Prinsip hidup yang paling mendasar buat gue sebenernya adalah etika. Kalo etika lu bagus, sopan santun, gue rasa lu akan aman-aman aja di dunia, selain rajin ibadah tentunya. I'm not going to rant about ethics anymore, karna gue udah pernah nulis tentang etika di post sebelum ini. yang akan gue ceritakan kali ini (dan mungkin beberapa post kedepan) adalah prinsip hidup yang gue punya, yang gue pegang teguh hasil dari tindakan dan ucapan bokap gue.
Hampir semua bapak/ayah/papi di dunia ini adalah heroes bagi anak-anaknya, dan gue yakin beberapa dari kalian mengamini statement tersebut. Hal ini juga berlaku buat gue. Gue melihat bokap gue merupakan orang yang berpendirian teguh, dan memiliki etika yang cukup strict. Hal ini wajar, karena bokap sering cerita bahwa beliau datang dari keluarga yang bisa dikatakan kelas ekonomi bawah pada jamannya. Orang tua beliau (which is kakek nenek gue) bukanlah orang yang "berpendidikan". Nenek gue hanya lulusan SMA, sedangkan kakek gue hanya punya ijazah menjahit. Harta pun tidak ada yang bisa diberikan kepada anak-anaknya sebagai bekal. Untuk itu, kakek gue selalu mendidik anak-anaknya (including my dad) untuk memiliki semacam kode etik dalam menjalani hidup, dan gue rasa itu berhasil.
Inti ceritanya, tempo hari, hari sabtu gue lupa tanggal berapa, gue lagi di perjalanan bersama bokap dan kakak pertama gue. Di tengah jalan, bokap mendapat telepon dari temennya. Singkat cerita, temen bokap ini minta ketemuan mendadak satu jam dari saat itu. Gue yang saat itu bertindak sebagai supir, lantas ngebut dong. Ini masalah kerjaan gitu, dan gue yakin penting karena bokap gue langsung minta didahulukan dari kakak gue. Pas ngebut, bokap nyeletuk, "gausah ngebut nang nyetirnya, santai aja". Heran, gue tanya, "lah bukannya bapak ada janji sama orang sejam lagi? Nanti kalo gak kekejar gimana? Bokap cuma bisa semacam giggle dan bilang "Yah kalo emang gak kekejar mungkin emang bukan rejeki nya nang. Lagian, coba kamu pikir. Diluar sana orang banyak yang terburu-buru ngejar waktu takut terlambat untuk ketemu sama boss atau klien. Tapi pernah gak kamu liat, orang terburu-buru ngejar waktu takut terlambar shalat? Nah itu bapak gamau yang kayak gitu"
Deg. Itu sekaligus menampar gue sih. Gue saat itu cuma bisa ngomong dalam hati "bener juga anjir". Sayangnya, mencoba tidak naif, saat ini itu baru menjadi bahan renungan buat gue. Tapi itu juga sekaligus mengubah cara pandang gue terhadap "mengejar waktu" sih, which is menjadi sesuatu yang gue pegang sebagai pedoman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar