Rabu, 26 Agustus 2020

Jurnal, 26 Agustus 2020: Schrodinger Post: Antara Aku, Kamu, Dan Keterkaitan Semu

Akhir 2019 merupakan fase yang cukup berat buat ku. Fase tersebut adalah fase dimana gue telah kehilangan banyak. Kehilangan seseorang yang cukup dekat. Kehilangan kabar dari kerabat. Hingga kehilangan tujuan hidup. Tanpa bermaksud untuk berlebihan, saat itu keinginan untuk mengakhiri ini semua terbesit, namun aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan orang tua melihat anaknya mendahului mereka untuk bertemu sang pencipta. Setelah melalui pemikiran-pemikiran yang buruk, akhirnya aku memutuskan untuk mencari tujuan hidupku. Mencari alasan kuat untuk terus bertahan hidup.

Aku percaya bahwa setiap orang memiliki tujuan dari eksistensinya masing-masing. Seperti jargon yang sudah sering kita dengar, sebagian besar orang ada yang memiliki tujuan eksistensi berupa harta, tahta wanita. Ada juga yang pasti mengatakan bahwa tujuan eksistensinya adalah ridho Tuhan. Bebas aja, selama itu tidak menganggu orang lain. Berbeda dari kebanyakan orang, sebagai orang yang ekstrovert ternyata tujuan eksistensi ku adalah membagi momen-momen penting bersama orang yang berarti buat ku. Entah itu keluarga, teman, sahabat, atau pasangan.

Pasangan.

Ayat suci telah menjamin bahwa setiap manusia dilahirkan berpasangan. Tapi bukan berarti begitu saja akan dipertemukan. Adam dan Hawa yang memang sudah ditakdirkan berpasangan pun mengeluarkan segala daya dan upaya untuk bertemu kembali di dunia setelah ditendang dari surga. Lantas dengan siapa aku dipasangkan?

Hanya satu orang yang terlintas di pikiran ku. Seseorang yang pada kesempatan sebelumnya memang pernah mengisi pikiran ku. Ikan memang banyak di laut, tapi hanya dia yang menarik perhatian ku. Aku cerita niat kontroversial ku ini ke kerabat. Kedua kerabat ku pun menggerutu, seakan tidak ada pilihan yang lain saja. Bahkan salah satu sahabat pernah mengancam bahwa kalau aku sampai berakhir bersama dia, sahabat ku itu tidak akan menghadiri pernikahanku kelak. Sesuatu yang cukup membuat ku berpikir ulang.

Namun ya bagaimana. Bersama nya memang tidak lama, namun semakin berumur aku semakin bisa menghargai apa yang dia lakukan saat itu. Hanya dia yang bisa menertawakan lelucon ku yang sebenarnya tidak lucu. Entah memang menurut dia itu benar lucu atau dia hanya tertawa untuk menghargai lelucon ku? Keduanya aku menikmati. Aku menikmati waktu ku bersamanya.

Akhirnya keputusan ku bulat, aku mau kembali. Pertanyaannya kemudian apakah ia mau? Bukan wewenangku untuk memaksa, memangnya aku siapa? Aku pun berniat untuk berdamai dengan masa lalu ku dan terbuka kepadanya. Sesuatu yang tidak aku lakukan saat masih bersamanya. Tapi jika dengan menjadi terbuka lantas membuat ia semakin menjauh, bagaimana..? Aku telah mengutarakan apa yang aku mau. Cukup membuat ia terkejut sepertinya. Mungkin karena memang aku sudah tidak ada di kepala dan perasaannya. Hingga kini aku pun tidak tahu. Aku sudah mencoba yang aku bisa, namun sepertinya nihil. Padahal aku sudah bersiap untuk kehilangan sahabat ku untuk kembali bersama dia. Pengorbanan terbesar yang mungkin tidak akan terjadi.

Atau belum terjadi?