Pada umurku yang
sudah menginjak kepala 2 ini, aku tidak pernah merayakan hari ulang tahun.
Bahkan mungkin seingatku, aku sudah tidak merayakan ulang tahun ku sejak lima
tahun lalu. Untuk apa sih merayakan ulang tahun? Aku tidak tahu bagaimana
dengan kalian, tapi untukku, itu seperti membuang waktu dan rupiah.
Menyenangkan mungkin ketika kamu menjadi pusat perhatian untuk satu hari dalam
setahun, tapi cukup sampai disana saja kemeriahan itu. Esok hari orang-orang
mungkin sudah lupa dengan mu. Sudah tak akan kamu dapatkan jabat tangan ucapan
selamat yang disertai senyum palsu itu. Mereka akan kembali ke kesibukan
masing-masing. Kembali melupakan mu. Karena alasan inilah aku cenderung
menyembunyikan tanggal ulang tahunku. Tak perlu lah mereka repot berpura mengingat hari ulang tahunku,
berpura memberi selamat serta memberi doa. Aku tak butuh itu. Konsekuensinya,
setiap tahun aku hanya mendapat ucapan selamat paling banyak dari lima orang
teman yang memang mengingatnya. Tapi aku tidak ambil pusing. Aku terus menjaga
tradisi ini, termasuk merahasiakan ini ke kamu.
Hari itu aku
ingat betul, tepat ketika hari ulang tahunku berlaku, aku ada keperluan kuliah
yang cukup mendesak yang mengharuskan ku untuk berangkat pagi sekali. Saat itu
aku sedang memiliki hubungan spesial dengan kamu. Selesai urusanku, aku
bersikeras untuk menemuimu, karena menghabiskan hari spesial bersama seorang
yang spesial adalah impian bukan? Situasi saat itu kamu tidak sadar bahwa hari
itu adalah hari ulang tahunku. “Normalnya” aku pasti berharap sesuatu dari
kamu. Berharap kamu punya kejutan untuk aku. Tapi tentu aku tidak berharap.
Kecuali karena aku memang menghapus semua tanggal kelahiranku dari Internet,
aku memang hanya ingin menghabiskan hari dengan kamu. Tidak sedikitpun terbesit
amarah atau kekesalan, karena aku tahu kamu tidak tahu, dan aku maklum. Tahun
itu, hanya empat orang yang mengingat hari lahirku.
Aku memang tidak
peduli dengan tanggal ulang tahunku. Tapi untuk orang yang spesial, tentu aku
punya rencana. Rencana yang sangat sederhana memang. Namun untuk seorang yang
tidak pernah merayakan ulang tahun selama lima tahun terakhir, dan untuk
seorang yang sedang dikejar batas waktu, ini sudah merupakan kemewahan. Satu
hari sebelum, aku senyum sendiri membayangkan wajahmu yang berseri karna aku
ternyata tahu tanggal ulang tahunmu. Cukup mudah memang apabila ada buku
digital bernama Internet. Ketika hari yang ditunggu telah jatuh, ternyata mimpi
babu ku berbeda jauh dengan kenyataan. Kamu kecewa karena ketidakhadiran ragaku
di hadapanmu. Mata panah kekesalanmu kemudian kamu arahkan ke sahabat-sahabat
ku. SAHABAT-SAHABATKU! Dakwaan aku lebih suka menghabiskan waktu bersama mereka
mulai dituang. Darahku mulai mendidih hingga ke urat leher membacanya.
Pikiranku terpecah. Ku tengok ke belakangku, tidak ada seorang yang menusuk ku
dengan belati. Tapi sakit ini terasa hingga ke pusat jantung. Argumen-argumen
tidak berfaedah pun terlontar. Tinggal sesal yang tertinggal.
Kesalahanmu
adalah berharap tinggi pada ku yang merupakan manusia jelata. Kesalahanku
adalah manusia jelata sepertiku tidak sadar bahwa aku tidak akan pernah cukup
memenuhi mimpi seribu satu malam mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar