Rabu, 08 Februari 2017

Jurnal, February 9th 2017: Tempat sampah berjalan

               Membedakan mana teman dan mana musuh merupakan perkara mudah. Ketika kamu bertemu dengan musuh, kamu akan bertemu dengan tinju. Mudah bukan? Orang umum dengan nol pengalaman bisa memahami itu. Yang sulit adalah membedakan yang menganggapmu sebagai teman, dan mana yang menganggapmu sebagai tempat sampah? Kau tau maksud ku? Biar kujelaskan. Menurutku, ada orang yang menggap orang lain sebagai tempat sampah mereka. Orang itu akan datang padamu, menyirami mu dengan segala keluh kesah, membuat mu merasa sebagai orang yang dibutuhkan, lalu kemudian meninggalkanmu ketika ia sudah menemukan kesenangan baru. Hebat bukan?

                Sayangnya aku pernah menjadi tempat sampah itu. DUA KALI. Pertama berlaku sudah agak lama, mungkin sekitar tiga tahun lalu, saat aku sedang mengalami krisis sosial. Dia datang dengan segudang masalah. Segala tetek bengek permasalahan ia ceritakan. Aku yang memang saat itu sedang tidak punya teman, jujur senang saja karena itu berarti aku punya teman ngobrol. Itu berarti ada orang yang menginginkanku. Namun singkat cerita, aku sadar bahwa aku hanya merupakan tempat sampah bagi dia. Dia hanya datang ketika ingin berkeluh kesah. Sungguh aku marah. Ini tidak boleh berjalan lama. Akhirnya dengan sedikit marah aku katakan itu. Dia mengerti. Dia minta maaf. Selesai sudah.

                Yang kedua ini belum lama terjadi. Ada seorang temanku yang memiliki masalah langka: Terlalu banyak didekati lawan jenis! Aku kenal beberapa temanku yang akan membayar mahal untuk mendapat masalah itu. Paling tidak seminggu sekali ia menghubungi ku, untuk menceritakan masalahnya. Saking banyaknya yang mendekati dia, aku sampai harus berkali-berkali bertanya: “Ini siapa lagi ya?”

                Untuk menyingkat cerita, akhirnya temanku menjatuhkan hatinya pada satu orang. Mereka bertahan lama, tahunan lamanya. Sampai suatu hari hubungan mereka tidak bisa diselamatkan. Temanku stress. Demi Tuhan, aku belum pernah melihat orang begitu frustasi. Diajak berbicara sedikit, air matanya tercurah. Harus hati-hati. Karena kasihan, aku mulai temani dia. Aku ajak bicara tentang kehidupanku beserta kesialan yang menimpaku, dengan harapan itu akan menghibur dia. Usahaku berbuah nihil. Dalam beberapa kesempatan, dia meratap di depanku. Meratap dan meratap. Hanya itu yang ia lakukan jika bersamaku. Aku bosan. Aku mulai muak. Aku bukan. Tidak kuasa aku menerima energi negatif untuk waktu berkepanjangan. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidak menghubungi dia lagi. Mungkin aku trauma bertemu dengannya. Ada ketakutan akan dijadikan tempat sampahnya lagi.


                Orang bijak mungkin berkata “janganlah kamu memilih-milih teman”. Maaf, aku belum cukup bijak untuk memahami arti himpunan kata itu. Dan aku bukan Tuhan, yang bisa kau datangi untuk berkeluh kesah, lalu kau tinggalkan ketika menemukan kesenangan baru. Itu kurang ajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar