan rapi dalam kotak kenangan di ujung ruangan. Tetapi semesta berkehendak lain. Halaman demi halaman membangkitkan imaji. Tak pelak gambar-gambar halusinasi akan hidup yang tak bisa kuraih mulai membayangi.

       Tolonglah semesta. Bahkan aku tidak pantas memiliki ini walau sebatas ilusi.

Rabu, 08 Februari 2017

Jurnal, February 9th 2017: Tempat sampah berjalan

               Membedakan mana teman dan mana musuh merupakan perkara mudah. Ketika kamu bertemu dengan musuh, kamu akan bertemu dengan tinju. Mudah bukan? Orang umum dengan nol pengalaman bisa memahami itu. Yang sulit adalah membedakan yang menganggapmu sebagai teman, dan mana yang menganggapmu sebagai tempat sampah? Kau tau maksud ku? Biar kujelaskan. Menurutku, ada orang yang menggap orang lain sebagai tempat sampah mereka. Orang itu akan datang padamu, menyirami mu dengan segala keluh kesah, membuat mu merasa sebagai orang yang dibutuhkan, lalu kemudian meninggalkanmu ketika ia sudah menemukan kesenangan baru. Hebat bukan?

                Sayangnya aku pernah menjadi tempat sampah itu. DUA KALI. Pertama berlaku sudah agak lama, mungkin sekitar tiga tahun lalu, saat aku sedang mengalami krisis sosial. Dia datang dengan segudang masalah. Segala tetek bengek permasalahan ia ceritakan. Aku yang memang saat itu sedang tidak punya teman, jujur senang saja karena itu berarti aku punya teman ngobrol. Itu berarti ada orang yang menginginkanku. Namun singkat cerita, aku sadar bahwa aku hanya merupakan tempat sampah bagi dia. Dia hanya datang ketika ingin berkeluh kesah. Sungguh aku marah. Ini tidak boleh berjalan lama. Akhirnya dengan sedikit marah aku katakan itu. Dia mengerti. Dia minta maaf. Selesai sudah.

                Yang kedua ini belum lama terjadi. Ada seorang temanku yang memiliki masalah langka: Terlalu banyak didekati lawan jenis! Aku kenal beberapa temanku yang akan membayar mahal untuk mendapat masalah itu. Paling tidak seminggu sekali ia menghubungi ku, untuk menceritakan masalahnya. Saking banyaknya yang mendekati dia, aku sampai harus berkali-berkali bertanya: “Ini siapa lagi ya?”

                Untuk menyingkat cerita, akhirnya temanku menjatuhkan hatinya pada satu orang. Mereka bertahan lama, tahunan lamanya. Sampai suatu hari hubungan mereka tidak bisa diselamatkan. Temanku stress. Demi Tuhan, aku belum pernah melihat orang begitu frustasi. Diajak berbicara sedikit, air matanya tercurah. Harus hati-hati. Karena kasihan, aku mulai temani dia. Aku ajak bicara tentang kehidupanku beserta kesialan yang menimpaku, dengan harapan itu akan menghibur dia. Usahaku berbuah nihil. Dalam beberapa kesempatan, dia meratap di depanku. Meratap dan meratap. Hanya itu yang ia lakukan jika bersamaku. Aku bosan. Aku mulai muak. Aku bukan. Tidak kuasa aku menerima energi negatif untuk waktu berkepanjangan. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidak menghubungi dia lagi. Mungkin aku trauma bertemu dengannya. Ada ketakutan akan dijadikan tempat sampahnya lagi.


                Orang bijak mungkin berkata “janganlah kamu memilih-milih teman”. Maaf, aku belum cukup bijak untuk memahami arti himpunan kata itu. Dan aku bukan Tuhan, yang bisa kau datangi untuk berkeluh kesah, lalu kau tinggalkan ketika menemukan kesenangan baru. Itu kurang ajar.

Selasa, 07 Februari 2017

Jurnal, February 8th 2017: We are alright

Pernahkah kamu tertawa
Ketika Tuhan dengan segera
Menunjukkan eksistensinya
Dengan mendengar kalimatmu 
Kemudian mewujudkannya dengan mudahnya

                Aku benar-benar malu
                Rasanya hanya dua hari lalu
                Ketika aku memintamu
                Agar tanpa sungkan datang ke mimpiku

Siang ini kamu kembali
Kali ini tiada kata terbuang percuma
Tiada tatapan yang dingin menggetarkan jantung
Hanya saling bertukar rasa
Bahwa kita sama-sama ada

                Aku harap suatu hari nanti
                Setelah kita punya nyali
                Aku dan kamu akan bertukar tatap
                Disertai dengan lekukan bibir manis mu
                Yang bertafsir bahwa kita baik-baik saja

                Bahwa kita sudah menerima

Senin, 06 Februari 2017

Jurnal, February 7th 2017: Mimpi dan Harapan

     Pada umurku yang sudah menginjak kepala 2 ini, aku tidak pernah merayakan hari ulang tahun. Bahkan mungkin seingatku, aku sudah tidak merayakan ulang tahun ku sejak lima tahun lalu. Untuk apa sih merayakan ulang tahun? Aku tidak tahu bagaimana dengan kalian, tapi untukku, itu seperti membuang waktu dan rupiah. Menyenangkan mungkin ketika kamu menjadi pusat perhatian untuk satu hari dalam setahun, tapi cukup sampai disana saja kemeriahan itu. Esok hari orang-orang mungkin sudah lupa dengan mu. Sudah tak akan kamu dapatkan jabat tangan ucapan selamat yang disertai senyum palsu itu. Mereka akan kembali ke kesibukan masing-masing. Kembali melupakan mu. Karena alasan inilah aku cenderung menyembunyikan tanggal ulang tahunku. Tak perlu lah mereka  repot berpura mengingat hari ulang tahunku, berpura memberi selamat serta memberi doa. Aku tak butuh itu. Konsekuensinya, setiap tahun aku hanya mendapat ucapan selamat paling banyak dari lima orang teman yang memang mengingatnya. Tapi aku tidak ambil pusing. Aku terus menjaga tradisi ini, termasuk merahasiakan ini ke kamu.

       Hari itu aku ingat betul, tepat ketika hari ulang tahunku berlaku, aku ada keperluan kuliah yang cukup mendesak yang mengharuskan ku untuk berangkat pagi sekali. Saat itu aku sedang memiliki hubungan spesial dengan kamu. Selesai urusanku, aku bersikeras untuk menemuimu, karena menghabiskan hari spesial bersama seorang yang spesial adalah impian bukan? Situasi saat itu kamu tidak sadar bahwa hari itu adalah hari ulang tahunku. “Normalnya” aku pasti berharap sesuatu dari kamu. Berharap kamu punya kejutan untuk aku. Tapi tentu aku tidak berharap. Kecuali karena aku memang menghapus semua tanggal kelahiranku dari Internet, aku memang hanya ingin menghabiskan hari dengan kamu. Tidak sedikitpun terbesit amarah atau kekesalan, karena aku tahu kamu tidak tahu, dan aku maklum. Tahun itu, hanya empat orang yang mengingat hari lahirku.

      Aku memang tidak peduli dengan tanggal ulang tahunku. Tapi untuk orang yang spesial, tentu aku punya rencana. Rencana yang sangat sederhana memang. Namun untuk seorang yang tidak pernah merayakan ulang tahun selama lima tahun terakhir, dan untuk seorang yang sedang dikejar batas waktu, ini sudah merupakan kemewahan. Satu hari sebelum, aku senyum sendiri membayangkan wajahmu yang berseri karna aku ternyata tahu tanggal ulang tahunmu. Cukup mudah memang apabila ada buku digital bernama Internet. Ketika hari yang ditunggu telah jatuh, ternyata mimpi babu ku berbeda jauh dengan kenyataan. Kamu kecewa karena ketidakhadiran ragaku di hadapanmu. Mata panah kekesalanmu kemudian kamu arahkan ke sahabat-sahabat ku. SAHABAT-SAHABATKU! Dakwaan aku lebih suka menghabiskan waktu bersama mereka mulai dituang. Darahku mulai mendidih hingga ke urat leher membacanya. Pikiranku terpecah. Ku tengok ke belakangku, tidak ada seorang yang menusuk ku dengan belati. Tapi sakit ini terasa hingga ke pusat jantung. Argumen-argumen tidak berfaedah pun terlontar. Tinggal sesal yang tertinggal.


      Kesalahanmu adalah berharap tinggi pada ku yang merupakan manusia jelata. Kesalahanku adalah manusia jelata sepertiku tidak sadar bahwa aku tidak akan pernah cukup memenuhi mimpi seribu satu malam mu.

Jurnal, February 6th 2017: Aku Manusia

Penyesalan memang selalu datang terakhir
Apakah aku menyesali ini? Kurasa Tidak
Aku belajar banyak hal dari kamu
Aku belajar, bahwa aku hanya butuh waktu

     Jika aku punya kesempatan kedua, haruskah ku ambil?
     Kurasa tidak
     Kejap menyadarkanku
     Kamu pantas mendapat lebih
     Lebih dari seorang yang hidup tanpa rencana

Aku benci ide untuk melupakanmu
Untuk apa?
Aku tidak akan menyangkalnya
Suatu hari kita akan bertemu lagi
Saat itu aku akan berani menatapmu
Dan kamu akan berani menatap dalam mataku

     Tapi aku juga bukanlah dewa romansa
     Yang akan berkata aku akan selalu mencintaimu
     Akan tiba suatu masa
     Kita berhenti saling mencintai
     Mungkin esok, mungkin sekarang
     Atau mungkin beberapa masa kedepan

Jika aku bisa bertemu untuk terahir kali
Walau hanya dalam mimpi sekalipun
Aku minta jangan palingkan wajah itu
Aku juga manusia
     

Kamis, 19 Januari 2017

Review buku Bukan Pasar Malam by Pramoedya Ananta Toer

     Yap, Anda tidak salah membaca judul dari post ini. Saya akan menulis review sebuah buku. Sesuatu yang baru memang, namun menarik untuk dicoba. This is my first book review, so go easy on me. Cheers! :D

    Saya akan mulai dari awal mula mengapa saya membaca buku ini. Kita semua tahu bahwa sekarang ini sudah memasuki minggu ketiga tahun 2017. Dan seperti manusia pada umumnya, saya membuat sebuah resolusi. Ya, hanya sebuah, tidak muluk. Resolusi saya tahun ini adalah mulai membaca. Membaca buku lebih tepatnya. Sederhana, namun sukar. Pertanyaannya kemudian, mengapa resolusinya membaca buku? 

     Beberapa minggu sebelum tahun 2017 mulai, saya mulai tersadarkan bahwa saya terlalu terhisap pada sebuah alat, yaitu smartphone. Sebenarnya hal ini bukanlah hal buruk, apabila memang digunakan untuk hal yang bermanfaat. Saya pun bukannya menggunakan untuk hal-hal yang buruk, tetapi konsekuensi dari hal ini yang menurut saya buruk. Penglihatan saya mulai berkurang daya. Saya mulai kembali sulit melihat benda-benda yang berjarak. Ini diperparah dengan kebiasaan saya bermain console dari jarak dekat. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali membaca buku. Mungkin tidak relevan dengan keluhan dari mata saya, tapi setidaknya mata saya tidak rusak dengan sia-sia.

     Pertanyaan yang berikutnya muncul adalah, "buku apa yang harus saya baca untuk memulai?" Tak menunggu esok, saya langsung bertanya ke Dion, seorang teman yang rajin membaca (dan menulis! Sila dicek di sini), tentang buku apa yang seharusnya saya baca sebagai permulaan. Dia menyarankan Bukan Pasar Malam karangan Pramoedya Ananta Toer. 

     Nama Pramoedya Ananta Toer bukan nama asing di telinga saya. Dan bahkan bukan nama asing di dunia. Saya tahu nama besar beliau.  Tahu, belum mengerti. Ya, walaupun saya tahu bahwa beliau adalah seorang yang memiliki nama besar, saya belum paham betul apa yang membuat nama beliau dihormati di dunia. Ini adalah karya pertama beliau yang saya baca. Sebuah karya yang mulai membuka mata saya akan betapa besarnya nama beliau.

*** Contain Spoilers***

     Bukan Pasar Malam merupakan novel fiksi lama yang sudah diterbitkan sejak tahun 1951. Fiksi ini menceritakan tentang sosok "Aku" dari sudut pandang orang pertama, yang hidup pada medio sebelum hingga sesudah Indonesia berdaulat. Fiksi ini mengisahkan tentang Aku yang hidup susah di Jakarta, kota yang penuh dengan mobil dan para bajingan*, yang kemudian harus kembali ke tanah kelahirannya untuk menghadapi suatu realita yang tidak terhindarkan, melihat keadaan ayah, sosok yang merupakan panutan bagi Aku. Fokus dari novel ini menurut saya terletak pada bagaimana hubungan antara seorang ayah dan anak, dimana sang ayah memiliki pandangan tersendiri terhadap profesi yang ia cinta dan enggan ia tinggalkan. Sebuah kecintaan yang melahirkan rasa hormat. Lebih dari itu, pembaca juga disuguhkan dengan Aku yang kental dengan emosi mengingat apa yang telah ia lakukan pada si ayah. Tidak luput pula cerita tentang pertentangan batin antara masa lampau dengan kini sepanjang perjalanan menuju tanah kelahiran. 

     Karya ini merupakan tulisan yang menurut saya cukup ringan untuk dibaca. Saya hanya membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk melahap habis fiksi ini. Salah satu kesulitan kecil yang saya hadapi mungkin hanya persoalan tutur kata dalam fiksi ini, karena seperti yang sudah saya katakan, Aku hidup pada media sebelum hingga sesudah Indonesia berdaulat. Kesulitan tersebut mengingatkan saya bahwa linguistik pada era ini sudah banyak berubah jika dibandingkan dengan masa dahulu. Sebuah novel yang membuat pembaca dapat melihat sisi lain dari suatu kehidupan. Karya ini sangat pantas untuk Anda baca dan mengisi rak buku di rumah! Tidak berlebihan rasanya jika saya memberi nilai 8/10 untuk salah satu karya dari Pramoedya Ananta Toer ini, mengingat banyaknya penghargaan yang diterima oleh karya ini.






*pada karya tertulis demikian

Solitude Is Bliss

Sesuatu bangkit hanya untuk jatuh
Makhluk hidup hanya untuk mati
Seseorang bertemu hanya untuk berpisah
Sebuah siklus yang tidak terbantah

     Sejak awal aku sudah sangat sadar
     Berpisah denganmu adalah kepastian
     Entah mungkin karena kematian
     Atau karna ego yang timbul perlahan

Jerih payah ku membuka halaman baru 
Seolah menemui lawan sepadan
Sosok mu yang telah hilang dari pandangan
Namun masih terjebak dalam pikiran

     Sudah berapa malam yang aku lewatkan
     Berkelahi dengan rasa dan angan
     Untuk setengah mati memejamkan mata
     Berharap pagi sekejap tiba