Selasa, 06 Oktober 2020

Day 5 Writing Challenge: Your Parents

         Orang tua gue merupakan salah satu orang tua yang cukup loose tapi di satu sisi cukup strict. Cukup loose dalam konteks orang tua gue ga pernah maksain gue untuk jadi seseorang. Ga pernah maksa gue untuk belajar, ga pernah maksa gue untuk berprestasi. Orang tua gue ga pernah peduli sama nilai ujian. Buat mereka, yang penting gue bahagia. Yang penting kebutuhan gue tercukupi. Dan yang penting gue jadi orang yang jujur dan benar. Itu saja bagi mereka sudah cukup. Walopun memang nyokap gue beberapa kali nyuruh gue belajar, nyuruh jadi dokter dan lain-lain, tapi itu tidak pernah dipaksakan. Hanya sebatas celotehan seorang ibu saja, yang mana harusnya nyokap gue sadar bahwa kemampuan otak gue gak nyampe untuk jadi dokter.

        Yang unik dari keduanya adalah keduanya datang dari keluarga yang sangat kontras. Nyokap datang dari keluarga yang cukup berada di zamannya. Well yaa mungkin bukan yang sangat berada, tapi tercukupi lah. Kakek dari nyokap dulu bekerja di PT Pos Indonesia kalo gasalah, sedangan nenek dari nyokap itu kerja di Kimia Farma. Itu nyokap, sedangkan bokap datang dari keluarga yang bisa dibilang hidup sulit dari segi ekonomi. Kakek dari bokap hanya seorang juru ketik di perusahaan listrik negara, sedangkan nenek dari bokap bukanlah seorang yang berpendidikan. Mata pencaharian dari nenek gue ini bisa dibilang ya masak pisang goreng untuk kemudian titip di jual di warung. Sangat kontras bukan? Kekontrasan ini juga yang ngebuat bokap dan nyokap sangat berbeda dalam membesarkan anak-anaknya. Bokap gue karena datang dari keluarga yang kekurangan, maka dia ga mau sampe kebutuhan anaknya ada yang tidak terpenuhi (re: hambur). Sedangkan nyokap karna datang dari keluarga mampu, dia ingin anak-anaknya lebih bisa ngatur pengeluarannya (re: pelit). Pada dasarnya kepribadian keduanya sangat bertolak belakang.

        Walaupun keduanya dari keluarga yang strata sosialnya berbeda, tapi mereka sama-sama strict kalau soal ibadah, dengan pendekatannya masing-masing. Nyokap lebih agresif untuk nyuruh anaknya sembahyang berjamaah, sedangan bokap sudah lebih sadar bahwa di umur gue yang sekarang ini ibadah gue udah jadi tanggung jawab gue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar