Aneh bukan? Aku yang tiga bulan lalu tidak suka membaca, saat ini menggebu untuk membuat ulasan mengenai sebuah buku.
Buku yang kali ini aku baca adalah TAN, karangan Hendri Teja. Ini adalah sebuah novel sejarah yang mengisahkan tentang kehidupan seorang pahlawan revolusi nasional bernama Tuan Ibrahim, atau lebih dikenal dengan Tan Malaka. Kalau kupingmu langsung memberikan reaksi saat mendengar nama itu, selamat, yakinlah Anda lebih terpelajar dariku. Karena jujur saja, seperti nama Pramoedya Ananta Toer, aku sekedar tahu nama Tan Malaka. Tidak lebih. Karena mungkin aku pula tidak peduli. Siapa dia, apa perjuangan dia, bagaiman dia meninggal, bukan urusanku. Saat itu. Sampai ketika aku baca novel ini, aku sadar betapa kecilnya aku. Aku lupa betapa menyenangkannya membaca. Aku lupa bahwa membaca adalah salah satu perintah Tuhan yang paling pertama.Novel ini adalah novel yang sebenarnya sudah lumayan lama terbit, menceritakan tentang kehidupan seorang Hindia kelahiran Pantai Barat Sumatera bernama Tuan Ibrahim, atau Tan Malaka, dari masa ia remaja hingga ia diasingkan. Novel ini bukan sekedar menguak sejarah bagaimana seseorang berjuang untuk kemerdekaan Hindia. Kecuali itu, di dalam novel ini juga disisipkan tentang lugunya Tan muda dalam menghadapai perempuan yang kemudian menjadi perempuan pertama yang mengisi relung hatinya.
Tidak selesai sampai disitu, novel ini juga membuka mataku, bahwa sebenarnya di dalam perjuangan yang selalu dipegang teguh oleh Tan, terdapat jasa seorang pria Nederland. Keteguhan perjuangan Tan demi kemerdekaan Hindia ini terbukti dengan pengorbanan beliau meninggalkan tanah adatnya, yang berakibat beliau dicampakkan oleh masyarakat adatnya sendiri. Mataku bahkan makin terbuka ketika novel ini mengajarkan ku relasi antara paham Komunisme, Sosialisme, dan Theisme.
Novel ini adalah jenis novel yang membuat darahmu berdesir setiap kali membalik halaman. Adat, Agama, Perjuangan, Romansa, Pengkhianatan, dan Pertentangan ada dalam novel ini. Menurutku, kau melewatkan sesuatu yang besar jika memilih untuk tidak membaca novel ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar