Rabu, 15 Februari 2017

Jurnal, February 16th 2017: Hilang makna

     Ada satu hal yang aku lihat sebagai hal yang lucu. Tidak cukup untuk membuatku tertawa, namun bagiku itu membuat tersenyum. Senyum kecut. Suatu hari aku pernah memilih satu kata dalam kamus bahasa pergaulan sehari-hari. Aku bayangkan kata itu. Aku resapi dalam-dalam maknanya. Terus hingga kata tersebut tidak lagi memiliki makna. Ada nilai yang hilang kejap itu. Lucu bukan? Kata yang terus aku pahami, aku teriakkan dalam hati, lambat laun hilang arti.

     Saat kehilanganmu, sulit rasanya untuk tidak memikirkanmu. Hari pertama, kedua, ketiga memang terasa seperti narapidana yang baru menghirup udara kebebasan. Hari berjalan begitu cepat karna aku menikmatinya. Sampai pada dua bulan terakhir, hampir tiada hari tanpa kamu di benakku. Apakah ini pertanda? Ataukah hanya panggilan kehampaan? Aku mulai kehilangan kewarasanku. Aku layaknya pengguna obat terlarang yang candu akan bayangmu. Namun ingatanku bahwa aku tidak pantas bagi mu selalu berhasil membumikan akalku.

     Sampai suatu hari kuputuskan untuk membuat tulisan tentangmu. Bodoh memang, tapi ini bukanlah dosa. Ini hanyalah pikiran yang tak terkata, yang tiada seorangpun pantas menanggungnya. Kadang aku berpikir bahwa ini hanya akan menuntunku ke jurang paling dalam bernama masa lalu. Namun siapa sangka, semakin aku membayangkan mu, semakin aku menulis tentangmu, aku semakin berhasil menyibak kabut kenangan itu. Menulis mewaraskanku.

     Sebisa mungkin aku akan terus menulis. Sekali lagi, bukan untuk menghilangkan bayangmu dari ingatanku. Tetapi untuk menjaga keutuhan akal sehatku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar