Minggu, 22 Maret 2020

Jurnal, March 22nd 2020: Mencoba Menelaah Kebijakan Fiskal Nasional Menghadapi COVID-19

Dari judulnya, mungkin kalian akan mengira bahwa ini adalah tulisan yang ditulis secara holistik, komprehensif, dan dilakukan dengan kehati-hatian. Nyatanya sih engga, ini gue tulis karna gue sedikit paham dan ga paham soal ini, tapi ya random jadi gue tulis aja, daripada lupa kan. Dengan berdasarkan ilmu gue yang cetek soal keuangan, mari kita mulai mengada-ngada.

Seperti yang kalian tau, kita sedang mengalami suatu krisis global, yakni Pandemik COVID-19. Dampak dari pandemik ini ga main-main, mulai dari menelan korban jiwa, sampai mengancam keberlangsungan dari suatu pemerintahan. Lebay? Gue rasa engga. Kita udah sama-sama tau bahwa Wuhan sempat di-lockdown, dan hingga saat ini Italia masih dalam kondisi National Lockdown (you might want to check on that again). Dampak lebih lanjutnya apa? Yaaa salah satunya adalah lesunya perekonomian di sana. Dan ini merupakan konsekuensi langsung dari situasi tersebut, karena itu berarti warga Italia akan lebih berhemat dalam mengelola uangnya

Lesunya perekonomian ini lah yang kemudian ditakuti oleh Pemerintah Indonesia. Kalau kalian perhatikan secara baik-baik, saat ini arah kebijakan ekonomi Indonesia adalah ingin meningkatkan investasi di Indonesia, baik itu investasi asing maupun domestik. Dengan adanya pandemi ini, otomatis investor akan lebih suka untuk mengalokasikan uangnya untuk keperluan yang lebih darurat, atau menyimpan uangnya di tabungan. Kalau calon investor lebih suka untuk menyimpan uangnya atau investor eksisting mengambil investasinya dari Indonesia, hal tersebut dapat mengakibatkan perekonomian Indonesia collapse.

Dalam upaya mitigasi hal yang tidak diinginkan tersebut, pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan bahwa potongan pajak penghasilan yang selama ini dibayarkan para pekerja akan ditanggung pemerintah, sehingga ibarat kata kita semua mengalami "kenaikan gaji" sementara selama enam bulan dimulai dari bulan April (again, you might want to check the fact here, because as I'm writing, I don't check that lol). Upaya ini dilakukan dengan harapan semakin banyak penghasilan yang didapat oleh masyarakat maka akan semakin besar daya beli masyarakat, dan masyarakat akan membelanjakan uangnya. Bagaimana cara memastikan bahwa masyarakat akan membelanjakan uangnya? Yaaa kayaknya sih salah satu caranya adalah dengan menurunkan suku bunga BI (entah itu repo-rate atau apa gue kurang paham). Intinya, penurunan suku bunga ini dilakukan agar masyarakat memiliki kecenderungan untuk membelanjakan uangnya dibanding naro uang lebih itu di bank.

Mungkin menanggapi hal tersebut masyarakat akan suka ria dan bahagia. Iyalah, siapa juga yang gasuka naik gaji?? Yaaa walaupun cuma sementara sih. Namun di balik itu semua, gue pribadi punya pertanyaan yang gue sampe sekarang belom nemu jawaban pastinya. Gini, pajak penghasilan itu merupakan salah satu komponen yang membentuk APBN. APBN itu sendiri memiliki beberapa komponen pembentuk, yakni pajak, penerimaan negara bukan pajak (selanjutnya disebut PNBP), serta pinjaman (kalo gasalah). Sekarang, salah satu dari komponen pembentuk APBN yakni PPh dihilangkan dalam kurun waktu enam bulan. Sadar ga berapa triliun lubang yang ditinggalkan oleh PPh ini? Belum lagi berapa dana yang keluar dari APBN untuk menanggulangi pandemi ini. Menurut gue, APBN tahun ini udah cukup berdarah lah, dan APBN tahun depan pun terancam. Ada beberapa outcome yang mungkin akan terjadi terhadap APBN tahun depan, yakni: APBN tahun depan akan sangat kecil dibandingkan dengan tahun ini; atau pemerintah akan berusaha mendapatkan dana tambahan dari komponen lain. Nah dari mana nih dana tambahan ini? Kalau kalian lihat perincian dari APBN, PNBP itu hanya menyumbang tidak lebih dari 10% dari total APBN. Jadi, kayaknya kemungkinan kecil banget kalo pemerintah mau nambel kehilangan itu dengan bergantung pada PNBP semata. Trus dari mana dong? Yap, you guess it right. Pinjaman atau kalian lebih kenal dengan istilah utang. Ya, ini berarti akan ada kemungkinan pemerintah akan menambah utang mereka, dan kalau kalian baca berita, IMF udah mempersiapkan dana yang dapat dipinjam oleh negara-negara yang mengalami pandemi COVID-19. Namun demikian, masyarakat perlu paham bahwa yang namanya utang itu bukan merupakan suatu masalah. Yang menjadi masalah adalah apabila utang tersebut tidak dialokasikan bagi hal-hal yang produktif bagi Negara.

Jadi intinya, nanti kalo misalnya Indonesia berutang lagi, kaga perlu heboh lah, ga perlu sampe turun ke jalan.

Kamis, 19 Maret 2020

Review Singkat Buku Elon Musk: Tesla, SpaceX, and The Quest for a Fantastic Future by Ashlee Vance

     Seperti yang sudah gue ceritain sebelumnya, ada satu alasan yang ngebuat gue memilih buku ini dalam memulai tahapan baru dalam hidup gue. Pada proses pemilihannya, sebenernya gue agak ragu, karena buku ini terhitung tebal, dan gue kadang punya penyakit cepat bosan terhadap suatu buku, apalagi buku kuliah. Namun gue akhirnya tetep beli buku ini karena emang gue pengen tau nih, apa bener dia adalah penyelamat umat manusia dari kemusnahan?

     Elon Musk: Tesla, SpaceX, and The Quest for a Fantastic Future menceritakan perjalanan hidup seorang Elon Reeve Musk, imigran asal Afrika Selatan yang kemudian berhasil menjadi orang yang sangat berpengaruh bagi umat. Buku ini menceritakan lumayan detil tentang masa kecil yang cukup berat bagi seorang Elon Musk, karena memang Elon terlahir jenius dan temen sepantaran dia gaada yang bisa keep up sama dia dan cenderung menganggap dia aneh. Karena temen-temennya nganggep dia aneh, dia malah jadi gapunya temen, and he's perfectly fine with that karena Elon dari kecil udah punya dunia nya sendiri, dan dari kecil dia udah obsessed sama yang namanya roket. Lebih lanjut, di dalam buku ini juga dijelaskan fakta dibalik dibangunnya PayPal, bahwa ternyata PayPal itu bukan 100% dibangun oleh Elon. Selain jadi tau gimana caranya seorang Elon Musk menjalankan perusahaan dari 0 dan gimana jatuh bangunnya dia, dengan membaca buku ini juga lu jadi tau bahwa yang dijual oleh seorang Elon Musk bukanlah sekedar produk, melainkan gaya hidup. Terakhir, di buku ini juga lu bakal paham bahwa Elon Musk itu udah ngorbanin apa yang dia punya demi dunia yang lebih ramah lingkungan.

     Banyak banget pelajaran yang bisa gue ambil dari buku ini. Yang paling utama, gue jadi paham bahwa untuk bisa jadi pengusaha sukses sekaliber Elon Musk, bakat itu emang pengaruh banget sama keberhasilan lu di masa depan, dan ini terbukti di beberapa buku yang gue baca setelah buku ini. Tentunya buku ini adalah buku yang recommended, karena udah jelas banget di sampul buku nya ditulis New York Times Bestseller. Lebih dari itu, dari buku ini lu bisa belajar what it takes to be a successful entepreneur, what kind of trait do you need to be successful like Elon Musk.

8/10

Senin, 16 Maret 2020

Jurnal, March 16th 2020: Pernyataan Sikap Terhadap Pembatasan Transportasi Publik

Pertama kali gue ngedenger keputusan itu, jujur gue langsung geli sendiri. Ini orang ga mikir panjang apa gimana sih?

Kali ini gue bakalan nulis sesuatu yang sangat berbeda dari biasanya. Kalo yang biasanya gue mellow atau bahas buku, sekarang gue mau numpahin kekesalan gue sama keputusan terbaru dari si gubernur se-iman, Anies Baswedan. Seperti yang kita semua tau, saat ini Corona lagi merebak di Jakarta. Masyarakat dianjurkan untuk tidak berada di keramaian, perbanyak cuci tangan, dan sangat kurangi menyentuh mata, hidung, dan mulut untuk mencegah penyebaran yang lebih luas. Menanggapi hal ini, apa keputusan gubernur? Pak Anies kemudian menganjurkan bekerja di rumah. Lebih radikal lagi, Pak Anies kemudian membatasi pelayanan transportasi publik di Jakarta (MRT, KRL, LRT, TJ). Ini gue denger peraturan ini pertama kali dicetuskan aja udah ga paham.

Mungkin biar adil kita coba pahami maksud Pak Anies ya. Mungkin maksud beliau, dengan sudah dianjurkannya WFH (Work from home), jumlah pengguna transportasi publik akan berkurang, dan dengan armada pun sudah seharusnya dikurangi. Pembatasan transportasi publik mungkin juga dimaksudkan agar masyarakat jadi malas untuk keluar rumah, karena memang Pak Gubernur juga sudah menutup beberapa tempat atraksi publik. Kebijakan ini diimplementasikan dengan harapan jarak social distancing semakin tinggi. Tapi menurut gue justru disini blundernya Pak Anies.

Kita telaah dari awal ya. Pak Anies sebagai Gubernur memang menganjurkan kepada mereka yang bekerja untuk WFH. Dari ini bisa dipahami bahwa Pak Anies selaku Gubernur paham bahwa beliau tidak bisa memaksakan perusahaan-perusahaan untuk menghentikan kegiatan mereka, karena beliau tidak punya wewenang untuk itu. Selain itu, penghentian kegiatan perusahaan pun akan berdampak pada melemahnya perputaran roda perekonomian, sesuatu yang dihindari oleh pemerintah. Akhirnya apa? Masih banyak perusahaan yang belum mau/tidak bisa menerapkan kebijakan WFH, sehingga jumlah pekerja yang berangkat kerja tidak berkurang secara signifikan. Ibarat kata, jumlah pengguna transportasi publik tidak berkurang secara signifikan, namun ketersediaan transportasi publik langsung dikurangi secara radikal. Sepengetahuan gue, jumlah armada TJ, MRT, dan LRT dikurangi. Durasi tunggu antar armada pun diperpanjang (MRT yang awalnya waktu tunggu hanya lima menit menjadi 20 menit). Sudah begitu, jumlah pelanggan yang boleh berada di peron pun dibatasi, dengan tujuan agar terciptanya social distancing yang tinggi. Justru ini sangat blunder. Dengan pembatasan yang sedemikian rupa, bisa kita lihat hari ini antrean pelanggan dari transportasi publik malah mengular, yang menyebabkan terciptanya social distancing yang rendah. Sudah begitu, karena armada yang sedikit, penumpang pun berdesak-desakkan di dalam armada. Durasi penumpang berdesak-desakkan pun semakin lama karena hari ini kebijakan ganjil-genap ditiadakan, mengakibatkan banyaknya warga yang bepergian menggunakan kendaraan pribadi. Social distancing memang tercipta di peron, tapi di luar peron dan di dalam armada? Kacau!

Menurut gue kebijakan yang diimplementasikan oleh Pak Anies ini kurang tepat, karena seharusnya kebijakan pembatasan pelayanan transportasi publik ini didahului dengan penerapan situasi lockdown, situasi yang secara arah kebijakan dari pemerintah yang mengutamakan berputarnya roda ekonomi menjadi tidak dapat dilakukan. Menurut gue, apabila opsi lockdown tidak dapat ditempuh, justru seharusnya armada dari transportasi publik ini dimaksimalkan penggunaannya: kerahkan semua sumber daya yang dimiliki. Dengan mengerahkan semua sumber daya yang dimiliki, menurut gue justru social distancing akan tercipta baik itu di luar peron, di peron, dan di dalam armada itu sendiri. Gampang nya begini, semakin banyak armada, maka waktu tunggu di peron akan semakin sedikit, dan penumpang yang diangkut di tiap armada akan semakin sedikit pula. Memang ini akan cukup memakan banyak tenaga dan uang, tapi gue ragu itu adalah prioritas untuk sekarang. Kemudian kita juga harus sadar bahwa SDM yang bekerja bagi transportasi publik ini memiliki risiko yang lebih besar untuk terpapar Corona. Untuk itu berikan pengamanan yang ketat kepada mereka dengan memeriksa kondisi mereka secara rutin dan memberikan perlindungan yang bersifat preventive kepada mereka. Lebih lanjut, berikan insentif kepada mereka yang mau secara sukarela untuk bekerja di kondisi seperti ini. Gue rasa itu akan lebih efektif untuk mencegah penyebaran Corona dibandingkan dengan kebijakan yang sekarang diterapkan. Ini akan memakan banyak biaya, tapi kesehatan masyarakat harusnya selalu diutamakan.

Skenario ini tentunya akan berbeda kalau Gubernur dapat memaksakan mayoritas penyedia kerja untuk menerapkan WFH bagi para pekerjanya.

Gue sadar kalo Pak Anies ini banyak yang bisikin ketika membuat kebijakan. Semoga ada pembisik Pak Anies yang ngebaca ini dan mempertimbangkan pendapat gue lah.

Kalau ada argumen yang berlawanan dengan argumen gue, yuk berargumen secara sehat di kolom komen! :)