Membedakan mana teman dan mana musuh merupakan perkara
mudah. Ketika kamu bertemu dengan musuh, kamu akan bertemu dengan tinju. Mudah
bukan? Orang umum dengan nol pengalaman bisa memahami itu. Yang sulit adalah
membedakan yang menganggapmu sebagai teman, dan mana yang menganggapmu sebagai
tempat sampah? Kau tau maksud ku? Biar kujelaskan. Menurutku, ada orang yang
menggap orang lain sebagai tempat sampah mereka. Orang itu akan datang padamu,
menyirami mu dengan segala keluh kesah, membuat mu merasa sebagai orang yang
dibutuhkan, lalu kemudian meninggalkanmu ketika ia sudah menemukan kesenangan
baru. Hebat bukan?
Sayangnya
aku pernah menjadi tempat sampah itu. DUA KALI. Pertama berlaku sudah agak
lama, mungkin sekitar tiga tahun lalu, saat aku sedang mengalami krisis sosial.
Dia datang dengan segudang masalah. Segala tetek bengek permasalahan ia
ceritakan. Aku yang memang saat itu sedang tidak punya teman, jujur senang saja
karena itu berarti aku punya teman ngobrol. Itu berarti ada orang yang
menginginkanku. Namun singkat cerita, aku sadar bahwa aku hanya merupakan
tempat sampah bagi dia. Dia hanya datang ketika ingin berkeluh kesah. Sungguh
aku marah. Ini tidak boleh berjalan lama. Akhirnya dengan sedikit marah aku
katakan itu. Dia mengerti. Dia minta maaf. Selesai sudah.
Yang
kedua ini belum lama terjadi. Ada seorang temanku yang memiliki masalah langka:
Terlalu banyak didekati lawan jenis! Aku kenal beberapa temanku yang akan
membayar mahal untuk mendapat masalah itu. Paling tidak seminggu sekali ia
menghubungi ku, untuk menceritakan masalahnya. Saking banyaknya yang mendekati
dia, aku sampai harus berkali-berkali bertanya: “Ini siapa lagi ya?”
Untuk
menyingkat cerita, akhirnya temanku menjatuhkan hatinya pada satu orang. Mereka
bertahan lama, tahunan lamanya. Sampai suatu hari hubungan mereka tidak bisa
diselamatkan. Temanku stress. Demi Tuhan, aku belum pernah melihat orang begitu
frustasi. Diajak berbicara sedikit, air matanya tercurah. Harus hati-hati.
Karena kasihan, aku mulai temani dia. Aku ajak bicara tentang kehidupanku beserta
kesialan yang menimpaku, dengan harapan itu akan menghibur dia. Usahaku berbuah
nihil. Dalam beberapa kesempatan, dia meratap di depanku. Meratap dan meratap.
Hanya itu yang ia lakukan jika bersamaku. Aku bosan. Aku mulai muak. Aku bukan.
Tidak kuasa aku menerima energi negatif untuk waktu berkepanjangan. Sampai
akhirnya aku memutuskan untuk tidak menghubungi dia lagi. Mungkin aku trauma
bertemu dengannya. Ada ketakutan akan dijadikan tempat sampahnya lagi.
Orang
bijak mungkin berkata “janganlah kamu memilih-milih teman”. Maaf, aku belum
cukup bijak untuk memahami arti himpunan kata itu. Dan aku bukan Tuhan, yang
bisa kau datangi untuk berkeluh kesah, lalu kau tinggalkan ketika menemukan
kesenangan baru. Itu kurang ajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar