Senin, 30 Maret 2015

Anarchy at Cakung Station (Poetry)

I see you running from me fast
Is that necessary?
This heart beats fast every time you came across this mind
Like any train wouldn't catch up

I'm still here, thinking what's wrong
Clock ticking, but it doesn't matter
I got something to catch
My class, and you
You, the one who running fast
Leaving me here
Should i catch you?

My train arrives late
And it makes me think,
Am i too late for you?

I just don't get it
God is merciful. God is philanthropist
Giving me chance to step in the train every day
Unlike you
You make it as if i have a chance
Never have i been so wrong in my whole life
Keep up with your pace is just a pie in the sky

Waiting for a train, standing at the edge of the platform
Easy. I can do it all day
Waiting for you? You are a different case
One of my leg is already crumbling down withing first minutes

Am i the one to blame?
Could be. I haven't been in this situation for so long

By the time i'm going to blame myself, i have arrive, at my college
Seeing my close friends, share some laughs, attend the class, repeat
They make me feel comfortable
This is my place
With them, i could forget you all day, all night

Maybe they are just the ones i wanted
The one i needed
But hey, if you're coming,
This heart is an open door

For you




Rabu, 18 Maret 2015

Should i do it? What do you guys think?

     Againts all the odds, sepertinya gue dalam beberapa waktu ke depan akan aktif menulis lagi disini. Semua ini dikarenakan waktu kuliah gue hari selasa-kamis itu gabut setengah mampus. Daripada menghabiskan sesuatu yang mengurangi protein dalam tubuh, gue berpikir akan sangat baik untuk menghabiskan waktu gue disini, bercerita tentang apa saja yang gue pengen dan gue suka.
      Permasalahannya, gue engga tau harus mulai nulis apa. I mean, gue orangnya bacot. Gue bisa ngomong panjang lebar tentang apapun, asal gue mengerti dan yang paling penting pembicaraan tersebut memiliki topik yang jelas. Nah gue kehilangan poin kedua tersebut. Sebelumnya gue udah sempet nanya ke beberapa temen, akan hal apa sih yang mau kalian liat gue tulis. Dari beberapa masukan, mengerucut ke topik "bikin puisi" atau "ceritain tentang temen-temen yang punya kesan baik ke gue".
       What do you guys think? Should i make poetry of story about my friends one by one? Or should i do both? Leave the comments below to give your suggestion if you have time to do so!
       Anyway i can't guarantee that i will do it daily because exam week is just around the corner and i don't want to do it in rush just for quantity, but i'll do my best!

Senin, 16 Maret 2015

Life Lesson from Dad!

         Gue yakin, bahwa didalam setiap raga setiap pribadi kodrati memiliki semacam kode etik yang berlaku bagi diri sendiri. Kenapa gue bisa bilang begitu? Because i have that kind of thing in me. I'm not trying to be cocky, but i think everyone should. Here, gue mungkin bakal ngomongin beberapa kode etik atau prinsip hidup yang gue punya untuk ngejalanin kehidupan yang makin lama makin brutal ini. Buat gue, prinsip semacam ini penting, karena kalo lu gak punya sesuatu yang lu pegang teguh dalam hidup, lu gampang disetir sama orang, which is dangerous. Dangerous for yourself, and maybe dangerous for someone else.

        Prinsip hidup yang paling mendasar buat gue sebenernya adalah etika. Kalo etika lu bagus, sopan santun, gue rasa lu akan aman-aman aja di dunia, selain rajin ibadah tentunya. I'm not going to rant about ethics anymore, karna gue udah pernah nulis tentang etika di post sebelum ini. yang akan gue ceritakan kali ini (dan mungkin beberapa post kedepan) adalah prinsip hidup yang gue punya, yang gue pegang teguh hasil dari tindakan dan ucapan bokap gue.

        Hampir semua bapak/ayah/papi di dunia ini adalah heroes bagi anak-anaknya, dan gue yakin beberapa dari kalian mengamini statement tersebut. Hal ini juga berlaku buat gue. Gue melihat bokap gue merupakan orang yang berpendirian teguh, dan memiliki etika yang cukup strict. Hal ini wajar, karena bokap sering cerita bahwa beliau datang dari keluarga yang bisa dikatakan kelas ekonomi bawah pada jamannya. Orang tua beliau (which is kakek nenek gue) bukanlah orang yang "berpendidikan". Nenek gue hanya lulusan SMA, sedangkan kakek gue hanya punya ijazah menjahit. Harta pun tidak ada yang bisa diberikan kepada anak-anaknya sebagai bekal. Untuk itu, kakek gue selalu mendidik anak-anaknya (including my dad) untuk memiliki semacam kode etik dalam menjalani hidup, dan gue rasa itu berhasil.

       Inti ceritanya, tempo hari, hari sabtu gue lupa tanggal berapa, gue lagi di perjalanan bersama bokap dan kakak pertama gue. Di tengah jalan, bokap mendapat telepon dari temennya. Singkat cerita, temen bokap ini minta ketemuan mendadak satu jam dari saat itu. Gue yang saat itu bertindak sebagai supir, lantas ngebut dong. Ini masalah kerjaan gitu, dan gue yakin penting karena bokap gue langsung minta didahulukan dari kakak gue. Pas ngebut, bokap nyeletuk, "gausah ngebut nang nyetirnya, santai aja". Heran, gue tanya, "lah bukannya bapak ada janji sama orang sejam lagi? Nanti kalo gak kekejar gimana? Bokap cuma bisa semacam giggle dan bilang "Yah kalo emang gak kekejar mungkin emang bukan rejeki nya nang. Lagian, coba kamu pikir. Diluar sana orang banyak yang terburu-buru ngejar waktu takut terlambat untuk ketemu sama boss atau klien. Tapi pernah gak kamu liat, orang terburu-buru ngejar waktu takut terlambar shalat? Nah itu bapak gamau yang kayak gitu"

      Deg. Itu sekaligus menampar gue sih. Gue saat itu cuma bisa ngomong dalam hati "bener juga anjir". Sayangnya, mencoba tidak naif, saat ini itu baru menjadi bahan renungan buat gue. Tapi itu juga sekaligus mengubah cara pandang gue terhadap "mengejar waktu" sih, which is menjadi sesuatu yang gue pegang sebagai pedoman.