Senin, 06 Februari 2017

Jurnal, February 7th 2017: Mimpi dan Harapan

     Pada umurku yang sudah menginjak kepala 2 ini, aku tidak pernah merayakan hari ulang tahun. Bahkan mungkin seingatku, aku sudah tidak merayakan ulang tahun ku sejak lima tahun lalu. Untuk apa sih merayakan ulang tahun? Aku tidak tahu bagaimana dengan kalian, tapi untukku, itu seperti membuang waktu dan rupiah. Menyenangkan mungkin ketika kamu menjadi pusat perhatian untuk satu hari dalam setahun, tapi cukup sampai disana saja kemeriahan itu. Esok hari orang-orang mungkin sudah lupa dengan mu. Sudah tak akan kamu dapatkan jabat tangan ucapan selamat yang disertai senyum palsu itu. Mereka akan kembali ke kesibukan masing-masing. Kembali melupakan mu. Karena alasan inilah aku cenderung menyembunyikan tanggal ulang tahunku. Tak perlu lah mereka  repot berpura mengingat hari ulang tahunku, berpura memberi selamat serta memberi doa. Aku tak butuh itu. Konsekuensinya, setiap tahun aku hanya mendapat ucapan selamat paling banyak dari lima orang teman yang memang mengingatnya. Tapi aku tidak ambil pusing. Aku terus menjaga tradisi ini, termasuk merahasiakan ini ke kamu.

       Hari itu aku ingat betul, tepat ketika hari ulang tahunku berlaku, aku ada keperluan kuliah yang cukup mendesak yang mengharuskan ku untuk berangkat pagi sekali. Saat itu aku sedang memiliki hubungan spesial dengan kamu. Selesai urusanku, aku bersikeras untuk menemuimu, karena menghabiskan hari spesial bersama seorang yang spesial adalah impian bukan? Situasi saat itu kamu tidak sadar bahwa hari itu adalah hari ulang tahunku. “Normalnya” aku pasti berharap sesuatu dari kamu. Berharap kamu punya kejutan untuk aku. Tapi tentu aku tidak berharap. Kecuali karena aku memang menghapus semua tanggal kelahiranku dari Internet, aku memang hanya ingin menghabiskan hari dengan kamu. Tidak sedikitpun terbesit amarah atau kekesalan, karena aku tahu kamu tidak tahu, dan aku maklum. Tahun itu, hanya empat orang yang mengingat hari lahirku.

      Aku memang tidak peduli dengan tanggal ulang tahunku. Tapi untuk orang yang spesial, tentu aku punya rencana. Rencana yang sangat sederhana memang. Namun untuk seorang yang tidak pernah merayakan ulang tahun selama lima tahun terakhir, dan untuk seorang yang sedang dikejar batas waktu, ini sudah merupakan kemewahan. Satu hari sebelum, aku senyum sendiri membayangkan wajahmu yang berseri karna aku ternyata tahu tanggal ulang tahunmu. Cukup mudah memang apabila ada buku digital bernama Internet. Ketika hari yang ditunggu telah jatuh, ternyata mimpi babu ku berbeda jauh dengan kenyataan. Kamu kecewa karena ketidakhadiran ragaku di hadapanmu. Mata panah kekesalanmu kemudian kamu arahkan ke sahabat-sahabat ku. SAHABAT-SAHABATKU! Dakwaan aku lebih suka menghabiskan waktu bersama mereka mulai dituang. Darahku mulai mendidih hingga ke urat leher membacanya. Pikiranku terpecah. Ku tengok ke belakangku, tidak ada seorang yang menusuk ku dengan belati. Tapi sakit ini terasa hingga ke pusat jantung. Argumen-argumen tidak berfaedah pun terlontar. Tinggal sesal yang tertinggal.


      Kesalahanmu adalah berharap tinggi pada ku yang merupakan manusia jelata. Kesalahanku adalah manusia jelata sepertiku tidak sadar bahwa aku tidak akan pernah cukup memenuhi mimpi seribu satu malam mu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar